Ukhuwah dan Kunci Kebaikan

Satu Perjuangan, ukhuwah dan salam

Ukhuwah bukan hanya sekedar kata-kata indah dalam sms-sms atau pembicaraan kita, namun kenyataannya kita masih jauh dari konsep ukhuwah yang indah itu.

Ukhuwah bukan sebuah “basa-basi”. Ukhuwah bermula dari kejujuran hati kita, bermula niat kita saling mencintai karena Allah

Ketika salam hanya ter-tebar pada “segolongan tertentu kaum muslimin”

Ketika salam hanya diperuntukkan bagi “ikhwan” yang tak ishbal dan berjanggut saja  atau “akhwat” yang berkerudung lebar saja.

Ketika “kasih sayang mesra salam karena Allah” amat kelu dan malas kita mulai menebarkannya

Ketika salam hanya diperuntukkan bagi para dai, dan sangat janggal bagi para “muslim yang awam”

Cobalah buka hati dan pikiran kita, sadari kekhilafan ini wahai para dai.

Tanyakan pada hati kita, apa yang kita perjuangankan selama ini???

“bukan fikrah partai, bukan fikrah sebuah jamaah yang taklid buta pada prinsip-prinsip pendirinya, bukan fikrah hizb-hizb pemecah belah dan pembuat bingung umat Islam”

“yang seharusnya kita perjuangkan adalah Fikrah yang selamat (firqotunnajiyyah) yakni fikrah Rosulullah SAW dan para sahabatnya, fikrah yang adil bagi setiap muslim, fikrah para salaf dalam memandang hakikat hidup dan mati, fikrah para ulama hadits yang netral, yang non-hizbiyun, non-partai

Mari kita simak dalil-dalil dari alquran dan hadits berikut ini

Kenal-Mengenal terhadap Sesama Insan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetetahui lagi Maha Mengenal.”

Al-Hujurat, 49: 13

Bersaudara karena Allah

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (11) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Al-Hujurat, 49: 10-12

Tersenyum

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ .

Dari Abu Dzar, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah, ajakanmu kepada kebaikan dan pencegahanmu terhadap keburukan adalah sedekah, petunjukmu kepada orang yang tersesat yang bertanya kepadamu adalah sedekah, penyingkiranmu akan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah, penuanganmu dari bejanamu kepada bejana saudaramu adalah sedekah.”

HR at-Tirmidzi (1956). Disahkan al-Albani dalam ash-Shahihah (II: 572).

Menyebarkan Salam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا أَنْتُمْ فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ وَشُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ عَنْ أَبِيهِ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَالْبَرَاءِ وَأنَسٍ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Demi Dzat yang dirinya berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang jika kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

HR at-Tirmidzi (2688)

إن السلام اسم من أسماء الله تعالى ، وضعه في الأرض ، فأفشوا السلام بينكم .

“Sesungguhnya as-Salam (Maha Pemberi Keselamatan) adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang Maha Tinggi yang diletakkan-Nya di bumi. Maka sebarkanlah salah di antara kalian.”

Ash-Shahihah (I: 184)

يا أيها الناس ! أفشوا السلام ، وأطعموا الطعام ، وصلوا الأرحام ، وصلوا بالليل والناس نيام ؛ تدخلوا الجنة بسلام .

“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makan (yang membutuhkan), sambunglah kekerabatan, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan memasuki surga dengan selamat.”

Ash-Shahihah (II: 569)

اعبدوا الرحمن ، وأطعموا الطعام ، وأفشوا السلام ؛ تدخلوا الجنة بسلام .

“Sembahlah Yang Maha Pengasih, berikanlah makan, sebarkanlah salam, (niscaya) kalian akan masuk surga dengan selamat.”

Ash-Shahihah (II: 571)

أطعموا الطعام ، وأفشوا السلام ، تورثوا الجنان .

“Berikanlah makanan dan sebarkanlah salam, (niscaya) kalian akan mewarisi surga.”

Ash-Shahihah (III: 1466)

أفشوا السلام تسلموا .

“Sebarkanlah salam, (niscaya) kalian akan selamat.”

Ash-Shahihah (III: 1493)

أفشوا السلام ، وأطعموا الطعام ، وكونوا إخوانا كما أمركم الله .

“Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan jadilah kalian bersaudara sebagaimana telah diperintahkan Allah kepada kalian.”

Ash-Shahihah (IV: 1501)

Memberi Salam

عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” حق المسلم على المسلم ست ” . قيل: وما هي [ يا رسول الله ] ؟ قال: ” إذا لقيته فسلم عليه ، وإذا دعاك فأجبه ، وإذا استنصحك فانصح له ، وإذا عطس فحمد الله فشمتهن وإذا مرض فعده ، وإذا مات فاصحبه ( وفي الرواية الأخرى: فاتبعه ) “

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam.” Ada yang bertanya: “Dan apakah itu [wahai Rasulullah]?” Beliau menjawab: “Memberi salam jika berjumpa dengannya, memenuhi undangannya jika ia mengundangmu, menasehatinya jika ia memintaimu nasehat, mendoakannya jika ia bersin kemudian memuji Allah, menjenguknya jika ia sakit, dan melayatnya (dan dalam riwayat lain: mengiringi jenazahnya) jika ia meninggal.”

HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad (991). Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Adab al-Mufrad (766).

Keutamaan yang Memulainya

Dari Abu Umamah, ia telah berkata: Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah! Dua orang lelaki bertemu, siapa di antara keduanya yang memulai memberi salam?” Maka beliau menjawab: “Yang paling utama dari keduanya menurut Allah.”

HR at-Tirmidzi (2694), Kitab Permohonan Izin dan Adab dari Rasulullah, Pasal Dalil tentang Keutamaan Orang yang Memulai Memberi Salam. Beliau berkata: “Ini adalah hadits hasan”.

Dari Abu Umamah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya manusia yang paling utama menurut Allah [Ta'ala] adalah yang paling awal (dari mereka dalam) memberi salam.”

HR Abu Dawud (5197), Kitab Adab, Pasal Tentang Keutamaan Orang yang Memulai Memberi Salam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (VII: 3382), Takhrij al-Misykah (III: 4646), Shahih at-Targhib (III: 2703), dan Shahih al-Jami (I: 2011).

Menjawab Salam Sepadan atau Lebih Baik

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86)

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

An-Nisa, 4: 86

خمس من حق المسلم على المسلم: رد التحية ، وإجابة الدعوة ، وشهود الجنازة ، وعيادة المريض ، وتشميت العاطس إذا حمد الله .

“Lima kewajiban seorang muslim tehadap muslim yang lain: menjawab salam, memenuhi undangan, melayat jenazah, menjenguk orang sakit, dan mendoakan orang yang bersin jika memuji Allah.”

Ash-Shahihah (IV: 1832)

Hadiah-Menghadiahi

عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” تهادوا تحابوا ” .

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Hadiah-menghadiahilah kalian, (niscaya) kalian akan saling mencintai.”

HR al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (594). Dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad (463), al-Irwa (1601), dan Shahih al-Jami (I: 3004).

Empati kepada Saudara

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Anas radhiyallahu anhu, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Tidak sempurna iman salah satu dari kalian sehingga ia: cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri (berempati bagi saudaranya). “

HR al-Bukhari (13)

Sikap terhadap yang Berbeda Usia

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua.”

Ash-Shahihah (V: 2196)

Betapa banyak kita temui anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita untuk menyebarkan salam. Sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Beliau pun ditanya, “Apa saja, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam kepadanya. Jika dia memanggilmu, penuhi panggilannya. Jika dia meminta nasihat kepadamu, berikan nasihat kepadanya. Jika dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia1. Jika dia sakit, jenguklah dia; dan jika dia meninggal, iringkanlah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)

Dinukilkan pula oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan, dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Dengan menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan antara kaum muslimin, serta menampakkan syi’ar mereka yang berbeda dengan para pemeluk agama lain. Di samping itu, di dalamnya juga terdapat latihan bagi jiwa seseorang untuk senantiasa berendah diri dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 2/35)

Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menukilkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوْا

“Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 604: hasan)

Maksudnya di sini, kalian akan selamat dari sikap saling menjauh dan pemutusan hubungan, serta akan langgeng rasa saling cinta di antara kalian. Hati kalian pun akan bersatu, dan hilanglah permusuhan serta pertikaian. (Faidhul Qadir, 2/22)

‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

“Ibadahilah Ar-Rahman, berikan makanan dan sebarkan salam, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. At-Tirmidzi no. 1855, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: shahih)

Banyak nukilan ucapan para salaf kita yang shalih yang menunjukkan keutamaan mengucapkan salam. Di antaranya dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ السَّلاَمَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَضَعَهُ اللهُ فِي اْلأَرْضِ، فَأَفْشُوْهُ بَيْنَكُمْ، إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا سَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ، لِأَنَّهُ ذَكَّرَهُمُ السَّلاَمَ، وَإِنْ لَمْ يُرَدَّ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَأَطْيَبُ

“Sesungguhnya As-Salam adalah salah satu nama Allah yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian. Sesungguhnya bila seseorang mengucapkan salam kepada suatu kaum, lalu mereka menjawab salamnya, maka dia memiliki keutamaan derajat di atas mereka karena dia telah mengingatkan mereka dengan salam. Dan bila tidak dijawab salamnya, maka akan dijawab oleh makhluk yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 793: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ

“Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 795: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Setelah mengetahui keutamaan amalan ini serta pentingnya dalam kehidupan masyarakat muslimin, tentu tak layak bila kita remehkan. Lebih-lebih berkaitan dengan pendidikan anak-anak kita. Semenjak awal mestinya mereka dikenalkan dan dibiasakan dengan ucapan salam sebagaimana yang diajarkan oleh syariat ini.

Bagaimana mungkin akan kita biarkan anak-anak kita saling mengucapkan salam atau melontarkan sapaan dengan ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bahkan mengadopsi dari kebiasaan orang-orang kafir? Betapa banyak kaum muslimin yang masih membiasakan anak-anak mereka ketika berpisah melambaikan tangan sambil mengatakan, “Daaag!” Atau ketika bertemu dengan anak-anaknya dia menyapa, “Halo, Sayang!” Begitu pula si anak akan menjawab, “Halo, Papa! Halo, Mama!”

Betapa banyak itu terjadi, dan masih banyak pula gambaran yang lain. Sementara contoh yang begitu gamblang kita dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau biasa menyapa dan menyampaikan salam kepada anak-anak para shahabat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghabiskan masa kecilnya dalam bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menceritakan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan anak-anak kecil lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Muslim no. 2168)

Peristiwa yang disaksikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ini membekas dalam dirinya, sehingga Anas pun melakukannya. Diriwayatkan oleh Tsabit Al-Bunani rahimahullahu, bahwa dia pernah berjalan bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, melewati anak-anak kecil. Lalu Anas mengucapkan salam kepada mereka, dan mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu biasa melakukannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini diikuti pula oleh sahabat yang lainnya. Diceritakan oleh ‘Anbasah bin ‘Ammar rahimahullahu:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ فِي الكُتَّابِ

“Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar memberi salam kepada anak-anak kecil di kuttab2.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 797: shahihul isnad)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan tentang hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas: “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi salam kepada anak-anak yang berusia tamyiz.” (Syarh Shahih Muslim, 14/148)

Al-Hafizh rahimahullahu menukil penjelasan Ibnu Baththal rahimahullahu: “Dalam pemberian salam kepada anak-anak ini terdapat pendidikan terhadap adab-adab syariat. Di dalamnya terkandung pula sikap menjauhi kesombongan pada diri orang-orang yang besar, perilaku tawadhu’, serta lemah-lembut kepada orang-orang di sekitar.” (Fathul Bari, 11/40-41)

Memperdengarkan Ucapan Salam

Ketika menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan salamnya. Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid rahimahullahu:

أَتَيْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ، فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ

“Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 769: shahihul isnad)

Ucapan Salam ketika Datang dan Pergi

Anak-anak sudah semestinya dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika datang dan pergi. Perlu pula mereka mengetahui, ucapan salam yang lebih utama. Seseorang yang mengucapkan salam dengan sempurna tentu memiliki keutamaan.

Diceritakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ رَجُلاً مَرَّ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِيْ مَجْلِسٍ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالَ: عَشْرَ حَسَنَاتٍ. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَقَالَ: عِشْرُوْنَ حَسَنَةً. فَمَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ: ثَلاَثُوْنَ حَسَنَةً. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ وَلَمْ يُسَلِّمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَوْشَكَ مَا نَسِيَ صَاحِبُكُمْ، إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، مَا اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ

Ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang berada di suatu majelis. Orang itu berkata, “Assalamu ‘alaikum.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat sepuluh kebaikan.” Datang lagi seorang yang lain, lalu berkata, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi.” Beliau bersabda, “Dia mendapat duapuluh kebaikan.” Ada seorang lagi yang datang, lalu mengatakan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.” Beliau pun bersabda, “Dia mendapat tigapuluh kebaikan.” Kemudian ada seseorang yang bangkit meninggalkan majelis tanpa mengucapkan salam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Betapa cepatnya teman kalian itu lupa. Jika salah seorang di antara kalian mendatangi suatu majelis, hendaknya dia mengucapkan salam. Bila ingin duduk, hendaknya dia duduk. Bila dia pergi meninggalkan majelis, hendaknya mengucapkan salam. Tidaklah salam yang pertama lebih utama daripada salam yang akhir.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 757: shahih)

Yang Muda Memberi Salam pada yang Lebih Tua

Hendaknya anak-anak diajari pula agar memberi salam kepada orang yang lebih tua. Demikian yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

“Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. Al-Bukhari no.6234 dan Muslim no. 2160)

Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh rahimahullahu: “Pemberian salam orang yang lebih muda (kepada yang lebih tua, -pent.) disebabkan hak orang yang lebih tua. Karenanya orang yang lebih muda diperintahkan untuk memuliakannya serta bersikap rendah hati kepadanya.” (Fathul Bari, 11/22)

Mengucapkan Salam ketika Masuk Rumah

Hal yang tak patut ketinggalan dalam pembiasaan salam adalah mengucapkan salam ketika masuk rumah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةً طَيِِّبَةً

“Apabila kalian memasuki rumah, maka ucapkanlah salam bagi diri kalian sebagai penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan.” (An-Nur: 61)

Yang dimaksudkan di sini, mencakup rumah miliknya maupun rumah orang lain, baik di rumah itu ada orang ataupun tidak. Makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka ucapkanlah salam bagi diri kalian”, hendaknya seseorang mengucapkan salam kepada yang lainnya. Karena kaum muslimin itu bagaikan satu individu, dari sisi saling cinta dan saling menyayangi serta mengasihi di antara mereka. Sehingga ucapan salam disyariatkan ketika memasuki semua rumah, tanpa dibedakan rumah yang satu dengan yang lain. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 575)

Dijelaskan pula oleh para pendahulu kita yang shalih, di antaranya Mujahid dan Qatadah, “Apabila engkau masuk rumah untuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. Apabila engkau masuk rumah yang tak berpenghuni, ucapkanlah: السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/431)

Ini perlu dibiasakan pada anak-anak, karena orang yang masuk rumah dengan mengucap salam memiliki keutamaan. Diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: (مِنْهَا) وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada tiga orang yang mendapat jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, (di antaranya) seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia mendapatkan jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2494, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih)

Menjawab Salam dengan yang Lebih Baik

Tak lepas dari permasalahan ini, anak-anak diajarkan pula cara menjawab salam sebagaimana dituntunkan oleh syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan:

وَإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا

“Dan apabila kalian diucapkan salam penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa)…” (An-Nisa`: 86)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan, “Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada kalian, balaslah dengan ucapan salam yang lebih utama daripada yang dia ucapkan, atau balaslah sebagaimana yang dia ucapkan. Sehingga membalas dengan menambah ucapan salam itu disunnahkan, dan membalas dengan ucapan yang sama itu diwajibkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/269)

Demikian yang semestinya dilakukan oleh setiap orangtua dalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula hendaknya yang ditempuh oleh seorang pengajar yang mendidik anak-anak. Dinasihatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Seorang pengajar apabila memasuki kelas hendaknya mengucapkan salam dengan mengatakan السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, dan hendaknya dia mengetahui bahwa ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan kepercayaan di antara murid, maupun antara pengajar dengan muridnya.”

Beliau menambahkan: “Tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat ‘selamat pagi’ atau ‘selamat sore’. Namun tidak mengapa bila setelah mengucapkan salam dia ucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti misalnya ‘Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini’, sehingga ucapan itu mengandung makna doa….” (Nida` ilal Murabbiyin wal Murabbiyat, hal. 17)

Disusun oleh Tim Redaksi Nikah

MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat dan karunia-Nya segala amalan shalih bisa terwujud dengan sempurna. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Dalam beribadah kepada Allah, seorang muslim tentu sangat mengharapkan kebaikan dari Allah. Ketika dia bersyukur, bersabar ataupun ketika bertaubat dari kesalahan, pasti kebaikanlah yang dituju. Inilah sesungguhnya niat ikhlas yang ada pada diri seorang muslim ketika melakukan suatu amalan. Dia hanya mengharapkan kebaikan dari Allah SWT, tidak dari selain-Nya.

Akan tetapi, niat ikhlas semata tidaklah cukup untuk memenuhi syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Selain ikhlas, tentu harus ada kesesuaian amal yang dilakukan dengan tuntunan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Inilah dua hal yang dikenal sebagai dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah SWT.

Dua syarat ini bukanlah syarat yang dibuat-buat oleh manusia. Akan tetapi lebih dari itu, dua syarat ini sesungguhnya didapatkan dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya SAW dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Di antara petunjuk wahyu akan syarat pertama, yaitu keikhlasan dalam beramal, adalah firman Allah SWT,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

Dan firman-Nya

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [al-An’aam: 88]

Dan petunjuk akan syarat kedua, yaitu kesesuaian amal dengan tuntunan Rasulullah SAW, adalah sabda beliau,

Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada tuntutannya dari kami, maka tertolak.” [Muttafaq ‘alaih]

Pantas saja, jika Abdulullah bin Mas’ud pernah mengatakan, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun dia tidak mendapatkannya.”

Dari sini saja kita bisa melihat, bahwa untuk memperoleh kebaikan yang kita inginkan tentu kita harus memiliki kuncinya. Dengan kunci tersebut, kita bisa membuka berbagai pintu-pintu kebaikan.

Dan tanpa kunci itu, kebaikan tidak akan bisa diperoleh. Maka sangat penting kiranya bagi kita untuk mengetahui kunci-kunci kebaikan yang begitu banyak.

KUNCI-KUNCI

KEBAIKAN

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata,

“Allah telah menjadikan kunci sebagai pembuka bagi setiap perkara yang dituntut. Dia menjadikan kunci shalat adalah besuci, sebagaimana sabda Nabi SAW,

Kunci shalat adalah bersuci.1

Dan kunci haji adalah ihram. Kunci kebajikan adalah kejujuran. Kunci surga adalah tauhid. Kunci ilmu adalah sikap yang baik dalam bertanya dan mendengar. Kunci pertolongan dan kemenangan adalah kesabaran. Kunci bertambahnya nikmat adalah syukur. Kunci kewalian adalah kecintaan dan dzikir. Kunci keberuntungan adalah takwa. Kunci taufiq adalah raghbah (rasa harap yang disertai dengan amalan) dan rahbah (rasa takut yang disertai dengan amalan).

Kunci ijabah (sambutan Allah) adalah doa. Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhaap dunia. Kunci iman adalah memikirkan perkara yang Allah serukan untukdifikirkan oleh hamba-hambaNya. Kunci untuk menjumpai Allah adalah ketundukan hati dan keselamatan hati untuk-Nya, ikhlas kepada-Nya dalam cinta, benci, berbuat dan meninggalkan sesuatu. Kunci hidupnya hati adalah tadabbur (memperhatikan dan merenungi) al-Qur’an, merendahkan diri waktu sahar (waktu malam sebelum fajar) dan meninggalkan dosa.

Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada al-Khaliq (Sang Pencipta) dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hambaNya. Kunci rezeki adalah usaha yang disertai dengan istighfar (permohonan ampun kepada Allah) dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci persiapan diri untuk akhirat adalah memperpendek angan-angan. Dan kunci segala kebaikan adalah kecintaan kepada Allah dan negri akhirat. Sedangkan kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.

Ini adalah permasalahan agung yang merupakan permasalahan ilmu paling bermanfaat. Yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidak ada yang mendapatkan taufik untuk mengetahui dan memperhatikannya kecuali orang yang memiliki bagian dan taufik yang besar.”2

Apa yang beliau sebutkan di atas, tidaklah mencakup seluruh kunci-kunci kebaikan. Karena kita tahu bahwa kebaikan itu sendiri tidak terbatas pada apa yang beliau sebutkan. Meski demikian, perkataan itu cukup untuk memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap kebaikan pasti ada kunci-kuncinya. Dan beliau juga menyebutkan perkara-perkara agung yang sangat dibutuhkan seorang muslim yang beriman.

Di sana masih ada kunci-kunci kebaikan yang disebutkan pada ulama yang lain. Di antaranya3,

Aun bin Abdillah berkata, “Perhatian seorang hamba terhadap dosanya akan mendorongnya untuk meninggalkan dosa itu. Dan penyesalannya atas dosa itu adalah kunci untuk bertaubat. Seorang hamba senantiasa memperhatikan dosa yang dilakukannya sehingga hal itu menjadi lebih bermanfaat baginya dari pada sebagian kebaikan-kebaikannya.”4

Sufyan bin Uyainah berkata, “Tafakkur (berfikir) adalah kunci rahmat. Tidakkah kamu lihat seseorang berfikir lalu bertaubat.”5

Al-Hasan berkata, “Kunci lautan adalah perahu-perahu. Kunci bumi adalah jalan-jalan. Sedangkan kunci langit adalah doa.”6

Sahl bin Abdillah berkata, “Meninggalkan hawa nafsu adalah kunci surga, berdasarkan firman Allah ta’ala,

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)7.8

Sufyan berkata, “Dahulu dikatan, diam yang lama adalah kunci ibadah.”9

Syaikhul Islam berkata, “Maka kejujuran adalah kunci segala kebaikan, sebagaimana dusta adalah kunci segala keburukan.10

Beliau juga berkata, “Doa adalah kunci segala kebaikan.11

Maka dengan memohon pertolongan kepada Allah, kita akan perinci sebagian dari kunci-kunci kebaikan tersebut, dengan harapan bisa memberi manfaat bagi kita semua.

1 Riwayat Abu Daud (no. 61) dan at-Tirmidzi (no. 3). Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 5885)

2 Al-Jawabul Kafi (hlm. 100)

3 Nukilan-nukilan berikut diambil dari risalah Syekh Abdurrazaq al-Badr yang berjudul Mafatihul Khair.

4 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (4/251)

5 Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-Azhomah (no. 39)

6 Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (14/53)

7 Surat an-Naziat ayat 40-41.

8 Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (19/135)

9 Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam ash-Shomt (no. 136)

10 Al-Istiqomah (1/467)

11 Lihat Majmu’ al-Fatawa (10/661)

TAUHID:

KUNCI SURGA

Kebaikan terpuncak bagi seseorang yang mengimani adanya kampung akhirat adalah menjadi penghuni negri keselamatan, kenikmatan dan kebahagiaan abadi. Dan negri inilah yang menjadi tujuan bagi berbagai pemeluk agama yang ada. Tidak hanya kaum muslimin yang menginginkan hidup di dalam surga, bahkan orang-orang Yahudi ataupun Nasrani mengklaim bahwa surga hanya layak ditempati oleh golongan mereka saja. Allah berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.

Akan tetapi, Allah langsung membantah mereka dengan firman-Nya dalam ayat yang sama,

Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” [al-Baqarah: 111]

Iya, dakwaan mereka langsung Allah bantah dan dinyatakan sebagai angan-angan yang kosong. Karena memang surga yang mereka klaim itu sesungguhnya memiliki kunci yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang hanya sekedar mengaku-aku tanpa bukti kepemilikan. Maka Allah pun memerintahkan agar mereka menunjukkan bukti bahwa mereka adalah benar-benar layak masuk surga.

Lalu pada aya berikutnya, Allah menjelaskan apa yang bisa menjadi bukti bahwa seseorang layak masuk surga. Allah berfirman,

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat ihsan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [al-Baqarah: 112]

Syekh as-Sa’di menjelaskan ayat ini dengan berkata, “Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, maksudnya, barangsiapa mengikhlaskan (memurnikan) amalannya hanya untuk Allah, dengan mengarahkan hatinya hanya kepada-Nya. Sedang ia bersamaan dengan keikhlasannya itu, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu dengan beribadah sesuai dengan syariat-Nya. Maka hanya mereka itulah orang-orang yang berhak menjadi penghuni surga.”12

Sesungguhnya apa yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut sebagai bukti seseorang akan masuk surga, tidak lain dan tidak bukan adalah implementasi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah.

Kemudian, telah disebutkan dalam Shaih Muslim, dari hadits Umar bin al-Khatthab, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

Tidak ada seorang pun dari kalian yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian dia mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaaha illallah wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu’ melainkan dibuka baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan. Dia akan masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.3

Syekh Abdurrazaq al-Badr – hafizhahullah – menegaskan, “Ini adalah dalil yang shahih lagi tegas menunjukkan bahwa pintu-pintu surga yang berjumlah delapan akan dibuka dengan tauhid, dibuka dengan syahadat laa ilaaha illallah. Adapun orang yang tidak melaksanakan tauhid, maka keadaan mereka sebagaimana yang Allah firmankan,”

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” [al-A’raf: 40]14

Maka jelaslah bahwa kunci surga adalah tauhid, yaitu pelaksanaan kalimat syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah.

Dan harus kita ketahui bahwa kunci yang agung ini tidak akan memberikan manfaat jika hanya diucapkan saja tanpa pemenuhan hak-haknya. Betapa banyak kaum munafikin yang pada zaman Nabi SAW mengucapkan kalimat yang agung ini, namun karena mereka tidak memenuhi hak-haknya, mereka tetap tidak selamat dari siksaan neraka. Bahkan mereka berada di dasar neraka yang paling dalam. Sebagaimana firman Allah tentang mereka,

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” [an-Nisa: 145]

Maka seorang muslim mukmin, yang ingin memiliki kunci ini dan mengambil manfaat darinya, dia harus memenuhi hak-hak dari kalimat ini. Dia harus memenuhi rukun dan syarat dari kalimat tauhid yang dia ucapkan.

Secara ringkas, rukun laa ilaaha illallah ada dua, pertama meniadakan adanya hak untuk diibadahi pada dzat selain Allah. Dan yang kedua adalah menetapkan dan melakukan peribadahan hanya kepada Allah. Sedangkan rukun syahadat Muhammad rasulullah, pertama mengakui bahwa beliau adalah manusia, hamba Allah yang tidak berhak diibadahi. Dan yang kedua menetapkan bahwa beliau adalah utusan Allah, sehingga beliau tidak boleh diremehkan dan dilecehkan, bahkan harus ditaati.

Adapun syarat laa ilaaha illallah, para ulama menyebutkan ada tujuh: ilmu yang meniadakan kebodohan, keyakinan yang menolak keragu-raguan, penerimaan yang meniadakan penolakan, ketundukan yang meniadakan pengabaian, ikhlas yang menolak kesyirikan, kejujuran yang meniadakan kedustaan, dan kecintaan yang menolak kebencian.

Sedangkan syarat syahadat Muhammad rasulullah adalah, mengakui dan meyakini kerasulan beliau secara lahir dan batin, meneladani beliau dengan cara mengamalkan kebenaran yang beliau bawa dan meninggalkan kebatilan yang beliau larang, membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, mencintai beliau lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orangtua, dan seluruh manusia, dan mendahulukan perkataan beliau atas perkataan setiap orang serta mengamalkan sunnah (tuntunan) beliau.15

12 Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, hlm. 63.

13 Shohih Muslim (no. 234)

14 Mafatihul Khair, hlm. 13

15 Tentang rukun dan syarat dua kalimat syahadat ini, telah dijelaskan oleh Syekh Shalilh al-Fauzan dalam Aqidatul Tauhid hlm. 40-45

SYUKUR:

KUNCI NIKMAT

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mendapatkan nikmat dari Allah. Akan tetapi sayang sekali, hanya sedikit dari mereka yang mau bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Padahal jika mereka bersyukur, kenikmatan yang ada akan bertambah berlipat-lipat, karena syukur adalah kunci pertambahan rezeki. Allah berfirman,

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” [Ibrahim: 7]

Jika seseorang memahami perkara yang agung ini, sungguh dia telah mendapatkan kunci yang sangat bermanfaat untuk memperoleh tambahan kebaikan-kebaikan. Karena semua kebaikan yang didapati seorang manusia pada hakikatnya hanyalah kenikmatan yang Allah berikan.

Rezeki yang didapati seorang hamba misalnya, Allah tidak akan memberi tambahan rezeki kepadanya kecuali jika dia mau bersyukur kepada Allah atas rezeki tersebut. Ilmu yang diperoleh seorang penuntut ilmu juga merupakan kenikmatan dari Allah.

Maka jika seorang penuntut ilmu mensyukuri Allah atas ilmu yang telah diperolehnya, niscaya Allah akan memberi tambahan ilmu kepadanya. Demikian juga dengan taufik atau hidayah keimanan yang merupakan nikmat terbesar kepada seorang hamba, akan Allah tambahkan dan tingkatkan keimanan seseorang, manakala dia mensyukurinya.

Dan tentu saja syukur yang dimaksud dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Dengan hati, kita mengakui bahwa semua kebaikan itu semata-mata pemberian dan anugrah dari Allah.

Jika ada seseorang yang menganggap bahwa dia mendapat nikmat itu karena memang dia berhak, atau karena kepandaian dan keuletannya, atau karena usahanya, maka ini merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah, seperti yang telah Allah sebutkan tentang keadaan Qarun.

Dengan lisan, seorang hamba mengucap syukur kepada-Nya, berterima kasih kepada-Nya dan juga disyariatkan baginya memperbincangkan kenikmatan yang Allah anugrahkan kepadanya, sebagai bentuk syukur kepada-Nya.

Adapun dengan anggota badan, maka dia mempergunakan nikmat yang Allah berikan itu dalam berbagai ketaatan yang disyariatkan. Misalnya, orang yang diberi kemudahan rezeki berupa harta, maka dia bersyukur dengan banyak bersedekah dan mempergunakan harta itu dalam ketaatan, tidak menghambur-hamburkannya, dan tidak mempergunakannya dalam kemaksiatan. Orang yang diberi ilmu, maka dia amalkan ilmu tersebut, dan dia ajarkan kepada orang lain.

KEMULIAAN

ADA PADA KETAATAN

Kemuliaan hidup adalah salah satu perkara yang dicari manusia. Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan kehinaan dalam hidupnya. Hanya saja, timbangan kemuliaan mereka berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman mereka terhadap hidup ini.

Dalam menyikapi perbedaan pandangan seperti ini, tentu sebagai seorang mukmin yang meyakini bahwa kehidupan ini berada di bawah kekuasaan tunggal Allah SWT, dia akan mengembalikannya kepada bagaimana sesungguhnya Allah memandang permasalahan ini. Karena Allah telah berfirman,

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” [Fathir: 10]

Jika demikian, maka sesungguhnya Allah telah menyebutkan kunci kemuliaan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” [al-Hujurat: 13]

Jadi, kemuliaan sesungguhnya hanya ada pada ketakwaan. Yang mana ketakwaan ini terwujud dengan menaati Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebagian orang ada yang mencari kemuliaan hidup dengan meniru-niru orang-orang barat yang mana sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Cara berpakaian, kebiasaan, akhlak, tingkah laku, gaya hidup sampai pada pemikiran pun mereka tidak bisa dibedakan.

Padahal merupakan salah satu bentuk ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya SAW, adalah tidak menyerupai orang-orang kafir dalam berbagai hal yang menjadi kekhususan mereka. Rasulullah SAW bersabda,

Aku diutus di hadapan hari kiamat, dengan membawa pedang sampai hanya Allah semata yang diibadahi, tanpa sekutu bagi-Nya. Dan rizkiku telah dijadikan berada di bawah tombakku. Dan kehinaan serta kerendahan dijadikan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.16

16 Di-shahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 2831

KUNCI REZEKI

Terkadang, seorang manusia rela mengorbankan agama demi mendapatkan secuil rezeki. Mereka berdalih dengan perkataan yang sesungguhnya tidak pantas diucapkan, “mencari rezeki yang haram saja susah apa lagi yang halal.”

Seandainya manusia meyakini bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah, dan dia mengetahui kunci-kuncinya, niscaya dia akan sadar bahwa Allah sangat pemurah dalam membagi-bagi rezeki, dan sesungguhnya mencari rezeki yang halah jauh lebih mudah ketimbang rezeki yang haram.

Pada perkataan Ibnu Qayyim di atas, kita dapati beliau menjelaskan bahwa kunci rezeki adalah usaha yang dibarengi dengan istighfar dan takwa.

Usaha sebagai kunci rezeki tentunya telah jelas bagi setiap orang yang berakal sehat. Karena tatkala seseorang ingin mendapatkan rezeki berarti dia harus berusaha mengais rezeki. Namun yang menjadi focus seorang mukmin dalam berusaha adalah hendaknya usaha yang dilakukan masih dalam daerah usaha yang dibolehkan (halal).

Dan daerah ini sungguh sangat luas sekali, karena ada suatu ketentuan dalam masalah semacam ini, selama tidak ada larangan dari syariat maka usaha itu dibolehkan. Inilah yang menjadikan seorang mukmin berkeyakinan bahwa yang halal lebih mudah dari pada yang haram, karena usaha yang halal itu jauh lebih banyak dari pada yang haram.

Adapun istighfar sebagai kunci rezeki, maka bisa dipahami dari firman Allah SWT,

Maka aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampung, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]

Sedangkan takwa, secara tegas Allah telah menyatakan,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [ath-Thalaq: 2-3]

Maka kepada orang yang masih menganggap usaha haram lebih mudah dari usaha halal, kita katakan, bertakwalah dan tinggalkanlah usaha haram, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka-sangka.

KUNCI

KEHIDUPAN HATI

Hati manusia, tak ubahnya seperti jasad manusia, ada yang sehat, sakit dan ada pula yang mati. Akan tetapi, kesehatan hati jauh lebih penting jika dibandingkan dengan kesehatan badan. Hal ini karena kesehatan hati merupakan faktor utama kebaikan lahiriah seorang hamba. Rasulullah SAW telah bersabda,

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, niscaya akan baik seluruh tubuhnya, namun jika segumpal daging itu rusak, niscaya menjadi rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” [Muttafaq ‘alaihi]

Maka perhatian seorang mukmin terhadap hatinya, tidak boleh ditempatkan pada posisi yang remeh. Jika hati itu telah mati, segala bentuk kebaikan dan kebenaran tidak akan bisa diterima oleh seseorang.

Di sinilah kita dituntut untuk mengetahui kunci kehidupan hati, jika kita ingin mendapatkan dan menerima kebaikan yang banyak.

Pada perkataan Ibnul Qayyim di atas, beliau telah menjelaskan bahwa kunci kehidupan hati adalah dengan mentadabburi al-Qur’an, merendahkan diri di akhir malam, dan meninggalkan dosa. Sungguh benar apa yang beliau katakan. Al-Qur’an adalah sumber kehidupan hati. Allah SWT berfirman,

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Syekh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Allah menamai al-Quran dengan ruh, karena dengan ruh jasad bisa hidup sedangkan al-Qur’an akan menghidupkan hati dan jiwa-jiwa. Dengan al-Qur’an, kamaslahatan dunia dan agama akan menjadi hidup, karena dalam al-Qur’an terdapat banyak kebaikan dan ilmu yang melimpah.”17

Makanya, sebagai obat hati yang merasa gundah gelisah, Rasulullah SAW menganjurkan kita berdoa kepada Allah agar menjadikan al-Qur’an ini sebagai penyejuk hati dan cahaya bagi dada. Yaitu dengan doa,

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, akan hamba-Mu (Adam), dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib yang ada di sisi-Mu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.18

Begitu pula dengan menjauhi dosa-dosa, adalah salah satu sebab atau kunci hidupnya hati seorang hamba. Karena dosa adalah titik hitam yang mengotori hati manusia. Semakin banyak titik itu melekat dalam hati, maka akan menjadi tutupan kelam yang bisa mematikan hati manusia.

17 Taisirul Karimir Rahman, hlm. 762

18 Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya.

ILMU:

KUNCI UTAMA

Setelah kita mengetahui sebagian dari kunci kebaikan di atas, maka di sana ada satu kunci utama sebagai pintu pertama untuk mendapatkan kunci-kunci tersebut.

Tidak lain kunci utama itu adalah ilmu. Karena dengan ilmu, seseorang akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang mendatangkan cinta dan ridha Allah, dan mana yang akan membawa pada kemurkaan-Nya. Dan dimulai dengan ilmu, seseorang bisa melakukan berbagai amalan. Imam al-Bukhari berkata,

Ilmu itu (harus ada) sebelum berkata dan beramal.

Dan Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan bahwa orang yang dikehendaki baiknya oleh Allah, adalah orang yang diberi pemahaman ilmu agama. Beliau bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki ada kebaikan padanya, niscaya akan Dia pahamkan orang itu dalam perkara agama.” [Muttafaq ‘alahi]

Oleh karena itulah, Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya SAW untuk meminta tambahan berupa ilmu. Allah SWT berfirman,

Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” [Thaha: 114]

Wahai Allah, berikanlah manfaat kepada kami dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan berikanlah tambahan ilmu kepada kami.

Mutiara Kata

Tidak ada satu bentuk keburukan pun yang sebanding dengan hasad, seseorang yang hasad mampu membunuh orang lain sebelum dia sampai kepada sasarannya (yang ia dengki).(Muawiyah bin Abu Sufyan)

Aku Duduk Bersama Salaf

Abdullah b Mubarak apabila ditanya kepada beliau adakah beliau tidak merasa kesunyian duduk di rumah seorang diri sepanjang masa, beliau menjawab, “Masakan boleh aku ini merasa sunyi sedangkan aku *bertemankan Rasulullah shallallahualaihiwasallam sepanjang masa.”
*Maksudnya: Sibuk mentelaah hadith Rasulullah shallallahualaihiwasallam

Dilaporkan juga oleh Nu’aym B Ahmad:

Orang-orang bertanya kepada Abdullah b Mubarak: “Wahai Abu Abd Al-Rahman, kami lihat kau selalu duduk bersendirian di rumahmu.” Beliau menjawab, “Aku ini sendirian?Sesungguhnya aku *duduk bersama Rasulullah shallallahualaihiwasallam dan para sahabahnya radhiallahu’anhum .”

*Maksud: Menelaah hadith

[Rujukan: Ibn ‘Asâkir, Târîkh Dimishq Vol. 32 p458]

Juga dilaporkan oleh Shaqiq B Ibrahim:

Pernah di satu ketika orang-orang bertanya kepada Abdullah b Mubarak, “Kami melihat kamu tidak duduk bersama kami selepas solat?” Abdullah b Mubarak menjawab, “Aku pergi duduk bersama-sama para sahabah radhiallahu’anhum dan para tabi’in rahimahullah” Lalu orang-orang yang bertanya tadi kehairanan, “Mana mungkin kau duduk bersama mereka, sedangkan mereka sudah lama meninggal dunia?” Lalu dijawab oleh Abdullah b Mubarak, “Aku pergi duduk membaca dan menelaah ‘ilm yang telah aku perolehi dan telah aku kumpulkan daripada mereka, di sana aku temui ucapan dan keperibadian mereka.Dan apa yang aku perolehi daripada duduk bersama kalian?Kalian sibuk memperkatakan keburukan manusia lain.”

[Rujukan: "Biografi Abdullah b Mubarak" - Al-Dhahabî, Siyar A’lâm Al-Nubalâ`]


TALBIS IBLIS


Permusuhan Iblis kepada Adam as. dan anak keturunannya telah mulai berkobar sejak api kesombongan dan kedengkian tersulut dalam jiwanya yang kelam, tepatnya ketika Alloh SWT memuliakan Adam as dengan perintah-Nya kepada para malaikat bersama Iblis untuk bersujud memuliakan Adam as, segenap malaikat tunduk patuh memenuhi titah Zat Yang Maha Agung. Namun, benih keangkuhan dan kecongkakan malah menyeret Iblis menuju jurang kekufuran hingga mendapat murka dan laknat Alloh SWT sampai hari kiamat. Alloh SWT berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah2 kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; dia enggan dan takabur dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqoroh [2] 34)

Berawal dari kecongkakan inilah ia bersumpah untuk terus merekrut anak Adam bersamanya ke dalam jurang kenistaan dengan berbagai trik dan strategi, mulai dari jerat menuju jurang kekufuran sebagai dosa terbesar sampai jebakan-jebakan kecil lainnya yang tak kalah membahayakan. Dia tidak akan berpindah dari jebakan pertama menuju jebakan selanjutnya melainkan ketika dia telah merasa gagal dalam usahanya tersebut.

Jerat dan Jebakan Iblis Bagi Anak Adam

Di antara jebakan yang iblis siapkan bagi anak keturunan Adam adalah:

  1. 1. Jerat “kekufuran”

Jebakan ini merupakan rangkaian strategi utama bagi Iblis dalam menjerumuskan manusia ke dalam neraka Jahannam dan dia tidak akan berpaling darinya melainkan setelah berhasil meraih tujuan tersebut hingga dia akan menjadikannya sebagai bala tentara yang akan membantunya melancarkan aksi selanjutnya, dan apabila seorang manusia telah masuk dalam perangkap ini maka berarti dia juga telah mendapat murka Alloh SWT seperti yang dikehendaki Iblis atasnya.

Akan tetapi, bila Iblis gagal dalam jebakan ini, ia akan memasang jeratan yang kedua, dan itu ialah:

  1. 2. Jerat “bid’ah”

Merupakan kenikmatan terbesar apabila seseorang bisa selamat dari dosa kekufuran dan kesyirikan. Namun, tatkala dia tetap teguh memeluk agama Islam, Iblis pun tidak akan tinggal diam membiarkannya luput dari berbagai muslihatnya. Jerat bid’ah adalah langkah awal yang akan dia pasang di tengah kaum muslimin dengan polesan yang menggiurkan. Sehingga tidak sedikit umat ini yang terperangkap dalam makar tersebut tanpa merasa bahwa dirinya telah terjerumus dalam pekatnya dosa ini. Maka pantaslah kalau Iblis lebih mengutamakan jerat bid’ah sebelum beranjak menuju jerat selanjutnya. Sufyan ats-Tsauri pernah mengatakan:

Bid’ah itu lebih disenangi oleh Iblis daripada maksiat, karena pelaku maksiat lebih besar harapan untuk bertaubat. Berbeda dengan pelaku bid’ah, ia sukar untuk bertaubat.3

Tatkala seorang hamba mampu menepis serangan Iblis yang satu ini, Iblis akan melangkah menuju perangkap selanjutnya, yaitu:

  1. 3. Jerat “dosa-dosa besar”

Bagi mereka yang telah selamat dari dua jerat utama di atas berupa seruan Iblis menuju kekufuran dan kebid’ahan, maka permusuhan Iblis kepada anak turun Adam as belum berakhir sampai di sini, namun di sana ia telah memasang jerat mematikan berikutnya yang tak kalah dahsyat, yaitu jerat menuju dosa-dosa besar.

Meskipun banyak manusia yang menyadari akan bahaya dosa, namun tidak sedikit pula di antara mereka yang terjerembab dalam nistanya dosa ini, maka pantaslah jika Alloh SWT berfirman memperingatkan hamba-Nya yang beriman untuk menjauhi dosa-dosa tersebut. Firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. (QS. An-Nur [24]: 21)

Tatkala Alloh SWT telah menjaga hamba-Nya dari dosa ini dengan membukakan pintu taubat bagi mereka, maka jerat selanjutnya pun telah dipasang oleh Iblis berupa:

  1. 4. Jerat “dosa-dosa kecil”

Kendati dosa ini tergolong dalam dosa-dosa kecil, ia tetap merupakan rangkaian maksiat kepada Alloh SWT yang haram bagi seorang hamba untuk meremehkannya. Karena sesungguhnya bukanlah dosa kecil namanya jika dilakukan terus-menerus, sebagaimana pula tidak dinamakan dosa besar bila disertai dengan taubat dan istighfar.

Nabi Muhammad SAW pernah memperingatkan umatnya dari dosa-dosa yang banyak dianggap remeh oleh manusia dengan sabda beliau: “Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang dianggap kecil.” Kemudian beliau akhiri dengan sabdanya: “Karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut pastilah akan mencelakakan pelakunya kapan pun dia bergeming dengannya.4

Akan tetapi, bagi mereka yang diberi anugerah oleh Alloh SWT untuk bisa menghindar dari serangan Iblis yang satu ini, maka hendaknya ia tetap mewaspadai serangan yang akan Iblis lancarkan berikutnya, berupa:

  1. 5. Jerat “amalan mubah”

Seorang muslim yang telah mampu menghadapi berbagai serangan yang telah dilancarkan oleh Iblis dan bala tentaranya di atas belumlah tentu ia bisa selamat dari tipu daya selanjutnya, yaitu bisikan agar mereka menyibukkan diri dengan amalan-amalan mubah. Dan meskipun amalan ini hukum asalnya boleh, namun bagi mereka yang tersibukkan dengannya tentu akan banyak terluput dari amalan-amalan sunnah bahkan wajib, dan akhirnya kita akan menuai dosa dengan sebabnya. Kita berlindung kepada Alloh SWT agar tidak termasuk di antara orang-orang yang terbuai dengan amalan-amalan mubah hingga melalaikan kewajiban dan sunnah Rosulullah SAW.

Seakan jebakan Iblis habis sampai di sini, namun ternyata Iblis masih memiliki jebakan model baru yang sangat jarang sekali orang yang menyadarinya yaitu:

  1. 6. Jerat “amalan mafdhul”

Permusuhan belumlah berakhir sampai di sini, api dendam kesumat masih tetap membara dalam dada Iblis terhadap anak turun Adam as, bahkan saat inilah dia akan memasang jebakan yang teramat samar sehingga banyak manusia yang terjebak dalam jerat ini. Dan itu adalah bisikan supaya mereka menyibukkan diri dengan amalan yang mafdhul atau kurang utama, sehingga melalaikannya dari amalan-amalan yang lebih utama dan lebih berfaedah. Dan tidaklah ada orang yang mampu menerawang dan menghindari tipu daya ini melainkan mereka-mereka yang telah dikaruniai petunjuk berupa ilmu oleh Alloh SWT untuk menimbang antara keutamaan amalan yang satu dengan amalan yang lainnya.

Walaupun sangat jarang yang selamat dari jebakan mematikan ini, namun ia bukanlah senjata pamungkas, bahkan Iblis masih mempunyai satu senjata lagi untuk ia gunakan:

  1. 7. Jerat “gangguan lahiriyah”

Manakala seorang hamba mampu melepaskan diri mereka dari belitan dan jebakan Iblis yang telah dia pasang dari awal, maka saat itulah Iblis akan mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa gangguan yang tidak ada seorang pun yang akan selamat darinya, sampai pun para nabi dan rosul. Dan dengan hal inilah Alloh SWT akan menguji keimanan mereka. Akankah mereka tetap mempertahankan kemurnian iman mereka, ataukah mereka akan lepaskan begitu saja, lantaran tak sanggup lagi menghadapi berbagai cobaan tersebut? Cobaan dan ujian inilah yang dimaksudkan oleh Alloh SWT dalam firman-Nya:

Apakah manusia itu menghira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut [29]: 2-3)

Jalan Keluar dari Kepungan Iblis

Sesungguhnya Iblis bersama bala tentaranya tidak akan pernah lengah dalam usahanya untuk menggelincirkan anak Adam menuju jurang api neraka. Dia akan mendatangi mereka dari segala arah sesuai dengan celah yang dia dapati dari kelalaian anak Adam atas dirinya sendiri. Alloh SWT berfirman menceritakan ucapan Iblis:

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’rof [7]: 17)

Meskipun Iblis akan terus mendatangi manusia dari segala arah, akan tetapi Alloh SWT juga telah memberikan jalan keluar bagi segenap hamba-Nya untuk bisa terlepas dari kepungannya. Firman-Nya:

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Alloh.5 Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-A’rof [7]: 200)

Dan dalam banyak haditsnya Rosululloh SAW juga telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita bisa terlepas dari tipu daya serta gangguan Iblis seperti perintah beliau supaya memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an. Wallohu Muwaffiq.

Abu Kholid al-Atsari

1 dinukil dari kitab Bada’I al-Fawaid oleh Ibnul Qayyim dan kitab Silahul Yaqzhon li Thordi asy-Syaithon oleh Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as-Salman dengan sedikit gubahan dari penyaji.

2 sujud di sini bukan berarti menghambakan diri kepada Adam as, karena hal itu hanya hak Alloh SWT, namun yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut adalah sebuah bentuk penghormatan kepadanya. (Lihat terjemahan Al-Qur’an oleh Departemen Agama)

3 Al-Muntaqo an-Nafs min Talbis Iblis hlm. 36

4 HR. Ahmad: 5/331

5 Maksudnya adalah membaca “A’udzubillahi minasy-syaithonir-rojim”. (Al Qur’an dan terjemahannya oleh Depag RI)

AL FURQON

Volume 8 No. 4 :: Dzulhijjah 1430

Beda Pendapat Tak Harus Berpecah Belah


Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya tentang keanekaragaman jama’ah-jama’ah Islamiyah yang tak jarang di antara mereka saling menerapkan bara’ (berlepas diri), dan juga sikap yang harus diambil ketika terjadi perbedaan pendapat. Beliau memberikan penjelasan sebagai berikut:

Tidak dapat disangkal lagi bahwa perpecahan, saling memvonis sesat, permusuhan, dan kebencian yang terjadi di kalangan para pemuda yang komitmen, sebagian terhadap sebagian yang lainnya yang tidak sepaham dengan manhaj masing-masing, adalah suatu hal yang menyedihkan dan sangat disayangkan, bahkan bisa jadi menimbulkan dampak yang serius.

Perpecahan seperti ini ibarat penyejuk mata hati para syaithan dari bangsa jin dan manusia, sebab mereka tidak menyenangi apabila ahli kebajikan bersatu. Mereka menginginkan ahli kebajikan tersebut berpecah-belah karena mereka (para syaithan tersebut) mengetahui bahwa perpecahan akan meluluhlantakkan kekuatan yang dihasilkan oleh sikap komitmen dan ketaatan kepada Alloh SWT. Hal ini telah disinyalir oleh firman-Nya, artinya, “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. (QS. al-Anfal: 46).

Dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. (QS. Ali ‘Imran: 105)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”. (QS. al-An’am: 159)

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (QS. asy-Syuro: 13)

Alloh SWT telah melarang kita berpecahbelah dan menjelaskan tentang akibatnya yang sangat buruk. Sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjadi umat yang bersatu dan satu kata (bersepakat). Perpecahan hanyalah akan merusak dan meluluhlantakkan urusan serta mengakibatkan lemahnya umat Islam. Di antara para shahabat pun terjadi perbedaan pendapat, akan tetapi hal itu tidak menimbulkan perpecahan, permusuhan dan kebencian. Bahkan perbedaan pendapat itu terjadi pada masa Nabi SAW.

Sepulang beliau dari perang Ahzab (Khandaq), ketika itu, Jibril datang dan memerintahkannya agar bergerak menuju perkampungan Bani Quraizhah sebab mereka telah membatalkan perjanjian. Beliau SAW lalu bersabda kepada para shahabatnya, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian melakukan shalat ‘Ashar kecuali (bila sudah tiba) di perkampungan Bani Quraizhah”. Mereka pun bergerak dari Madinah menuju perkampungan Bani Quraizhah, sementara waktu ‘Ashar pun sudah tiba, lalu sebagian mereka berkata, ‘Kita tidak boleh melakukan shalat, melainkan di perkampungan Bani Quraizhah meskipun matahari sudah terbenam sebab Nabi SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian melakukan shalat ‘Ashar melainkan (bila sudah tiba) di perkampungan Bani Quraizhah”, karenanya kita harus mengatakan, “Sami’na wa atha’na” (Kami dengar dan kami patuh).

Sebagian mereka yang lain berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bermaksud agar kita bergegas dan bergerak-cepat keluar, dan bukan bermaksud agar mengakhirkan shalat”. Perihal tersebut kemudian sampai ke telinga Rasulullah SAW, namun beliau SAW tidak mencerca salah seorang pun di antara mereka, tidak pula mencemooh pemahaman mereka. Jadi, mereka sendiri tidak berpecah-belah hanya karena berbeda pendapat di dalam memahami hadits Rasulullah SAW.

Demikian juga dengan kita, wajib untuk tidak berpecah-belah dan menjadi umat yang bersatu. Sedangkan bila yang terjadi justru perpecahan, maka bahayanya sangat besar. Optimisme yang kita harapkan dan cita-citakan dari kebangkitan Islam ini akan menjadi sirna, manakala kita mengetahui bahwa ia hanya akan dimiliki oleh kelompok-kelompok yang berpecah-belah, satu sama lain saling memvonis sesat dan mencela.

Solusi dari problematika ini adalah hanya dengan meniti jalan yang telah ditempuh oleh para shahabat, mengetahui bahwa perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad ini adalah dalam taraf masalah yang masih bisa ditolerir beristijad di dalamnya dan mengetahui bahwa perbedaan pendapat ini tidak berpengaruh bahkan ia sebenarnya adalah persepakatan.

Bagaimana bisa demikan? Saya berbeda pendapat dengan anda dalam satu masalah dari sekian banyak masalah karena indikasi dari dalil yang ada pada anda berbeda dengan yang ada pada pendapat saya. Realitasnya, kita bukan berbeda pendapat sebab pendapat kita diambil berdasarkan asumsi bahwa inilah indikasi dari dalil tersebut. Jadi, indikasi dari dalil itu ada di depan mata kita semua dan masing-masing kita tidak mengambil pendapatnya sendiri saja melainkan karena menganggapnya sebagai indikasi dari dalil. Karenanya, saya berterima kasih dan memuji anda karena anda telah berani berbeda pendapat dengan saya. Saya adalah saudara dan teman anda, sebab perbedaan pendapat ini merupakan bagian dari indikasi dari dalil yang menurut anda, sehingga wajib bagi saya untuk tidak menyimpan sesuatu ganjalan pun di hati saya terhadap anda bahkan saya memuji anda atas pendapat anda tersebut, demikian juga halnya dengan anda. Andaikata masing-masing kita memaksakan pendapatnya untuk diambil pihak lain, niscaya pemaksaan yang saya lakukan terhadapnya agar mengambil pendapat saya tersebut, tidak lebih utama daripada sikap pemaksaan yang sama yang dilakukannya terhadap saya.

Oleh karena itu, saya tegaskan: Wajib bagi kita menjadikan perbedaan pendapat yang dibangun atas suatu ijtihad bukan sebagai perpecahan, tetapi persepakatan sehingga terjadi titik temu dan kebaikan dapat diraih.

Akan tetapi, bila ada yang berkata, “Bisa jadi solusi seperti ini tidak mudah direalisasikan oleh kalangan orang awam, lalu apa solusi lainnya?”

Solusinya, hendaknya para pemimpin kaum dan pemukanya yang meliputi semua pihak berkumpul untuk mengadakan tela’ah dan kajian terhadap beberapa permasalahan yang diperselisihkan di antara kita, sehingga kita bisa bersatu dan berpadu hati.

Pada suatu tahun pernah terjadi suatu kasus di Mina yang sempat saya dan sebagian saudara saya tangani. Barangkali masalahnya terdengar aneh bagi anda. Ada dua pihak dihadirkan, masing-masing pihak beranggotakan 3-4 orang laki-laki, masing-masing saling menuduh kafir dan melaknat, padahal mereka sedang melaksanakan haji. Ceritanya begini; salah satu pihak menyatakan, “Sesungguhnya pihak yang lain itu ketika berdiri untuk melakukan shalat, meletakkan tangan kanan mereka di atas tangan kiri pada posisi atas dada.” Ini adalah kekufuran terhadap sunnah di mana sunnahnya menurut pihak ini mengulur tangan ke bawah, di atas kedua paha. Sementara pihak yang lain mengatakan, “sesungguhnya mengulur tangan ke bawah, di atas kedua paha dengan tidak meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri merupakan perbuatan kufur yang membolehkan laknatan.” Perseteruan di antara mereka sangat tajam. Akan tetapi, berkat anugerah dari Allah SWT, usaha yang dilakukan sebagian saudara saya itu dibarengi dengan penjelasan mengenai pentingnya perpaduan hati di antara umat Islam, mereka pun mau pergi dari tempat itu dan masing-masing mereka akhirnya saling ridla.

Lihatlah, betapa syaithan telah mempermainkan mereka di dalam masalah yang mereka perselisihkan ini sampai kepada taraf saling mengafirkan satu sama lainnya. Padahal sebenarnya ia hanyalah salah satu amalan sunnah, bukan termasuk rukun Islam, bukan juga fardlu atau wajibnya. Inti dari permasalahan itu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa meletakkan tangan di atas tangan kiri pada posisi di atas dada adalah sunnah hukumnya, sementara ulama yang lain menyatakan bahwa sunnahnya adalah mengulur tangan ke bawah. Padahal pendapat yang tepat dan didukung oleh as-Sunnah (hadits) adalah meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sahl, di berkata, “Dulu orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kirinya di dalam shalat”.

Saya memohon kepada Allah SWT agar menganugerahkan perpaduan hati, kecintaan dan kelurusan hati kepada saudara-saudara kami yang memiliki manhaj tersendiri di dalam sarana berdakwah. Bila niat sudah betul, maka akan mudahlah solusinya. Sedangkan bila niat belum betul dan masing-masing di antara mereka berbangga diri terhadap pendapatnya serta tidak menghiraukan pendapat yang lainnya, maka semakin jauhlah upaya mencapai kesuksesan.

Catatan saya: Bila perbedaan pendapat itu terjadi pada masalah-masalah aqidah, maka hal itu wajib dibetulkan. Pendapat apa saja yang berbeda dengan madzhab Salaf, wajib diingkari dan diberikan peringatan terhadap orang yang meniti jalan yang menyelisihi madzhab salaf tersebut pada sisi ini.

Sumber: Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Dar ‘Alam al-Kutub, Riyadh 1991, Cet. I, juz. II, hal. 939-944, dengan meringkas.

AN – NUR

BISAKAH HAL-HAL GHAIB DIKETAHUI?


Di antara sifat seorang mukmin dan salah satu karakter orang yang bertaqwa adalah dia beriman, berkeyakinan tentang adanya hal-hal ghaib yaitu membenarkan segala sesuatu yang telah dikhabarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya SAW dari hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan tidak bisa dicapai oleh akal manusia, akan tetapi hanya diketahui berdasarkan wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul.

Allah SWT berfirman, artinya “Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. al-Baqarah: 1-3).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga berkeyakinan bahwa pengetahuan terhadap yang ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah SWT dan sifat-Nya yang paling khusus, yang tidak satu makhluk pun dapat menyamai-Nya, sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Makhfudz)” (QS. al-An’am: 59)

Maka siapa yang berkeyakinan bahwa dirinya atau orang lain boleh menguasai atau mengetahui perkara ghaib berarti ia telah kufur, karena hal ini tidak pernah diberitakan oleh Allah SWT kepada siapa pun; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga kepada para rasul yang diutus. Allah SWT berfirman, artinya,

Katakanlah! (Hai Muhammad) Tiada seorang pun baik di langit maupun di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka dibangkitkan’ (QS. An-Naml: 65)

Dan firman-Nya, artinya,

Katakanlah! (Hai Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan (rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidaklah aku mengatakan kepada kalian bahwa aku ini malaikat, aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” (QS. Al-An’am: 50)

Ada pun perkara-perkara yang ghaib yang dikhabarkan oleh para nabi dan rasul, sebagaimana Nabi kita Muhammad SAW menghabarkan kepada ummatnya tentang tanda-tanda hari Kiamat; Tentang adanya surga dan neraka; Tentang adanya azab kubur dan nikmat kubur, serta Rasulullah SAW pernah memegang leher jin Ifrit ketika beliau diganggu oleh Jin tersebut di dalam shalatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dan hal-hal ghaib lainnya, maka yang demikian, tiada lain sebagai salah satu tanda kenabian dan keistimewaan bagi beliau, dan merupakan wahyu Ilahi, sebab beliau tidak bertutur kata melainkan berdasarkan wahyu Allah SWT.

Allah SWT berfirman, artinya,

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang hal ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS. Al-Jinn: 26-27)

Namun sangat disayangkan di antara kaum Muslimin masih banyak yang percaya kepada cerita-cerita khurafat, mistik, dan cerita-cerita syirik jahiliyah. Misalnya keyakinan bahwa ada di antara manusia yang dapat mengetahui perkara yang ghaib, bisa mengetahui nasib seseorang, mengetahui peristiwa yang akan datang, bisa melakukan penerawangan dan bahkan mengaku bisa melihat makhluk-makhluk ghaib seperti Jin. Fenomena demikian sering kita dapati di sekitar kita, apalagi dengan adanya sekian banyak bentuk tayangan media, baik cetak-ataupun elektronik yang menggambarkan demikian, dan hal itu justru memperparah dan seolah-olah telah melegitimasi bahwa yang demikian adalah benar, padahal justru sebaliknya. Keyakinan-keyakinan yang ada merupakan keyakinan yang menyimpang yang sangat membahayakan aqidah seorang Muslim.

Pada dasarnya yang mereka lakukan itu hanyalah tipu daya jin dan propaganda syaithan untuk menggiring kaum Muslimin agar jauh dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah, kemudian terjerumus ke lembah kesyirikan dan terkubur ke dalam lumpur kekufuran. Karena hal ini merupakan perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi kekhususan Allah SWT, yaitu mengetahui hal-hal yang ghaib.

Allah SWT berfirman, artinya,

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-A’raf: 27)

Dengan demikian klaim seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat, sehingga mereka menjalani aktivitas hidupnya berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh sang pendusta tukang ramal dan sebangsanya, padahal dia pada dasarnya tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kepada siapa pun.

Allah SWT berfirman, artinya,

Katakanlah! (Hai Muhammad), “Aku tidak berkuasa mendatangkan manfa’at bagi diriku dan tidak (pula kuasa) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (QS. Al-A’raf: 188)

Jika Nabi SAW saja tidak mengetahui hal-hal yang ghaib selain yang diwahyukan kepadanya, bahkan dengan terus terang beliau menafikan yang demikian itu atas dirinya, maka bagaimana dengan orang-orang selain beliau? Tentu mereka pasti lebih tidak tahu. Karena Rasulullah SAW lebih berhak daripada mereka.

Berkaitan dengan permasalahan ini Allah SWT dan Rasulullah SAW telah memberikan peringatan dan ancaman dalam banyak hadits beliau.

Allah SWT berfirman,

Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-An’am: 144)

Rasulullah SAW bersabda:

Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan mujur berdasarkan tanda-tanda benda, burung (dan lain-lainnya), yang bertanya dan yang menyampaikannya atau yang bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir dan meminta sihir untuknya, dan siapa yang mendatangi kahin (dukun dan sejenisnya) lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (murtad dari Islam)” (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang bagus).

Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa mendatangi ‘arraaf (tukang tenung/peramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).

Dalam redaksi yang lain beliau bersabda,

Siapa yang mendatangi ‘arraaf (peramal) atau kahin (dukun) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Sunan Empat, dan dishahihkan oleh al-Hakim).

Dari hadits-hadits yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi kahin (dukun), ‘arraaf (peramal) atau sebangsanya dalam bentuk apa pun; Larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib; Larangan mempercayai dan membenarkan apa yang mereka katakan, serta ancaman bagi mereka yang melakukannya. Ini semua karena mengandung bahaya dan kemungkaran yang sangat besar, dan berakibat negatif yang sangat besar pula, disebabkan mereka telah melakukan kedustaan dan dosa.

Oleh karena itu seorang muslim tidak dibenarkan mendatangi mereka dan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang kecintaan dan kesetiaan, dan lain sebagainya. Karena ini berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali hanya Allah SWT.

Kita memohon kepada Allah SWT agar kaum Muslimin terpelihara dari tipu daya setan jin dan manusia, dan semoga Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap mereka, sehingga terjaga dari kejahatan mereka dan segala praktek keji yang mereka lakukan. Wallahu a’lam bish shawab.

Rujukan: Risalah fi Hukmi as-Sihr wa al-Kahanah, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Kitabut Tauhid II, Tim Ahli Tauhid, Kitabut Tauhid, Muhammad at-Tamimi, Majalah as-Sunnah, 10/VI/1423H-2002M. (Abu Farwah).

Oleh-Oleh Untuk Jama’ah Haji


Sebuah Sisi Jama’ah Haji Kita

Ada suatu fenomena yang unik di kalangan jama’ah haji kita khususnya, yaitu ketika selesai bertahalul, maka ada sedikit perubahan dalam panggilan nama mereka yakni penambahan sebutan Haji/Hajjah di depannya. Demikian pula setelah kepulangan mereka ke tanah air, sebutan kehormatan tersebut masih terus melekat pada namanya. Rasanya tidak afdhal jika kita memanggilnya tanpa mendahului dengan sebutan itu. Hal ini dikarenakan mulianya perjalanan ibadah tersebut yang merupakan paripurnanya rukun Islam yang lima, di samping memang membutuhkan pengorbanan yang besar baik tenaga, biaya maupun waktu, sehingga tidak semua orang Islam mampu menunaikannya. Panggilan itu boleh jadi adalah sebagai penghormatan karena telah sukses melakukan acara ritual yang agung, atau mungkin juga bermula dari panggilan yang biasa digunakan oleh penduduk asli Arab ketika memanggil jamaah haji dengan “Ya Hajj” karena memang tidak tahu siapa namanya.

Bagi mereka yang memiliki latar belakang ilmu syar’i, insya Allah, panggilan haji tersebut bukanlah masalah besar yang harus dipersoalkan. Artinya, dia tidak akan peduli apakah nantinya dia dipanggil pak haji, bu haji atau tetap dengan panggilan sebelum ia menunaikan haji. Toh tujuan dan niatnya adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan memang demikianlah hendaknya setiap jamaah haji berniat dalam perjalanan hajinya, sebab jika niatnya lain, misalnya agar disebut bapak atau ibu haji, maka ia tidak akan memperoleh bagian apa-apa di sisi Allah SWT, kecuali panggilan tersebut. Hal ini dikarenakan Allah SWT tidak akan menerima amalan, kecuali yang dilakukan secara ikhlash semata-mata karenaNya dan sesuai dengan tuntunan RasulNya SAW. Allah SWT berfirman, artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain, khusus berkenaan dengan haji, beliau SAW bersabda, “Hendaklah kalian mengambil dariku manasik (cara-cara) kalian dalam berhaji.” (HR. Muslim).

Namun realitasnya, teori di atas tidak sepenuhnya terpraktekkan, sebab tidak semua orang faham dan mengetahui tujuan haji yang sebenarnya. Bahkan, yang sudah tahu pun terkadang masih terkalahkan oleh hawa nafsunya, sehingga ketika ada orang lain memanggilnya tanpa sebutan haji, maka dadanya agak terasa sempit dan telinga sedikit merah karena kurang suka, lebih-lebih jika itu di depan khalayak ramai. Bahkan di antara mereka ada yang ketika dipanggil namanya atau disapa tidak menjawab sebagaimana mestinya, justru berujar, “Saya sudah dua kali pergi haji lho!” Yakni menghendaki agar orang lain memanggilnya dengan sebutan haji.

Dalam kasus ini perlu digaris bawahi, bahwa kita tidak bermaksud melarang orang menghormati orang lain dengan memberi sebutan haji. Yang perlu diluruskan adalah bahwa perjalanan haji adalah perjalanan ibadah untuk menuju Allah SWT dan mengharap keridhaanNya, bukan untuk mendapatkan embel-embel tersebut. Adapun setelah itu ada orang yang memanggil dengan bapak atau ibu haji, maka itu adalah persoalan lain dan bukannya tujuan, hanya saja jika kebiasaan tersebut (harus memanggil haji) tidak dibudayakan, maka bisa jadi hal itu akan memperbaiki niat orang yang akan melakukan rukun Islam ke-5 ini.

Makna haji yang sebenarnya

al-Allamah Abu Abdillah Muhammad bin Abdir Rahman al-Bukhari al-Hanafi menjelaskan bahwa haji maknanya adalah bermaksud atau menuju (al-qashdu). Niat dan maksud adalah pekerjaan yang paling utama sebab ia hanya dilakukan oleh anggota badan termulia yaitu hati. Karena ibadah haji ini merupakan ibadah yang besar dan sangat utama, juga memuat ketaatan yang sangat berat, maka disebutlah ia al-hajj yang berarti al-qashdu (dinisbatkan kepada amalan hati karena keutamaannya, red). Dan mengenai pentingnya niat dalam haji dan umrah, Allah SWT berfirman, artinya, “Dan sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah.” (QS. al-Baqarah: 196).

Oleh karena itu seseorang yang pergi haji meskipun pergi menuju baitullah (ka’bah), namun sebenarnya yang jadi tujuan adalah Rabbul Ka’bah Allah SWT Rabb seru sekalian alam. Maka ketika seorang berhaji tiba di Ka’bah, dan sebelumnya ia tahu bahwa pemilik rumah tersebut tidak ada di sana, berputar-putarlah ia mengelilingi rumah itu yakni thawaf, dan ini merupakan isyarat bahwa ka’bah bukanlah maksud dan tujuan, namun Allah SWT pemilik Ka’bahlah tujuannya.

Begitu pula ketika mencium Hajar Aswad, bukan untuk mengagungkan atau menyembah batu, tapi semata-mata karena mengikuti sunnah Rasul SAW. Dan inilah yang membedakan antara seorang muslim dan musyrik. Dulu kaum musyrikin menciumnya karena benar-benar menyembahnya, sedang seorang muslim melakukan itu adalah karena mengikuti sunnah.

Ibnu Abbas mengibaratkan bahwa menyentuh atau mencium Hajar Aswad seolah-olah ia menjabat atau mencium tangan kanan Allah SWT, sehingga ketika seorang haji menyentuhnya, hendaknya tertanam dalam benak bahwa ia sedang berbai’at kepada Allah SWT, pencipta dan pemilik Hajar Aswad yang telah memerintahkan untuk melakukan itu. Berbai’at di sini maknanya berjanji untuk selalu taat dan tunduk kepada Allah SWT, kemudian selalu ingat, bahwa jika mengkhianati bai’at tersebut akan berhadapan dengan murka dan adzabNya.

Dari sini para ulama menganjurkan, bahwa kewajiban pertama bagi calon haji adalah bertaubat, memperbaiki ketakwaan dan inilah sebaik-baik bekal. Allah SWT berfirman, artinya, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197).

Dan tak mungkin seseorang akan membawa bekal takwa ini jika tidak bertaubat dan meninggalkan segala jenis kemaksiatan.

Jika orang yang berhaji telah memahami makna dan tujuan berhaji, maka ketika melantunkan talbiyah akan meresap dalam jiwa, bahwa seolah-olah ia sedang meninggalkan segala atribut keduniaan dan menuju Allah SWT seraya mengatakan, “Ya Allah aku datang, aku datang memenuhi panggilanMu, aku berdiri di pintuMu, aku singgah di sisiMu. Aku pegang erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat kepadaMu. milikMu segala ciptaan, bagimu segala aturan dan perundang-undangan, bagiMu seluruh hukum dan hukuman, tiada sekutu bagiMu. Tak peduli aku berpisah dengan sanak keluarga, kutinggalkan profesi dan pekerjaan, kulepas segala atribut dan jabatan karena tujuanku hanyalah wajah dan keridhaanMu, bukan dunia yang fana bukan nafsu yang serakah maka amankan aku dari adzabMu.

Setelah Para Haji Pulang.

Banyak oleh-oleh yang dibawa pulang oleh para jama’ah haji, namun ada satu oleh-oleh yang sangat berharga, dan hanya bisa disimpan dalam hati dan dada. Oleh-oleh yang semua orang pasti suka untuk menerimanya. Tak lain adalah kebersihan jiwa dan akhlak. Inilah yang selayaknya dibawa pulang oleh mereka yang menunaikan haji. Alangkah indahnya jika sepulang haji yang dulu kikir, menjadi dermawan, penjahat menjadi penebar salam, bandar judi menjadi ketua majlis ta’lim, dan ribuan bahkan jutaan orang mengubah jalan hidupnya bersama-sama satu tujuan menuju Allah SWT. Tak ada lagi pejabat penerima sogok, hakim berat sebelah, pengusaha ataupun pedagang licik, curang dan lain-lain.

Apalah artinya pergi haji jika hanya sekedar untuk menambah sebutan, namun yang korup tetap korup, yang lintah darat tetap lintah darat, yang bakhil malah makin menjadi-jadi. Padahal perbuatan jahat dan fasik itu harus ditinggalkan kapan saja bukan hanya ketika melakukan haji. Jika seseorang masih sama buruk dan jahatnya antara sebelum dan sesudah haji, bahkan malah lebih parah, maka suatu pertanda bahwa kepergiannya ke tanah suci hanyalah sia-sia, sebab ia tak mampu mengambil sesuatu yang paling berharga dari perjalanan tersebut.

Maka hendaknya setiap orang yang akan melakukan ibadah haji sadar dan mengetahui bahwa perjalanan yang akan ia tempuh adalah perjalanan ibadah yang agung dan mulia sehingga harta yang digunakan untuk itu adalah dari penghasilan yang baik dan halal. Di samping itu ia harus mempelajari tata cara manasik yang benar, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dengan demikian diharapkan haji yang ia lakukan akan menjadi haji yang mabrur yang diterima di sisi Allah SWT bukannya maghrur (tertipu) atau mabur (bhs Jawa) yang hanya sekedar terbang naik pesawat saja.

Janganlah sekali-kali kita punya niat agar mendapat sebutan pak haji dan bu haji saja, lalu bangga jika orang memanggil dengan sebutan itu, sekali-kali jangan. Kalau seandainya orang satu kampung tidak ada yang memanggil kita dengan sebutan itu, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Tahu bahwa kita telah menunaikannya dan Allah SWT akan memberi balasan sesuai dengan niat dan usaha kita. Wallahu a’lam. (Ibnu Djawari)

Sumber: Khutbah Juma’at Pilihan Setahun, Yayasan Al-Sofwa, Fikih Nasehat, Fariq Gassim Anuz, Pustaka Azam dan sumber-sumber lain.

AN – NUR

SANG PENGUNJUNG TERAKHIR


Saudaraku, tahukah kamu siapa pengunjung terakhirmu? Taukah kamu apa tujuan ia berkunjung dan menemuimu? Apa saja yang dimintanya darimu?

Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!!

Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mempu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!

Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!

Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!

Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu!

Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!

Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!!

Allah SWT berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. as-Sajadah: 11)

Dan firmanNya, artinya, “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. al-An’am: 61)

Kereta Usia

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti?

Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan “kereta usia” sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”

Berhati-hatilah!

Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah SWT sebutkan, artinya, “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27).

Atau firmanNya, artinya, “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.(Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS. An-Nahl: 28-29)

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah kamu, setelah kunjungannya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitabNya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?

‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!

Allah SWT berfirman, artinya, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Persiapkan Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah al-Jabbar?

Dari ‘Adi bin Hatim, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berhitunglah Atas Dirimu!

Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu! (Abu Shofiyyah).

Sumber: Az-Za’ir Al-Akhir karya Khalid bin Abu Shalih.

Hukum menghadiri prosesi kematian orang kafir

FATWA ISLAMI

Hukum menghadiri prosesi kematian orang kafir

Tanya:

Bagaimana hukum Allah berkaitan dengan kegiatan menghadiri prosesi jenazah orang-orang kafir yang sudah merupakan tradisi politik dan adat yang (seakan) telah disepakati?

Jawab:

Bila sudah ada orang kafir yang lain yang bertindak menguburkan mayit-mayit mereka maka kaum Muslimin tidak boleh melakukannya, menyertai orang-orang kafir dan membantu mereka menguburkannya ataupun berbasa-basi dengan menghadiri prosesi pemakaman jenazah mereka lantaran hal itu sudah menjadi tradisi politik. Perbuatan itu semua tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, juga Khulafaur Rasyidun bahkan Allah melarang beliau beridir menyalatkan Abdullah bin Ubay bin Salul dengan alasan kekufurannya, Allah SWT berfirman, artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburannya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84).

Akan tetapi bila tidak ada satu pun dari mereka (orang-orang kafir) yang menguburkannya maka ketika itulah kaum Muslimin boleh menguburkannya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW terhadap orang-orang yang tewas pada perang Badar, begitu juga terhadap pamannya Abu Thalib ketika dia mati, beliau bersabda kepada ‘Ali, “Pergi dan kuburkanlah ia” Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam.

(Fatawa al-Lajnah al-Daaimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, IX, hal.10-11, no. 2612).

AN – NUR

Hukum Menyewakan Tempat/Kios untuk Kegiatan atau Menjual Barang Haram


Hukum menyewakan kios-kios seperti ini dapat diketahui dari firman Allah Ta’ala (firman-Nya), “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. al-Ma’idah: 2).

Maka berdasarkan hal itu, menyewakan kios-kios untuk tujuan-tujuan sebagaimana disebutkan di dalam pertanyaan (aktivitas ribawi dan menjual barang haram) adalah haram hukumnya karena merupakan bentuk tolong-menolong di dalam melakukan dosa dan melampaui batas. (Fatawa al-Mar’ah, dari fatwa Syaikh Ibn al-‘Utsaimin, Hal. 113)

Rumah Tangga Sakinah


Istri Yang Membahagiakan

Kebahagiaan rumah tangga yang menjadi tujuan setiap keluarga terbentuk di atas beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor anggota keluarga. Mereka inilah faktor dan aktor pencipta kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka. Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah istri, karena dia adalah ratu dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ‘Um’ yang berarti induk tempat kembali.

Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang cukup signifikan di dalamnya, maka istri harus membekali diri dengan sifat-sifat dan kepribadian-kepribadian sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memerankan perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang membahagiakan dan situasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.

Mengetahui skala prioritas

Dunia memang luas dan lapang, namun tidak dengan kehidupan, yang akhir ini, selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-tembok yang membatasi, ada rambu-rambu yang mengekang, namun pada saat yang sama tuntutan dan hajat kehidupan terus datang silih berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak mau, berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas, mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan seterusnya.

Sebagai ikon dalam rumah tangga, istri tentu mengetahui benar keterbatasan rumah tangga di berbagai sisi kehidupan, keterbatasan finansial dan ekonomi misalnya, sebesar apapun penghasilan suami plus penghasilan istri (jika istri bekerja), tetap ada atap yang membatasi, ada ruang yang menyekat, tetap ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan jiwa manusia yang tidak pernah berhenti berkeinginan, keadaannya selalu berkata, “Adakah tambahan?”, maka sebagai istri yang membahagiakan, dia harus mengetahui dengan baik prinsip dasar ini, mendahulukan perkara yang tingkat urgensinya tertinggi kemudian setelahnya dan seterusnya.

Keterbatasan dalam hubungan di antara suami dan istri, mungkin karena latar belakang keduanya yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, keluarga yang berbeda, tabiat dan watak yang berbeda, hobi dan kesenangan yang berbeda, waktu yang tersedia untuk berdua minim, semua itu membuat hubungan suami-istri serba terbatas, namun hal ini bukan penghalang yang berarti, selama istri memahami kaidah prioritas ini.

Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas dengan baik, dengan tataran hubungan suami istri, secara emosional dan fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia menempati deretan nomor wahid.

Realitas dalam menuntut

Di hari-hari pertama pernikahan, biasanya dalam benak orang yang menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan yang hendak dibuktikan. Umum, lumrah dan jamak. Kata orang, hidup ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup dengan berbagai macam situasi dan kondisinya. Demikian pula dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu. Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.

Sekali lagi wajar, selama hal itu masih realistis. Dan soal harapan dan ambisi biasanya istri selalu yang menjadi motornya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, “Wanita menginginkan suami, namun jika dia telah mendapatkannya, maka dia menginginkan segalanya.” Memang tidak semua wanita, karena ini hanya sebuah ungkapan dan tidak ada ungkapan yang general. Namun dalam batas-batas tertentu ada sisi kebenarannya, karena tidak jarang kita melihat beberapa orang suami yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.

Maka alangkah bijaknya jika dalam menuntut dan mencanangkan target memperhatikan realita dan kapasitas suami, jika sebuah harapan sudah kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud, maka kecewanya akan berat, bak orang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?

Sebagian istri memaksa suami menelusuri jalan-jalan yang berduri dan berkelok-kelok, di mana dia tidak menguasainya, jika suami mengangkat tangan tanda tak mampu mewujudkan sebagian dari tuntutannya, maka istri berteriak mengeluh. Hal ini, sesuai dengan tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga kepada jalan buntu selanjutnya yang muncul adalah perselisihan, jika ia menyentuh dasar kehidupan, maka bisa berakibat keruntuhannya.

Seorang istri shalihah selalu mendahulukan akalnya, dia tidak membuat lelah suaminya dengan tuntutan-tuntutan yang irasional, tidak membebaninya di luar kemampuannya dan tidak memberatkan pundaknya dengan permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-keinginannya semata.

Salah satu contoh yang jarang ditemukan yang terjadi dalam sejarah tentang keteladanan sebagian istri yang begitu memperhatikan keadaan suami tanpa batas walaupun hal tersebut berarti mengorbankan kemaslahatannya sendiri adalah apa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fathimah az-Zahra’ pada saat dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang membuatnya bermalam selama tiga malam dalam keadaan lapar, pada saat Ali melihatnya pucat, dia bertanya, “Ada apa denganmu wahai Fathimah?” Dia menjawab, “Telah tiga malam ini kami tidak memiliki apa pun di rumah.” Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?” Fathimah menjawab, “Pada malam pernikahan bapakku berkata kepadaku, ‘Hai Fathimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau tidak maka jangan memintanya.

Bermental kaya

Mental kaya, dalam agama dikenal dengan istilah qana’ah, rela dengan apa yang Allah SWT bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.

Kaya bukan kaya dengan harta benda, namun kaya adalah kaya hati, artinya hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau belum merasa cukup, maka dia adalah fakir. Kata fakir dalam bahasa Arab berarti memerlukan, jadi kalau seseorang masih memerlukan [baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasaan istri dalam skala lebih besar daripada yang lain, jika istri tidak bermental kaya, maka dia akan selalu merasa kekurangan, akibatnya dia akan mengeluh kemana-mana dengan kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental miskin, minim syukur, memposisikan diri sebagai orang miskin sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.

Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi semua keutamaan ini tidak ada nilai dan harganya jika yang bersangkutan mempunyai tabiat sengsara dan mental miskin. Kedua tabiat ini bagi wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.

Banyak wanita sejak zaman batu sampai hari ini merasa nyaman dengan tabiat sengsara dan mental miskin ini. Dalam kehidupan sejarah, Nabiyullah Ibrahim pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedau bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anakya, Ismail. Dengan bahasa sindiran, Nabi Ibrahim pernah meminta Ismail untuk berpisah dari istri pertamanya. Ibrahim melihat istri pertama anaknya bukan istri yang layak, karena dia bermental miskin. Ketika Ibrahim bertanya kepadanya tentangnya kehidupannya dengan suaminya, yang Ibrahim dengar dari mulutnya hanyalah keluh kesah. Sebaliknya istri kedua, jawabannya kepada mertuanya mengisyaratkan bahwa dia adalah istri yang pandai bersyukur dan bersikap qana’ah, maka Ibrahim meminta Ismail untuk mempertahankannya.

Dalam kehidupan ini tidak sedikit kita menemukan istri model seperti ini. Ditinjau secara sepintas dari keadaan rumahnya, rumah milik sendiri, lengkap dengan perabotan elektronik yang modern, didukung kendaraan keluaran terbaru, tapi dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangkutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah orang termiskin di dunia. Apakah hal ini merupakan kebenaran dari firman Allah SWT, yang artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.

Jika istri bermental kaya, maka keluarga akan merasa kaya dan cukup. Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan. (Izzudin Karimi)

Menjaga Kehormatan Istri

Besarnya perkara kehormatan

Kehormatan merupakan salah satu dari hak asasi muslim di mana Islam hadir untuk menjaga dan melindunginya, dan untuk menjaganya Islam meletakkan langkah-langkah preventif dengan mengharamkan seseorang membicarakan kehormatan saudaranya atau menciderainya dengan melayangkan tuduhan-tuduhan palsu, hal ini berlaku di antara satu muslim dengan muslim yang lain, lalu bagaimana jika hal itu di antara muslim dengan muslimah yang terikat tali perkawinan?

Allah SWT berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar: Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar; lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (QS. an-Nur: 23-25).

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu?” Beliau SAW menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran, makan riba, makan harta anak yatim, berlari dari medan perang dan menuduh wanita mukminah yang terjaga yang tidak mengerti.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Suami tidak boleh menuduh istri hanya karena anak yang dia lahirkan beda warna kulit dengannya

Dari Said bin al-Musayyib dari Abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, dia berkata, “Ya Rasulullah, anakku lahir berkulit hitam.” Nabi SAW bersabda, “Adakah kamu mempunyai unta?” Dia menjawab, “Ya.” Nabi SAW bertanya, “Apa warnanya?” Dia menjawab, “Merah.” Nabi SAW bertanya, “Adakah yang berwarna abu-abu?” Dia menjawab, “Ada.” Nabi SAW bertanya, “Dari mana ia?” Dia menjawab, “Mungkin dari keturunan nenek moyangnya.” Nabi SAW bersabda, “Bisa jadi anakmu itu dari keturunan nenek moyangnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, laki-laki itu berkata, “Ya Rasulullah SAW istriku melahirkan anak berkulit gelap.” Dia bermaksud mengingkarinya. Di akhir hadits terdapat tambahan, dan Nabi SAW tidak membolehkannya untuk mengingkarinya.

Suami tidak berhak mengingkari anaknya dengan alasan dia melakukan senggama putus

Jika suami menggauli istri dan membuang spermanya di luar lalu istrinya ternyata hamil maka suami tidak boleh menuduhnya atau mengingkari kehamilannya, karena sperma mungkin mendahuluinya sehingga istrinya hamil tanpa dia merasa. Hal ini ditetapkan oleh sunnah yang shahih, dari Jabir bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW maka dia berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai hamba sahaya, dia adalah pelayan kami dan pengambil air bagi kami, aku menggaulinya tetapi aku tidak ingin dia hamil.” Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah azl jika kamu ingin, apa yang ditakdirkan untuknya tetap akan datang kepadanya.” Beberapa waktu setelah itu laki-laki datang lagi, dia berkata, “Sesungguhnya hamba sahaya tersebut hamil.” Nabi SAW bersabda, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa apa yang ditakdirkan untuknya akan datang kepadanya.” (HR. Muslim).

Dari Abu Said al-Khudri berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang azl, maka beliau bersabda, “Tidak semua sperma membentuk anak, tetapi jika Allah hendak menciptakan sesuatu maka tidak ada sesuatu yang mencegahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Tidak boleh berburuk sangka kepada istri

Allah SWT berfirman, artinya, “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. al-Hujurat: 12).

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda, “Jauhilah prasangka karena prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta, jangan memata-matai, jangan mengawasi, jangan saling membenci dan jadilah kalian bersaudara, seseorang tidak melamar di atas lamaran saudaranya sehingga dia menikahinya atau meninggalkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Suami tidak boleh memata-matai istrinya

Allah SWT berfirman, artinya, “Jangan memata-matai.” (QS. al-Hujurat: 12).

Dari Jabir berkata, “Rasulullah SAW melarang suami pulang kepada keluarganya pada malam hari untuk mencari kesalahan mereka atau mengendus aib mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, ini adalah lafazhnya).

Cemburu adalah wajib

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang Allah haramkan surga bagi mereka; pecandu khamr, pendurhaka kepada bapak ibunya dan dayyuts yang membiarkan keburukan pada keluarganya.” (HR. Ahmad, ini adalah lafazhnya, an-Nasa’i, dishahihkan oleh al-Albani).

Cemburu ada batasnya

Dari Jabir bin Atik al-Anshari dari bapaknya berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara cemburu ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Di antara kesombongan ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah maka ia adalah cemburu dalam sesuatu yang mencurigakan. Adapun cemburu yang membenci Allah maka ia adalah cemburu dalam sesuatu yang tidak mencurigakan.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Darimi dan Ahmad dihasankan oleh al-Albani).

Dari Muawiyah ra berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jika kamu mengendus-ngendus kesalahan-kesalahan manusia niscaya kamu merusak mereka atau hampir merusak mereka.” Abu ad-Darda’ ra berkata, “Sebuah kalimat yang didengar oleh Muawiyah dari Rasulullah SAW, Allah SWT memberikan manfaat kepadanya karenanya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh an-Nawawi).

Jika suami mengakui anak atau kehamilan istri maka dia tidak boleh mengingkarinya setelah itu

Asy-Syafi’i berkata, “Jika seorang suami mengakui kehamilan istrinya lalu istri melahirkan seorang anak dari kehamilan tersebut atau lebih kemudian dia mengingkarinya anak itu atau dua anak kembarnya dari kehamilan itu maka anak tersebut tidak dinafikan dari suami, tidak dengan li’an atau selainnya.” (Al-Um 5/311).

Lanjut asy-Syafi’i, “Suami tidak berhak menafikan anaknya setelah dia mengakuinya sekali atau lebih hanya karena dia melihat anaknya tidak mirip dan indikasi-indikasi lainnya jika suami mengakui bahwa anak itu lahir di atas ranjangnya, dia tidak boleh mengingkarinya dalam keadaan apa pun kecuali jika dia sudah mengingkarinya sebelum mengakuinya.” (al-Um 5/141).

Jika suami mengakui salah satu bayi kembar maka dia tidak boleh mengingkari kembarannya.

Ibnu Qudamah berkata, “Pasal, jika istrinya melahirkan bayi kembar kurang dari enam bulan lalu dia menasabkan salah satunya kepada dirinya dan mengingkari yang lain, maka keduanya terindukkan nasabnya kepadanya, karena keduanya dalam satu kehamilan, tidak mungkin salah satu bayi darinya sedangkan bayi yang lain dari orang lain, jika nasab salah satu dari keduanya ditetapkan kepadanya maka secara otomatis nasab yang lain juga terinduk kepadanya, kami menjadikan anak yang dia ingkari seperti anak yang dia akui, tidak sebaliknya, karena sebisa mungkin kita mengindukkan nasab daripada mengingkarinya.” (Al-Mughni 8/57). (Izzudin Karimi).

FATWA ISLAMI

Hukum Mengambil Harta Suami Tanpa Sepengetahuannya

Tanya:

Suami saya tidak memberi nafkah kepada saya dan tidak pula kepada anak-anak saya. Kadang kami mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya, Apakah kami berdosa?

Jawab:

Seorang istri boleh mengambil dari harta suaminya tanpa sepengetahuannya sebanyak yang dibutuhkannya dan dibutuhkan anak-anaknya dengan cara yang baik, tidak berlebihan dan tidak tabdzir, jika memang sang suami tidak memenuhi kebutuhannya, berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam ash-Shahihain, dari Aisyah, bahwa Hindun binti ‘Utbah mengadu kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan tidak memberiku (nafkah) yang mencukupiku dan mencukup anakku.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik sebanyak yang bisa mencukupi keperluanmu dan mencukupi anakmu.” Hanya Allahlah pemberi petunjuk. (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 65-66, Syaikh Ibnu Baz)

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.