Ihsanullah

Kata itu menjadi usang bersama dzikrulmaut.

Sudah kunazarkan tuk menjadi penyeruMU.

Aku masih setia, bertahan dalam kepenatan.

Di hati ini tidak ada musik, yang ada hanya dzikir.

Meski telingaku sudah ramai disempali oleh musik musik yang ada di lingkunganku.

Namun aku tak ingin seorang dai menjadi “sebuah fakta yang terpisah” dari mad’u.

Inilah REALITA, kau dapat dengar, lihat, rasa, dan sapa.

Kau lihat di sekelilingmu generasi muslim sudah kehilangan militansinya.

Bahkan kau hanya tersenyum menyaksikannya.

Memutar otak, kenapa mereka enggan bertanya jika mereka tak tau.

Agama adalah jawaban, bukan sekedar ritualisme sia-sia.

Bahkan kesia-siaan telah memvonis agama menjadi hal yang aneh dan asing

Aku butuh zuhud, cinta, dan kesungguhan.

Agar dakwahmengikuti salafussholeh menjadi nyata perjuangan.

Cinta tak perlu dipikirkan jika hanya akan mengganggu kekhusyuan dan kesucian dzikir.

Biar cinta itu terasa dalam niat tulus.

Ketika hadir cinta, rasanya aku ingin membuktikannya dengan sebuah pemberian, pengorbanan, prestasi diri di hadapanNYA.

Beri hamba waktu ya Robb, untuk bertaubatannashuha.

Kembali dekat pada ihsan dan alquran.

Dengan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: