Sekolah Bukan Untuk Uang

Aku terinspirasi dari kisah hidup ilmuwan kembar Indonesia. Umar Anggara Jenie dan Said Djauharsyah Jenie. Ayah beliau-beliau meninggal sejak mereka kecil, sehingga mereka hanya diasuh oleh ibundanya. Ibu beliau adalah seorang dokter yang sangat menghargai Ilmu pengetahuan. Beliau mengakui bahwa Ibu beliau-beliau lah yang telah menjadi inspirasi dalam hidup.

Sang ibu pernah berkata “sekolah itu untuk mencari ilmu bukan untuk mencari uang”. Sang ibu sangat berharap anak-anaknya menjadi seorang Guru.

Jika kita ingat, dulu gaji seorang Guru amatlah rendah.

Betapa ikhlasnya sang Ibunda dalam menjalani hidup ini.

Dengan ilmu pengetahuan, kau dapat menyelamatkan kehidupan umat manusia. Sang Ibunda juga sering memberikan hadiah edukatif kepada anak-anaknya seperti kereta api, mobil-mobilan sambil dijelaskan fungsi dan cara kerjanya.

Kini 2 anak kembar itu sudah menjadi ilmuwan besar. Said Djauharsyah Jenie adalah Guru Besar Teknik Penerbangan ITB dan menjadi salah satu ilmuwan dunia perwakilan Indonesia dalam bidang penerbangan, aeronautika dan astronautika, Sedangkan Umar Anggara Jenie adalah professor Ilmu kimia organik UGM, peneliti terbaik IPA thn 1992, peneliti terbaik ilmu kesehatan dan bioteknologi thn 1994.  Meskipun kembar, namun mereka sangat berbeda. Mereka saling mendukung dan menyemangati untuk hal-hal yang positif. Sang adik Umar Anggara berkata bahwa kakaknya Said memang sangat cerdas, sedangkan pak Umar sendiri awalnya tak yakin dirinya bisa meraih prestasi.

Aku jadi teringat tulisan pak Sjafrie Mangkuprawira (Dosen IPB yang banyak berjasa dalam dunia pendidikan dan masyarakat kecil) dalam bukunya yang inspiratif  “RONA WAJAH”. Bahwa di dunia ini banyak tipe orang seperti yang dikatakan Ali r.a: ada orang yang tahu bahwa dia tahu, ada orang yang tak tahu bahwa dia tahu, ada orang yang tidak tahu bahwa dia tak tahu lalu banyak berceloteh sok tahu.

Wah, itulah kenapa saat aku meminta nasihat dari Dosen Pembimbingku yang sering berkeliling dunia, Ibu Fransisca Rungkat Zakaria yang kuat menyuarakan pangan fungsional untuk kesehatan masyarakat Indonesia dan sibuk dengan segudang proyek penelitiannya serta tak matrealistis dengan keahliannya. Ibu itu menjawab “kamu sadar tidak bahwa kamu itu BODOH?? Makanya kamu harus serius KULIAH, dengarkan dan pikirkan perkataan dosen benar atau tidak, catat, jangan hanya menonton Dosen tapi pikiran kemana-mana”…saat itu aku tak bisa menahan air mata. Ya, aku memang masih bodoh, aku terlalu bangga dengan “berhasilnya aku mencapai target pada masa lalu”, dan sangat bodoh sekali jika aku tak mau mengakui kebodohanku. Tentu saja, aku sedang berada di hadapan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Dosen-dosenku ada yang ahli mikroba (bisa buat makanan protein tinggi dari sampah produk pertanian, dll), ahli flavor, ahli teknik rekayasa proses pengolahan pangan.

Dan aku sangat menyesal kenapa begitu mudahnya aku menerima realita. Saat SMP, aku pernah ditanya oleh Guruku yang bijak, apa tujuanmu sekolah? aku jawab denga polos: “untuk cari ilmu, untuk berbakti pada otu dan menjadi orang yang berguna”. Namun tak disangka Guruku itu berkata “realitanya sekolah itu untuk mencari uang nak”. Ucapan itu membekas dan baru kini kusadari bahwa sepatutnya kita menjalani kehidupan ini dengan ikhlas. Karena semuanya akan dinilai olehNYa.

Wah ini satu kalimat Pak Andi Hakim Nasution (beliau dulu hanya seorang mahasiswa yang berani menegur kesalahan jawaban dosennya, dan setelah dewasa beliau menjadi rektor besar IPB). “Jika ada 2 pilihan: Ilmu atau kepopuleran, pilihlah ilmu karena ilmu membuatmu bahagia dan bisa mendapatkan kepopuleran (kalo dapat bonus, kal gak ya gak apa-apa).

Masih teringat ttg manisnya iman, masih teringat ttg pencarian hakikat/tujuan hidup ini. Wahai diri, janganlah kau membenci dirimu. Terima diri apa adanya, dengan begitu kau akan mengerti ttg kesungguhan dan ketulusan memperbaiki dirimu sendiri tanpa henti, tanpa lelah.

Tak perlu menjadi “hebat” dulu agar dicintai. Cukup menjadi apa yang kau bisa, baik menjadi akar, daun, air, mentari, atau apapun. Tak perlu menjadi jutawan/milioner agar bisa berjuang. Kau masih ingat? Berjuang adalah mengorbankan apa yang kau miliki, potensimu, masa mudamu, hartamu. Jangan pernah berpikir bahwa kau tak memiliki apapun. Dengan ketenangan dzikrullah yang ada dalam hatimu, akhlakmu, ketegasanmu memegang jati dirimu, kau sudah menaklukkan hati dan cinta banyak orang. Jikapun jadi hebat, itu karena kesungguhanmu untuk meraih ridhoNya, dan atas pertolonganNya juga kan

Janganlah hidupmu danri-harimu temotvasi untuk uang dan kepopuleran. Karena hatimu akan semakin rapuh dan hilang visi hidupmu. Uang untuk hidup tapi hidup bukan untuk uang. Jangan dengarkan kata-kata orang yang tamak terhadap duniawi. Bagaimanapun akhirat itu lebih utama.

Tataplah sekelilingmu dengan kekhusyuan dan tasbih.

Kau beribadah ikhlas untuk raih ridhoNya, untuk masuk ke syurganya. Maka belum tibakah waktunya kau bersungguh-sungguh dalam ibadah itu? Baik dalam keadaan ringan atau berat, sedih atau senang. Hanya padaNya, kau mencurahkan segala rasa, asa dan tangis.

Sedangkan doa adalah senjatamu. Mintalah untuk dunia dan akhiratmu. Impian yang tak mungkin bisa jadi mungkin, dengan kuasaNya.

Ingat seorang teman muslimahmu yang dapat beasiswa ke Jepang? Padahal ia memiliki keterbatasan, hanya karena ia yakin. Maka yakinlah pada dirimu, jangan sekali-kali remehkan dirimu dan hasil karyamu.

Aku cukup kesal, dosenmu bilang “jangan menjadi orang yang setengah-setengah”. Ya, aku ingin banyak bertanya, tapi waktu kuliah itu singkat dan banyak orang yang tak suka aku bertanya”. Kupikir aku bisa mencari jalan lain untuk memecahkan pertanyaanku,namun sampai detik ini aku belum bersungguh2 untuk memecahkan pertanyaanku.

Ayo…pecahkan masalahmu. Jangan malas ??? Hahaha, aku gak greget lagi sama masalah, karena udah biasa menerima banyaak masalah…SEmoga Allah memperbaiki iman kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: