Indahnya Hidup Bersama Al-Qur’an

Oleh: Syaikh Shalih Al-Fauzan

PENDAHULUAN

Segala puji hanya milik Allah Rabb seru sekalian alam, shalawat dan salam atas Rasul-Nya Nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya. Semoga Dia melimpahkan keselamatan yang banyak tiada hingga,

Amma ba’du;

Sesungguhnya merupakan nikmat Allah terbesar yang dengan nikmat itu Allah memuliakan umat ini dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW dan diturunkannya Al-Qur’an kepadanya untuk memberi petunjuk kepada manusia, mengajari dan mengingatkan mereka kepada segala yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat.

Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah, baik huruf maupun maknanya, dia diturunkan bukan makhluk*. Dari Allah Al-Qur’an berasal dan kepadaNya dia akan kembali. Allah SWT berfirman,

Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy Syu’araa: 195)

Di dalam Al-Qur’an ini terdapat petunjuk dan cahaya. Dia juga berfirman,

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)

Al-Qur’an merupakan kitab yang universal untuk seluruh manusia, bahkan untuk bangsa jin dan manusia, yang memberikan kabar gembira dan peringatan. Ketika jin mendengarkan Al-Qur’an mereka mengatakan,

Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.” (Al-Jin: 2)

Dia juga beriman artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” (Al-Kahfi: 1-4)

Allah telah menyifati Al-Qur’an ini dengan sifat-sifat yang agung, Dia berfirman di awal surat Al-Baqarah, surat kedua dalam Al-Qur’an setelah Al-Fatihah yang artinya, “Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkankah sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah: 1-4)

Allah menyifati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan di pertengahan surat Allah juga berfirman,

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqarah: 185)

Di awal surat Allah menyebutkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa sedangkan di pertengahannya disebutkan sebagai petunjuk bagi manusia, dan ini sifatnya umum baik bagi yang bertakwa maupun yang tidak bertakwa.

Adapun petunjuk bagi orang bertakwa, maka petunjuk bagi mereka mempunyai arti bahwa mereka mampu mengambil manfaat dan mengambil faidah dari Al-Qur’an itu, serta mereka mampu menjadikan cahaya Al-Qur’an sebagai penerang bagi mereka. Sedangkan petunjuk bagi selain orang yang bertakwa artinya Al-Qur’an tersebut memberi penjelasan bagi mereka tentang jalan yang lurus terbimbing apabila mereka menghendaki jalan lurus tersebut bagi diri mereka. Jadi Al-Qur’an merupakan petunjuk dilalah dan irsyad (penjelasan dan bimbingan) bagi seluruh manusia, dan petunjuk taufiq bagi orang yang bertakwa, khususnya mereka yang memenuhi panggilan Al-Qur’an.

Jadi hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah taufiq wa ‘amal (respon dan aksi), ini khusus bagi orang yang beriman, dan hidayah dilalah wa irsyad (bimbingan dan penyuluhan) yang bersifat informative untuk seluruh umat manusia.

Allah SWT juga berfirman menyifati Al-Qur’an, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.” (Al-Isra’: 9-10)

Allah SWT menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk yang paling lurus (aqwam), yaitu kepada jalan yang paling lurus dan adil yang mengantarkan kepada Allah SWT. Maka jika anda menghendaki untuk sampai kepada Allah SWT dan surga-Nya maka anda harus beramal dengan Al-Qur’anul Karim, karena dia akan menunjukkan, menuntun dan membimbing anda kepada jalan menuju Allah.

Di dalam ayat yang lain Allah menyifati Al-Qur’an dengan ruh dan salah satu makna ruh adalah segala sesuatu yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna. Sebagaimana halnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah SWT berfirman,

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu/Al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (Asy-Syura: 52)

Yang dimaksudkan dengan ruh di sini adalah Al Qur’an Al-Karim yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW.

Al-Qur’an adalah ruh bagi hati dan ruh hati lebih khusus daripada ruh badan. Allah menamainya dengan ruh karena dengan Al-Qur’an itu hati menjadi hidup. Maka apabila Al-Qur’an telah bertemu dengan hati pasti dia akan hidup dan bercahaya. Dia akan mengenal Rabbnya, menyembah-Nya di atas dasar bashirah (ilmu), takut kepada-Nya, bertakwa, mencintai-Nya, meninggikan serta mengagungkan-Nya. Ini dikarenakan Al-Qur’an merupakan ruh yang menggerakkan hati sebagaimana ruh (nyawa) yang menggerakkan badan.

Jika nyawa masuk ke dalam badan maka dia akan menggerakkan badan itu serta menjadikannya hidup. Demikian pula Al-Qur’an jika masuk ke dalam hati maka akan menghidupkan serta menggerakkan hati untuk takut kepada Allah, mencintai-Nya. Sebaliknya jika hati tidak kemasukan Al-Qur’an maka akan mati, sebagaimana badan yang tidak punya ruh juga akan mati.

Maka di sini ada dua kehidupan dan dua kematian, dua kematian adalah matinya jasmani an matinya hati sedang dua kehidupan adalah hidupnya jasmani dan hidupnya hati. Hidupnya badan berlaku bagi mukmin dan kafir, orang takwa dan orang fasik, bahkan seluruh manusia dan hewan tidak ada bedanya. Yang membedakan adalah hidupnya hati, dan ini tidak didapati kecuali pada hamba Allah yang mukmin an muttaqin. Adapun orang kafir, binatang ternak maka mereka kehilangan hidupnya hati, meskipun badan dan jasmani mereka hidup. Seorang mukmin selalu berada dalam dua kehidupan, hidupnya badan dan hidupnya hati. Orang kafir padanya ada kehidupan badan namun sama sekali tidak ada kehidupan hati.

Walhasil bahwasannya Allah menamakan Al-Qur’an dengan ruh dalam arti dia menjadikan hati hidup, mampu melihat dengan cahaya Allah dan perantaraanya, membimbing hati menuju keselamatan dan kehidupannya, mengenalkan hati kepada penciptanya, Rabb (penguasa dan pemiliknya) serta pemberi petunjuknya.

Demikian juga Allah menamai Al-Qur’an dengan Nur (cahaya), karena cahaya adalah sesuatu yang menerangi jalan yang terbentang di hadapan manusia sehingga tampak segala yang ada di hadapannya. Apakah ada lobang, ataukah duri lalu menghindarinya, kelihatan pula jalan yang selamat sehingga dia menempuh jalan itu.

Orang yang tidak punya cahaya maka dia berada di dalam kegelapan, tidak bisa melihat lobang serta duri, tidak mengetahui adanya bahaya karena memang tidak mampu untuk melihat.

Kita semua tahu adanya cahaya yang mampu kita indera, seperti cahaya matahari, lampu, lentera dan cahaya yang lain. Dengan adanya cahaya inilah kita tahu bagaimana sebaiknya berjalan di jalanan, di pasar, di rumah dan kita tahu dengan perantaraan cahaya itu apa yang perlu untuk kita jauhi dan waspadai.

Akan tetapi cahaya Al-Qur’an adalah cahaya maknawi yang memperlihatkan kepada anda apa yang bermanfaat bagi anda dalam urusan agama maupun dunia, menjelaskan kepada anda yang hak dan yang batil, menunjukkan jalan menuju surga sehingga anda menempuhnya berdasarkan cahaya dan bimbingan Allah SWT. Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu, (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An-Nisa’: 174-175)

Al-Qur’an adalah nur maknawi yang dengannya anda dapat melihat jalan yang terang dari jalan yang gelap, melihat jalan surga dari jalan neraka. Dengannya anda akan tahu mana yang bermanfaat dan mana yang bercahaya, anda tahu kebaikan dan keburukan. Maka Al-Qur’an adalah cahaya semesta alam untuk menuju jalan kesuksesan, kebahagiaan dan kemenangan mereka di dunia dan di akhirat.

Allah juga menyifati Al-Qur’an sebagai Furqan (pembeda) sebagaimana firman-Nya,

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)

Furqan (pembeda) artinya  Al-Qur’an membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara yang lurus dengan yang sesat. Dia merupakan pembeda dan pemisah yang akan memisahkan untukmu – wahai para muslim – apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya bagimu. Dia menyuruhmu mengerjakan kebaikan dan melarangmu dari perbuatan buruk dan dia memperlihatkan kepadamu apa yang kamu perlukan untuk urusan dunia dan akhiratmu, maka dia adalah furqan dalam arti membedakan antara yang hak dengan yang batil. Dia adalah petunjuk (huda) dalam arti menuntun, menunjukkan dan membimbing kepada jalan yang lurus. Dan dia adalah Nur karena menerangi jalanmu, dia adalah kehidupan karena membuat hati menjadi hidup, mengobati dan menghidupkannya jika hati itu sakit atau mati.

Allah juga menyebut Al-Qur’an ini sebagai syifa’ (obat penawar), Dia berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

Dia merupakan obat dari penyakit badan dan penyakit yang sifatnya maknawi. Merupakan obat bagi penyakit badan (hissiyah), dengan cara membacakannya untuk orang yang sakit atau terkena ain, kesurupan jin dan semisalnya. Maka dengan izin Allah akan menjadikannya sembuh jika bacaan tersebut berasal dari hati seorang mukmin yang yakin terhadap Allah SWT. Apabila keyakinan yang kuat dari orang yang membacakannya dan yang dibacakan untuknya berkumpul maka Allah akan memberikan obat kesembuhan bagi si sakit.

Al-Qur’an juga penyembuh bagi penyakit maknawi, seperti penyakit ragu-ragu (syak), Syubhat (kerancuan), kufur dan nifak. Penyakit-penyakit ini jauh lebih berbahaya daripada penyakit badan. Maka Al-Qur’an akan menyembuhkan hati, menghilangkan penyakit yang menimpanya, sebagaimana dia menyembuhkan badan dari segala penyakit yang menimpanya.

Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit badan, karena penyakit badan ujung penghabisannya adalah mati sedangkan mati itu pasti terjadi dan tidak mungkin dapat ditolak, Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-Ankabut: 57)

Namun penyakit hati sungguh berbahaya, karena penyakit hati jika dibiarkan terus menerus maka hati menjadi mati, artinya rusak secara total sehingga si empunya hati menjadi seorang kafir, condong kepada keburukan, fasik. Maka penyakit hati lebih berbahaya bagi manusia daripada penyakit badan, dan tidak ada obat baginya selain daripada Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah sebagai obat bagi manusia. Dia berfirman,

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai obat bagi orang mukmin dan mengkhususkan itu untuk mereka karena hanya mereka saja yang mampu mengambil manfaat dan mengambil petunjuk dengan Al-Qur’an itu sehingga hilang segala was-was, keraguan dan syubhat dari dalam hati mereka.

Sedang orang-orang munafik dan orang-orang kafir serta pelaku kemusyrikan maka mereka tidak dapat mengambil faedah darinya selagi mereka masih berada di atas kemusyrikan, kemunafikan dan kekufuran mereka. Kecuali jika mereka bertobat kepada Allah SWT.

Demikian itulah Al-Qur’an, dan demikian pula sebagian sifat-sifatnya, dan masih banyak lagi sifat-sifat Al-Qur’an yang disebutkan oleh Allah SWT di sejumlah ayat. Tetapi bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadap Al-Qur’an yang agung ini. Sesungguhnya Allah mewajibkan atas seluruh muslim terhadap Al-Qur’an ini berbagai kewajiban yang agung dan tanggung jawab yang amat besar, di antara yang terpenting akan kami sampaikan dalam bagian berikut ini.

BELAJAR DAN MENGAJARKANNYA

Kewajiban pertama adalah: Wajib atas setiap muslim belajar Al-Qur’an ini, mempelajarinya dan memahaminya lalu mengajarkannya kepada anak-anak mereka serta saudara-saudara mereka, memberikan perhatian untuk menghafalnya serta sebaik mungkin membacanya.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an lalu mengajarkannya.

Maksudnya adalah belajar Al-Qur’an untuk diri sendiri dan serius di dalam belajar lalu mengajarkannya kepada orang lain, saudara-saudaranya kaum muslimin sehingga tidak hanya berhenti pada dia sendiri. Maka kebaikan dan manfaatnya akan tersebar kepada saudara-saudaranya dan putra putri kaum muslimin.

Maka seorang muslim dituntut untuk memperhatikan masalah belajar Al-Qur’an ini, tidak cukup seseorang hanya sekedar bisa membaca Al-Qur’an saja, untuk mempelajarinya, memahaminya dengan benar, membacanya secara benar dan tidak cukup sekedar bisa membaca.

Walaupun orang yang terbata-bata dan berusaha membaca Al-Qur’an tetap mendapatkan pahala yang besar. Nabi SAW bersabda,

Dan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia itu terbata-bata serta mengalami kesusahan maka dia mendapatkan dua pahala.

Namun ini berlaku bagi orang yang belum mampu kecuali yang demikian itu, maka dia membaca Al-Qur’an sesuai kemampuannya dan Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya. Dan seorang muslim tidak boleh berhenti membaca Al-Qur’an meskipun dia telah lancar dan mampu membacanya.

Barangsiapa yang mampu dan mendapati orang yang dapat mengajarkan dan membimbingnya untuk membaca Al-Qur’an dengan benar (sesuai kaidah) maka dia harus mempelajari cara membaca Al-Qur’an sebagaimana yang diharuskan dan tidak boleh untuk tidak diketahui bagaimana bacaan Al-Qur’an yang benar, Nabi SAW bersabda,

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik, sedang orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan dia mengalami kesulitan maka dia mendapatkan dua pahala.

Yang dimaksudkan dengan orang mahir yaitu yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah maka dia bersama para malaikat yang mulia dan baik. Disebut dengan safarah, bentuk jamak (plural) dari safir (duta) karena para malaikat itu menjadi duta antara Allah dengan Rasul-Nya di dalam menyampaikan wahyu dan risalah. Para malaikat itu juga menjadi duta dari Allah SWT yang diutus untuk para hamba-Nya, para nabi dan rasul-Nya untuk menyampaikakn risalah (ajaran Islam). Sedangkan kiram bararah (mulia lagi baik) adalah bahwa para malaikat itu mulia di sisi Allah SWT dan bararah adalah jamak dari barr, berasal dari kata al birr yaitu segala perilaku baik dan ketaatan.

Inilah wahai saudaraku sesama muslim, balasan bagi orang yang benar di dalam membaca Al-Qur’an. Dia akan mendapatkan derajat yang tinggi dan baik, maka bersemangatlah kamu untuk dapat bersama dengan para malaikat al-karim al-bararah. Bagi dia yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa susah atau sukar maka janganlah berhenti membacanya sesuai yang dia mampu hingga nanti benar-benar bisa dan mendapati orang yang mengajarinya cara membaca Al-Qur’an yang benar.

Allah SWT berfirman,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

MEMBACA AL-QUR’AN ADALAH IBADAH

Kedua: Jika kita telah belajar (membaca) Al-Qur’an, mampu dengan baik dan benar maka ini belumlah cukup. Namun harus terus rutin membacanya karena membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang di dalamnya terdapat pahala yang amat besar.

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapatkan satu kebaikan sedang satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif-lam mim sebagai satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.

Beliau juga bersabda,

Terus meneruslah kalian di dalam membaca Al-Qur’an ini, karena ia lebih mudah lepas daripada unta dari tali penambatnya.

Maksudnya adalah perbanyaklah oleh kalian membaca Al-Qur’an ini karena manusia jika lalai dari Al-Qur’an, membiarkan lewat beberapa waktu tanpa membacanya maka hati akan tertimpa penyakit i’radh (berpaling), ghaflah (lalai) dan qaswah (keras). Apabila banyak membaca Al-Qur’an maka Al-Qur’an itu akan menghidupkan hatinya dan membuat cemerlang ingatannya.

Oleh karena itu, selayaknya setiap muslim tidaklah membiarkan sebulan berlalu kecuali telah membaca seluruh Al-Qur’an (khatam), ini merupakan batas maksimal. Dan jika dia mampu membaca Al-Qur’an kurang dari sebulan, sepuluh hari misalnya khatam satu kali maka dalam sebulan dia khatam tiga kali, dan ini lebih baik. Jika mampu mengkhatamkan setiap minggu maka ini lebih baik dan jika khatam setiap tiga hari maka lebih baik lagi. Karena semakin banyak dan bertambah bacaan Al-Qur’an maka semakin bertambah pula pahala, cahaya bashirah, serta hidupnya hati.

Membaca Al-Qur’an adalah hal yang mudah, baik membacanya di luar shalat seperti membaca Al-Qur’an sambil duduk, naik kendaraan, berbaring dengan atau tanpa wudhu dengan syarat tidak memegang mushaf bagi yang tidak punya wudhu. Sedangkan orang yang berhadats besar maka tidak boleh membaca Al-Qur’an sebelum dia mandi. Dan juga membaca Al-Qur’an ketika di dalam shalat, dan ini lebih utama, ketika melakukan qiyamullail (shalat malam) atau tahajjud. Allah SWT berfirman,

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzammil: 5-6)

Orang yang membaca Al-Qur’an di dalam shalat lail (malam) lebih utama daripada yang membaca sambil duduk atau membacanya pada waktu siang, meskipun membaca Al-Qur’an di waktu kapan saja merupakan ibadah yang besar. Akan tetapi dia berbeda keutamaannya dan tingkatannya sesuai waktu dan kondisi.

Semakin banyak seseorang membaca Al-Qur’an di dalam shalat fardhu, pada dua rakaat awal shalat ruba’iyyah (4 rakaat) dalam tsulatsiyah (3 rakaat), atau di dalam shalat fajar (Subuh) maka semakin panjang semakin utama (baik).

Oleh karena itu Allah juga menyebut Al-Qur’an dengan shalat, sebagaimana dalam firman-Nya,

Dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.” (Al-Isra’: 110)

Maksudnya janganlah engkau mengeraskan bacaan Al-Qur’an di dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya. Penyebutan Al-Qur’an dengan shalat juga terdapat dalam firman Allah yang lain,

Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Al-Isra’: 78-79)

Allah menyebut shalat fajar dengan kata Al-Qur’an karena panjangnya dalam shalat tersebut melebihi daripada shalat-shalat yang lainnya.

Walhasil, dari semua itu Allah menghendaki dan memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak bacaan itu dalam shalat kita yang fardhu dan yang sunnah. Juga di dalam kesempatan-kesempatan yang lain ketika sedang duduk, naik kendaraan maupun sedang berbaring. Nabi SAW membaca Al-Qur’an di dalam sebagian besar waktunya, tidak ada yang menghalangi beliau dari membaca Al-Qur’an selain janabah (junub).

Demikian pula tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an bagi seorang wanita yang sedang haidh atau nifas, karena keduanya merpakan hadats besar. Kecuali apabila dalam keadaan darurat (terpaksa). Tidak diperbolehkan pula membaca Al-Qur’an di tempat-tempat najis (kotor) seperti toilet atau WC. Adapun di tempat-tempat yang bersih, tempat-tempat yang mulia dan suci maka selayaknya seseorang membaca Al-Qur’an setiap kali memungkinkan baik membaca melalui hafalan maupun membaca melalui mushaf supaya mendapatkan bagian dari pahala membaca Al-Qur’an yang telah disabdakan Nabi SAW.

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapatkan satu kebaikan sedang satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif-lam-mim sebagai satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.

Dan dalam hadits yang lain,

Tidaklah suatu kaum (sekelompok orang) berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), rahmat meliputi mereka, dikelilingi para malaikat dan Allah menyebut (memuji dan membanggakan) mereka di hadapan hamba-hamba-Nya yang berada di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30)

Allah SWT memuji sifat-sifat ini, yang pertama mereka membaca Kitabullah dalam arti mereka membaca dan memperbanyak bacaannya untuk mencari pahala dan ganjaran, mengharapkan janji Allah SWT. Kemudian beramal dengan Al-Qur’an itu, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rizki yang diberikan Allah dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan karena mengharap pahala dari Allah.

MERENUNGKAN DAN MEMIKIRKAN MAKNA KANDUNGAN AL-QUR’AN

Ketiga: Belajar Al-Qur’an dan banyak membacanya belumlah cukup bagi kita, bahkan kita harus merenungkan dan memikirkan makna serta kandungan Al-Qur’an, apa yang diberitakan kepada kita berupa asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat Allah serta keagungan-Nya. Juga apa yang dikisahkan Al-Qur’an kepada kita tentang berita umat terdahulu yang beriman dan yang kafir.

Demikian pula apa yang menimpa orang-orang yang mendustakan para rasul/ayat-ayat Allah dan yang selalu berbuat dosa. Juga apa yang diberikan Allah berupa kemuliaan bagi orang-orang mukmin yang taat. Kita juga harus merenungi berita-berita tentang hari akhir serta apa yang terjadi pada hari tersebut berupa hisab, timbangan amal, pembagian catatan amal, surga, neraka, dan huru-hara yang begitu dahsyat.

Demikian juga kita renungkan apa yang terjadi setelah mati dan kejadian apa yang terjadi di dalam kubur, sungguh Al-Qur’an telah menyebutkannya secara rinci, itu semua adalah perkara yang akan datang dan kita semua pasti menemuinya. Perlunya ini semua agar kita semua mempersiapkan diri dengan amal shalih dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan.

Dan tak ketinggalan pula, kita memikirkan hukum-hukum syariat di dalam Al-Qur’an. Dia telah menjelaskan kepada kita apa-apa saja yang halal untuk kita dan yang haram atas kita, apa yang pantas dan yang tidak pantas dari perbuatan, sifat dan selainnya.

Allah SWT berfirman,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperlihatkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

Di dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang tujuan Allah menurunkan Al-Qur’an yaitu agar direnungkan ayat-ayatnya, dalam arti kita pikirkan maknanya sehingga kita dapat mengambil faedah berupa hidayah (petunjuk) dan munculnya rasa takut kepada Allah SWT. Lalu beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya lalu kita ketahui apa yang boleh untuk kita kerjakan dan yang harus kita tinggalkan berupa perbuatan, perkataan, muamalah (pergaulan) dan selainnya. Semua ini tidak akan sempurna dan terealisasi kecuali dengan cara memahami kandungan Al-Qur’an.

Allah SWT juga menyifati Al-Qur’an dengan Mubarak (yang penuh berkah) karena di dalamnya terdapat berkah dengan semua maknanya. Barangsiapa merenungi dan memahaminya maka akan memperoleh berkah tersebut. Barangsiapa mempelajarinya maka dia akan memperoleh berkah tersebut, lebih lebih bagi siapa yang mengamalkannya. Semakin dekat dengan Al-Qur’an maka semakin banyak pula seseorang mendapatkan berkah itu.

Allah SWT berfirman,

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisa’: 82)

Allah SWT mengingkari orang-orang yang berpaling dari Kitabullah dan sesungguhnya berpalingnya mereka dari Al-Qur’an telah menyebabkan mereka kebingungan dan tersesat. Andaikan mereka mau mentadaburi (merenungkan) Kitabullah, memperhatikan dan memikirkannya maka pastilah akan mendapatkan hidayah sehingga akan berubah duka dan kesedihan mereka menjadi kebahagiaan.

Kalau saja mereka mau merenungi isi Al-Qur’an maka akan tahu bahwa dia adalah kalam (firman) Allah karena tidak ada kontradiksi (pertentangan) di dalamnya, bahkan antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan, sebagian menjelaskan sebagian yang lain, sebagian mirip dengan yang lainnya dalam kemudahan, ketinggian bahasa, kebenaran dan kemu’jizatannya. Di dalamnya tidak ada perbedaan bahkan sebagian membenarkan yang lain, menjelaskan serta menguatkannya. Dia adalah kitab yang isinya berserasian dan saling ada kemiripan antara satu dengan yang lainnya.

Allah SWT berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya).” (az-Zumar: 23)

Yaitu menyerupai sebagiannya terhadap sebagian yang lain di dalam keindahan, keserasian dan kebenaran, menerangkan satu dengan yang lainnya dan tidak ada pertentangan selama-lamanya (sama sekali). Berbeda jauh dengan perkataan manusia yang banyak dijumpai kekeliruan, karena manusia memiliki sifat kurang, dan perkataannya sering kontradiktif. Bahkan boleh jadi salah satu perkataannya mendustakan perkataannya yang lain. Adapun kalam Allah Al-Khaliq maka terbebas dari segala yang demikian itu. Dia merupakan kitab yang teliti lagi muhkam, tidak ada kesalahan, kekurangan dan pertentangan sebagai bukti bahwa itu diturunkan dari Dzat yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.

Allah SWT berfirman, “(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.” (Huud: 1)

Jika anda membaca Al-Qur’an dengan perenungan, meresapi maknanya serta menghadirkan hati maka akan sirna segala keraguan dan was-was serta akan muncul dalam hati anda ketenangan serta semakin kuat keimanan di dalam hati anda. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berfirman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfal: 2-4)

Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakkur terhadap isinya akan menambah keimanan seseorang sebagaimana firman Allah, “Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (At-Taubah: 124)

Semakin banyak seseorang merenungkan dan memikirkan Al-Qur’an maka semakin bertambah pula keimanan, keyakinan serta ketenangan hatinya dan bertambah juga ilmu serta pemahamannya. Ulama tidak akan pernah merasa kenyang dengan Al-Qur’an, keajaibannya tidak pernah sirna dan tidak pernah using karena sering dibaca. Allah SWT berfirman sebagai bantahan bagi orang-orang murtad dan yang melenceng dari Al-Qur’an,

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci. Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): ‘Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan’.” (Muhammad: 22-26)

Sekiranya orang-orang munafik itu mau merenungkan Al-Qur’an maka akan hilang seluruh penyakit (hati) dan seluruh bentuk keberpalingan yang buruk itu. Dan niscaya mereka akan menyambung silaturahim dan apa saja yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya dan niscaya mereka akan menaati Allah dan Rasul-Nya, namun sayang mereka berpaling dari Al-Qur’an serta tidak mau merenungkannya maka Allah menurunkan musibah-musibah itu, memutus silaturahim dan berhak menerima laknat dan terjerumus ke dalam riddah (murtad). Semua itu disebabkan karena mereka enggan untuk mentaaburi Al-Qur’an.

Hati mereka telah terkunci dari memahami Al-Qur’an, “Ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad: 24)

Manusia jika berpaling dari Al-Qur’an maka hatinya akan mengeras dan berpenyakit sehingga akhirnya petunjuk dan cahaya tidak mampu menembusnya. Itu semua sebagai bentuk hukuman baginya, – kami berlindung kepada Allah-, ini semua karena tidak merenungkan Al-Qur’anul Karim. Oleh karena itu Al Imam Ibnul Qayyim berkata:

Hayatilah Al-Qur’an jika anda menginginkan petunjuk

Karena ilmu itu ada di balik penghayatan Al-Qur’an

MENGAMALKAN AL-QUR’AN

Keempat: Tidaklah cukup bagi kita belajar Al-Qur’an, membaca dan merenungkannya, namun harus dengan point yang ke empat ini, yaitu mengamalkannya. Dalam arti kata halalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan kita haramkan semua keharamannya, kita pegang erat perintah-perintahnya dan kita jauhi segala larangannya.

Inilah sebenarnya yang menjadi tujuan utama, sedang apa yang telah tersebut sebelumnya berupa belajar Al-Qur’an, membaca serta merenungkan isinya semua itu merupakan wasilah (perantara) untuk mengamalkannya. Apabila kita hanya cukup dengan membaca dan memahami Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya maka kita telah berhenti pada langkah awal, tidak mendapatkan apa-apa. Maka jadilah kita orang yang kelelahan namun tidak mendapatkan faidah, karena kita hanya capek berusaha namun tidak mau mengambil buah dan buah ini diibaratkan sebagai pengamalan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30)

Ayat di atas menunjukkan bahwa mereka tidak mencukupkan diri dengan membaca Al-Qur’an saja namun mereka mendirikan shalat setelah membaca Kitabullah, mereka juga menginfakkan sebagian dari rizki yang diberikan Allah dengan membayar zakat, bersedekah dan berderma kepada sesama manusia. Ini semua merupakan buah dari membaca Al-Qur’an yaitu mengamalkan apa yang menjadi isinya. Sebab jika engkau mengamalkannya maka Al-Qur’an itu menjadi pembela bagimu di sisi Allah SWT dan jika engkau enggan mengamalkannya maka akan berbalik menjadi hujjah atasmu. Nabi SAW bersabda,

Al-Qur’an merupakan hujjah bagimu atau (hujjah) atasmu.

Pada hari Kiamat kelak Allah SWT akan bertanya,

Bukanlah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (Al-Mukminun: 105)

Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur’an) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang.” (Al-Mukminun: 65-66)

Allah SWT pada Hari Kiamat akan bertanya kepada orang-orang kafir dan para penghuni neraka, “Bukankah Aku telah menjelaskan kepada kalian di dalam Al-Qur’anul Karim tempat kembali ini (neraka) dan siksanya, supaya kalian menjauhinya dan supaya kalian beramal shalih yang dapat menyelamatkan kalian darinya? Maka barangsiapa yang mencukupkan diri dengan belajar Al-Qur’an, membaca serta mempelajarinya dan tidak mau merenungkannya maka sungguh telah tegak atasnya hujjah. Oleh karena itu, sebagian salaf berkata, “Berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an namun Al-Qur’an melaknatnya. Orang-orang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Maka dia menjawab, ‘Dia membaca firman Allah, “La’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61) sedangkan dia berdusta, serta membaca firman Allah, “Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim.” (Hud: 18) padahal dia berbuat aniaya (zhalim).

Jadi yang dituntut dalam membaca Al-Qur’an bukan hanya melagukan dan melafalkannya dengan baik, menikmati bacaannya yang indah saja sebab itu belumlah cukup dan tidak memberi faidah. Sebagaimana hal itu terjadi pada sebagian manusia di masa ini di mana mereka menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai profesi untuk lagu dan penyejuk telinganya. Mereka sangat asyik mendengarkan bacaan Al-Qur’an, telinga-telinga mereka menikmati itu. Namun kalau ada orang lain bertanya tentang pengamalan dan realisasinya maka tidak anda dapati selain hanya sedikit saja, maka yang demikian ini tidaklah cukup dan tidak memberikan faidah.

Memang benar, memperindah suara dengan Al-Qur’an dan membaca dengan benar adalah diperintahkan, dan ini dapat memberikan pengaruh dan hal yang layak untuk Al-Qur’an. Tetapi ini bukanlah yang menjadi target namun yang menjadi target adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an, mengambil berbagai faidah serta hati menjai khusyu’ (tunduk) tatkala mendengarkannya.

Rasulullah SAW merupakan orang yang senang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain, pernah beliau mendengarkan bacaan Abu Musa Al Asy’ari yang memiliki suara bagus. Beliau juga pernah menyuruh Abdullah Ibnu Mas’ud agar membacakan untuk beliau dan beliau mendengarkannya. Maka Abdullah Ibnu Mas’ud bertanya, “Bagaimana mungkin saya membacakan Al-Qur’an untukmu padahal kepadamu Al-Qur’an itu diturunkan.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku senang mendengarkannya dari selainku.” Maka Abdullah Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa’ dari Awal hingga sampai pada firman Allah,

Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41)

Maka Nabi bersabda, “Cukup!

Abdullah lalu berkata, “Aku lalu menoleh ke arah beliau dan ternyata kedua mata beliau meneteskan air mata.”

Ini menunjukkan bahwa hendaknya seseorang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an segera untuk khusyu’ dan tunduk jangan hanya sekedar bertujuan untuk asyik dengan bacaannya saja namun bermaksud untuk khusyu’ terhadap kalam Allah SWT.

Allah SWT berfirman,

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204)

Ini merupakan salah satu adab seorang muslim terhadap Al-Qur’an yaitu mendengarkan dan diam. Sedang orang yang membaca atau mendengarkan sekedar untuk suka-suka atau asyik dengan bacaan maka itu belumlah memberikan faidah. Yang benar-benar berfaidah adalah orang yang menjadi khusyu’ dan tunduk ketika mendengarkan firman Allah SWT. Dialah orang yang memahami dan berusaha tahu makna makna Al-Qur’an Kalamullah dan dialah orang yang mengamalkan firman Allah SWT. Dialah orang yang membaca atau mendengarkan Al-Qur’an karena mengharap wajah Allah SWT bukan karena riya’ dan sum’ah, atau sekedar untuk membaguskan suara atau untuk asyik dengan bacaan saja. Semua ini tidak cukup dan tidak memberikan faidah sedikitpun bagi seseorang sebelum orang tersebut memiliki kriteria-kriteria yang agung sebagaimana tersebut di atas.

Demikianlah, kami memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kita semua termasuk ahlul Qur’an yaitu mereka yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merenungkan isinya dengan benar serta mengamalkannya dan juga ikhlas di dalam pengamalan tersebut, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

MENJAGA AL-QUR’AN DARI PENAFSIRAN TANPA ILMU

Kelima: Al-Qur’an harus dijaga dari segala bentuk penafsiran yang tidak dilandasi dengan ilmu. Nabi SAW telah bersabda,

Barangsiapa yang berkata tentang Al-Qur’an semata mata dengan pendapatnya atau dengan apa yang tidak dia ketahui maka hendaknya dia menyediakan tempatnya di dalam api neraka.” (At-Tirmidzi berkata, “Ini hadis hasan.”)

Al-Qur’an harus ditafsirkan dengan Al-Qur’an atau dengan As-Sunnah, atau dengan ucapan sahabat atau dengan ucapan tabi’in atau dengan makna gramatikal bahasa Arab yang dengan bahasa itu Al-Qur’an diturunkan. Demikian urutan di dalam menafsirkan Al-Qur’an maka menafsirkan Al-Qur’an dengan ro’yu (akal-akalan) adalah haram dan diancam dengan sangat keras, sebab itu merupakan bentuk perkataan atas nama Allah tanpa dasar ilmu.

Di antaranya adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan teori-teori modern yang secara umum termasuk dugaan-dugaan orang jahil, yang saling bertentangan (kontradiktif), berubah-ubah, dan sebagian mendustakan sebagian yang lain. Maka anda tidak boleh menjadikan itu semua sebagai bentuk penafsiran terhadap Kitabullah sebagaimana hal itu dilakukan oleh orang-orang bodoh di masa ini, mereka menyebutnya dengan al-i’jaz al-‘ilm. Ini merupakan sesuatu yang berbahaya merupakan bentuk mempermainkan Kitabullah, maka wajib untuk berhati-hati dari itu serta waspada terhadapnya.

TANYA JAWAB

Tanya jawab berikut adalah berkenaan dengan tema muhadharah, sengaja kami memuatnya agar menjadi pelengkap dan dapat memberikan manfaat.

S1: Ada sebuah hadits yang menyebutkan sabda Nabi SAW, “Diperlihatkan kepadaku dosa-dosa umatku, aku tidak melihat yang paling besar selain dari seseorang yang menghafal Al-Qur’an lalu melupakannya.” Demikian kira-kira sabda beliau, apakah makna dari hadits tersebut?

J: Saya tidak mengetahui tentang hadits ini, dan belum pernah menemukannya. Akan tetapi lupa itu ada dua macam, yang pertama adalah karena lemahnya daya ingat atau karena sakit yang menimpa seseorang maka ini tidak berdosa. Dan yang kedua adalah karena berpaling (enggan) untuk membacanya maka yang demikian berdosa karena melupakannya disebabkan oleh sikap ceroboh dan meremehkan.

S2: Wahai Syaikh, sesungguhnya saya berusaha terus membaca Al-Qur’an dan saya sangat mencintai Kitabullah namun terkadang saya merasa agak jengkel (dada menjadi sempit) karena tidak dapat menyempurnakan bacaan saya (missal, selesai satu surat Al-Baqarah atau sekian juz dalam sekali baca), bagaimanakah jalan keluarnya?

J: Jalan keluarnya telah ditunjukkan oleh Allah di dalam firman-Nya, “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An-Nahl: 98-100)

Allah SWT menjelaskan bahwa sebelum kita membaca Al-Qur’an hendaknya kita berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk agar Dia mengusir dan menjauhkan dari kita. Di samping itu engkau harus mentadabburi (merenungkannya) karena dengan merenungkan maka akan mendatangkan rasa khusyu’ sehingga merasa ingin terus terhadap Al-Qur’an. Jangan sepenuhnya engkau hanya berkeinginan untuk menyelesaikan satu surat atau satu juz atau yang semisal itu, namun yang menjadi tujuan adalah untuk tadabbur dan tafakkur (merenungi dan memikirkan) apa yang engkau baca berupa ayat-ayat Allah. Rasulullah SAW apabila memanjangkan bacaannya pada shalat malam ketika melewati ayat rahmat beliau memohon kepada Allah dan tidaklah beliau melewati ayat yang menyebutkan azab kecuali beliau berhenti dan memohon perlindungan kepada Allah, di mana ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW membaca Al-Qur’an dengan perenungan dan menghadirkan hati.

S3: Syaikh yang mulia, apa nasihat anda untuk para pemuda tentang cara termudah di dalam menghafal Kitabullah?

J: Al-Qur’an itu mudah dan dimudahkan untuk dihafalkan, Allah SWT berfirman,

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” (Al-Qamar: 17)

Hal yang terpenting adalah kemauan yang keras dan niat yang benar, jika seseorang memiliki kemauan yang sungguh-sungguh, serius terhadap Al-Qur’an maka sungguh Allah akan memudahkan dia untuk menghafalnya. Ada juga beberapa hal yang dapat membantu di dalam menghafal Al-Qur’an seperti memilih waktu yang cocok setiap harinya, mendatangi (belajar) kepada guru-guru Al-Qur’an, Alhamdulillah sekarang pengajar Al-Qur’an sudah sangat banyak. Di dalam sebuah desa biasanya pasti ada paling tidak seorang pengajar Al-Qur’an (hafizh). Ini merupakan kesempatan besar yang belum tentu dijumpai pada masa-masa yang lalu. Maka kepada penanya silakan mencari halaqah tahfizh yang ada atau salah seorang guru yang ada serta harus rutin hadir setiap hari sehingga hafal seluruh Al-Qur’an. Dan juga hendaknya banyak-banyak mengulang yang telah engkau hafal dua atau tiga kali hingga benar-benar tertanam dalam hati dan ingatan. Juga kamu harus mengamalkan Kitabullah itu karena ini merupakan sarana terbesar untuk mempelajarinya. Allah SWT berfirman,

Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

S4: Syaikh yang mulia, kitab tafsir amatlah banyak, lalu tafsir manakah yang Syaikh anjurkan untuk dibaca? Jazakallahu khairan.

J: Memang benar bahwa tafsir amatlah banyak –alhamdulillah– ini merupakan sebagian nikmat Allah SWT. Kitab-kitab tafsir berbeda antara satu dengan yang lain ada yang panjang, ada yang ringkas, ada tafsir yang selamat dari berbagai kesalahan dan ada pula yang terdapat berbagai macam kesalahan terutama dalam masalah akidah. Yang saya sarankan kepada saudara-saudaraku para pemuda untuk dibaca adalah tafsir Ibnu Katsir karena termasuk tafsir terbesar dan terbaik dalam penyajian dan metodenya walaupun juga dia itu ringkas (dibanding tafsir lainnya, pent.) karena ia menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an lalu dengan As Sunnah lalu dengan ucapan para sahabat baru kemudian berdasar makna gramatikal bahasa Arab yang dengan bahasa itu Al-Qur’an diturunkan. Dia merupakan tafsir yang teliti dan dapat dipercaya. Demikian juga Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Hafizh Ibnu Jarir Ath-Thabari yang merupakan tafsir yang luas dan menyeluruh. Tafsir-tafsir tersebut merupakan tafsir yang terpercaya. Juga tafsir Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di (Taisiril Karimir Rahman, penj) merupakan tafsir yang bagus bahasanya, mudah, dan kandungan isinya amat luas. Sedangkan tafsir-tafsir yang lain dari beberapa segi memang bagus namun terkadang terdapat beberapa kesalahan terutama dalam hal akidah. Maka sebaiknya tidak usah membaca buku-buku tafsir yang demikian itu kecuali bagi orang yang sudah mapan pengetahuannya, sehingga dapat mengambil apa-apa yang baik dan menjauhi segala kesalahannya. Sedangkan bagi pemula mungkin tidak mampu demikian, maka sebaiknya dia menggunakan buku-buku tafsir yang tidak terdapat penyimpangan seperti tafsir Ibnu Katsir, Al-Baghawi, Ibnu Jarir, alhamdulillah itu semua merupakan kitab-kitab tafsir yang baik dan berbobot.

S5: Apa pelajaran terpenting yang hendaknya dimulai oleh penuntut ilmu, apa pula nasihat anda? Kemudian bagaimana pendapat anda tentang orang yang beralasan dengan studinya ketika diajak untuk menghadiri ta’lim atau pelajaran?

J: Penuntut ilmu seharusnya masuk ke salah satu lembaga (ma’had) atau sekolah cabang Universitas Ibnu Sa’ud yang menggunakan kurikulum dan buku panduan yang baik yang tersusun berdasarkan tingkatan para siswa. Sedikit demi sedikit dan bertahap masuk tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya hingga selesai. Dan juga masing-masing tahun ada muqarrar tersendiri yang berbeda antara tahun pertama dengan tahun setelahnya dengan cara bertahap tentunya. Muqarrar atau kurikulum tersebut merupakan hasil pilihan para ulama dan ustadz-ustadz yang mereka amat berjasa di dalam mendirikan lembaga pendidikan, pengadaan manhaj dan muqararnya.

Maka saya menganjurkan kepada para pelajar agar masuk ke lembaga-lembaga tersebut sebisa mungkin, kemudian menyambung dengan kuliah di universitas baik di fakultas Syari’ah, Ushuludin, Hadits dan Ilmu Hadits juga fakultas Bahasa Arab. Bagi yang belum memiliki kemungkinan untuk masuk ma’had ataupun kuliah dia punya kesempatan untuk hadir di “durus” (majlis) para ulama yang mengajar di masjid-masjid, Alhamdulillah ini juga cukup banyak dan pelajaran-pelajaran tersebut biasanya telah mencakup seluruh ilmu syar’i.

Saya juga menyarankan agar konsisten dan terus-menerus di dalam mengikuti pelajaran baik yang di bangku kuliah maupun pelajaran-pelajaran yang disampaikan di masjid-masjid. Tidak cukup baginya hanya datang seminggu lalu absen beberapa minggu atau datang satu bulan kemudian absen sekian bulan. Ini semua tidak bermanfaat karena jika ada ilmu yang luput atau ketinggalan maka akan terdapat kekosongan di dalam ingatan dan pengetahuan sehingga hilang pula kebaikan yang amat banyak. Jadi yang penting adalah mulazamah (konsisten), perhatian, serius serta bersemangat yang tinggi.

S6: Syaikh yang mulia, apa pendapat Syaikh tentang yang dilakukan sebagian orang pada masa ini di maa mereka apabila imam shalat melewati (membaca) ayat-ayat tentang adzab mereka mohon perlindungan kepada Allah padahal mereka sedang shalat. Kemudian jika imam membaca ayat-ayat rahmat mereka memohon kepada Allah, bagaimana hukumnya itu?

J: Tidak diragukan lagi bahwa yang demikian itu disyariatkan di dalam shalat sunnah (nafilah) karena Rasulullah SAW melakukannya ketika di dalam shalat sunnah. Adapun dalam shalat fardhu berdasar pengetahuan saya itu tidak disyariatkan, sebab Rasulullah tidak pernah melakukannya dalam shalat fardhu tersebut, namun beliau melakukan itu dalam shalat sunnah.

Maka selayaknya para makmum diam mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam shalat fardhu itu, dan jangan mengucapkan apa-apa sama sekali, Allah SWT berfirman,

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204)

Imam Ahmad mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan shalat, yaitu sebab turunnya ayat tatkala dalam konteks shalat (fardhu). Maka makmum harus mendengarkan bacaan imam dalam shalat fardhu dan jangan berdoa tatkala sampai pada ayat-ayat rahmat jangan pula minta perlindungan ketika melewati ayat-ayat azab, ini semua hanya di dalam shalat sunnah.

S7: Syaikh yang mulia, ada salah seorang imam di salah satu masjid di kota Riyadh yang mempunyai suara sangat indah dan bagus bacaan Al-Qur’annya. Lalu orang-orang banyak yang berdatangan ke masjid itu dari berbagai tempat yang jauh. Mereka meninggalkan masjid-masjid yang terdekat dengan mereka ketika dalam shalat-shalat jahriyah (dengan bacaan nyaring) khususnya pada malam hari bulan Ramadhan dalam shalat tarawih. Apakah hal itu boleh, kami mohon penjelasannya-jazakumullah khairan.

J: Memang benar bahwa itu salah satu fenomena yang ada yakni banyaknya orang yang memadati salah satu masjid dan mereka datang dari tempat-tempat yang jauh menuju sana, padahal itu semua tidaklah dianjurkan. Saya sendiri tidak menganggap baik (utama) perbuatan tersebut sebab yang utama adalah shalat di masjid yang paling dekat dengan rumah, memakmurkan masjid itu dan juga karena tidak ada unsur memaksakan diri sehingga lebih selamat dari sifat riya’. Di samping itu terkadang yang demikian dapat memberikan dampak psikologis bagi imam masjid yang ditinggalkan serta menjadikan renggang hubungan antara dia dengan jama’ah yang tidak shalat di masjid bersamanya. Apabila orang-orang meninggalkan masjid mereka lalu menuju masjid tertentu maka akan banyak masjid-masjid yang terlantar sehingga sekali lagi saya tidak menganggap itu sebagai kebaikan (tidak setuju, penj). Yang utama adalah setiap penduduk kampung hendaknya shalat di masjid mereka.

Masalah kedua: Jika orang-orang berduyun-duyun memadati salah satu masjid maka bisa jadi mereka shalat di jalanan, padahal shalat di jalan tidak dibolehkan kecuali dalam keadaan terpaksa (darurat) seperti pada hari Raya (Ied) atau hari Jum’at karena masjid yang tidak muat, maka dalam kondisi seperti ini diperbolehkan shalat di jalan.

S8: Syaikh yang mulia, apa hukumnya seseorang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia tidak punya wudhu baik membaca yang dia hafal maupun membaca melalui mushaf?

J: Seseorang boleh membaca Al-Qur’an dalam keadaan tidak punya wudhu jika membaca yang dia hafal karena Rasulullah SAW tidak pernah menghalangi diri dari membaca Al-Qur’an kecuali jika sedang junub, beliau membacanya dalam keadaan punya wudhu atau tidak punya wudhu.

Adapun mushaf maka orang yang berhadats maka tidak boleh memegangnya baik hadats kecil maupun hadats besar, Allah SWT berfirman,

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (Al-Waqi’ah: 79)

Yang dimaksud suci adalah suci dari hadats, najis dan syirik dan dalam sebuah hadits Nabi SAW dalam sebuah surat yang beliau tulis untuk Amr bin Hizam….beliau menyatakan “Tidaklah menyentuh mushaf kecuali orang yang suci.

Ini juga merupakan kesepakatan imam empat bahwasannya seseorang yang berhadats tidak boleh menyentuh mushaf baik hadats besar maupun kecil kecuali jika ada tutup atau sesuatu yang melapisinya seperti mushaf dompet atau yang ada tempatnya, atau menyentuh dengna dilapisi kain dan yang semisalnya.

S9: Apa pendapat anda tentang seseorang yang mencurahkan perhatian untuk urusan penting kaum muslimin seperti dakwah, mendidik pemuda agar mereka konsisten dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak punya waktu untuk menghafal Al-Qur’an, apa pula nasihat anda?

J: Seorang da’I terlebih dahulu harus mempersiapkan diri sebelum terjun langsung ke medan dakwah yaitu dengan cara mempelajari Al-Qur’an beserta makna dan tafsirnya, belajar hadits Nabi SAW sesuai kemampuan lalu membaca syarahnya (penjelasannya) dan juga mempelajari hukum-hukum syariah. Seorang da’i yang mengajak ke jalan Allah hendaknya muahhal (profesional), maka tidak layak untuk berdawah kecuali orang yang memiliki ilmu, Allah SWT berfirman,

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)

Al-Bashirah adalah ilmu dan hikmah, Allah SWT juga berfirman,

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (An-Nahl: 125)

Maka orang yang jahil tidak selayaknya berdakwah, karena sangat mungkin dakwahnya bermasalah seperti menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal atau berlebih-lebihan di dalam masalah yang tidak berat dan lain sebagainya. Maka seorang dai haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai dai salah satu yang terpenting adalah harus belajar ilmu yang dengan ilmu itu dia akan mampu mengajak manusia kepada agama Allah SWT. Dan juga terkadang seorang da’i akan menghadapi berbagai syubhat yang membutuhkan jawaban, maka jika dia jahil bagaimana mungkin akan menjawab syubhat-syubhat tersebut?

Bagaimana dia akan mampu menjawab berbagai penentangan para penentang bagaimana dia akan melawan atheis, orang-orang fasik dan para pelempar syubhat? Jika dia tidak punya ilmu maka tentu tidak akan berdaya melawan orang-orang seperti mereka. Maka merupakan keharusan bagi seorang dai untuk mengetahui Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, fikih, akidah dan ilmu-ilmu yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: