Dimana cinta kan bertepi

Kami butuh dicintai. Apakah kami harus mencari cinta pada hal-hal yang dilarang olehNya. Sedangkan kami tahu bahwa cinta sejati itu hanya akan didapat dengan mengikuti aturan yang telah Allah tetapkan. Cinta Suci dan Ukhuwah Suci.

Bagaimana pandanganmu terhadap kami?

Jika kami berusaha mencintai Allah dengan cinta tertinggi, semata-mata untuk mengharap keridhoan Allah, sedangkan jika Allah telah cinta maka semua keinginan pun akan Allah kabulkan untuk kami. Namun “jika keinginan kami pun belum terwujud jua”, maka biarlah kami terasing dalam rahasia cinta ini. Biarlah kami terasing untuk selalu berhusnudzon pada Allah, dalam hati yang ikhlas, dalam asa yang tak pernah terputus, asalkan Allah tak murka, itu cukup bagi kami.

Bagaimana  pandanganmu terhadap kami?

Janganlah memicingkan mata dan jijik melihat kami, hanya gara-gara pakaian takwa kami, hanya karena kami menghujamkan dalam-dalam keimanan kami. Hanya karena kami memandang hakikat hidup ini sebagaimana Rosulullah dan para sahabatnya memandangnya.

Hidup hanyalah ladang ujian keimanan. Akhirat adalah waktu menuai hasilnya.

Insya Allah semoga Allah memberikan kami keyakinan dan kesabaran yang baik,memberikan rezeki yang berkah dan melimpah/cukup untuk hidup dan perjuangan kami.

Jangan sampai anda menyuruh orang lain agar “menjadi orang yang tidak ‘alim/tidak sholeh” hanya gara-gara anda khawatir jika menjadi orang shaleh, akan banyak ujiannya.

Ingatlah jalan ke syurga itu amaaat berliku, jika engkau melihatnya maka engkau akan enggan melewatinya

Ingatlah jalan ke neraka itu amaaat nikmat dan mudah, jika engkau melihatnya maka engkau tergoda.

Tapi ingatlah jua,meskipun ujian itu sulit, Allah telah berjanji akan menolong dan memberikan jalan keluar. Semoga Allah memberikan khusnul khotimah kepada kita. aaaamiin.  Tiada Robb yang berhak diibadahi dengan haq kecuali Allah. Allahumma sholli ala muhammad.

Meluruskan niat pernikahan yang benar, hanya karena Allah

  • Innamal a’malu binniyat… Kesucian niat dan keistiqomahan dalam menjalankan sesuai syariat begitu agungnya

Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

      • Proses pernikahan akan mempengaruhi niat, proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan pada bersihnya niat. Memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat sedang mempersulit proses pernikahan akan mengotori niat
      • Harapan orang yang biasanya menghambat niat pernikahan:
        • Menganggap pernikahan penghalang membahagiakan orang tua dan memenuhi harapan-harapanya
        • Menganggap pernikahan akan merepotkan studi, padahal justru penglihatan akan lebih terjaga dari keharaman, dan semakin bersemangat untuk terus belajar
      • Kebersihan dan kesempurnaan niat bukan hanya waktu memilih calon istri tapi juga menyertai berbagai urusan mulai dari meringankan mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah

وَآتُواْ النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَة

ً

Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(Qs. An Nisaa: 4)

Rasulullah  bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah . telah bersabda, “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya) (HR. Ahmad)
Nabi  pernah berjanji : Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya (HR. Ashhabus Sunan)
Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya (Ditakhrij dari An Nasa’i)

Maka mari bersama-sama memperbaiki niat

    • Proses pelaksanaan dan caranya sesuai dengan ketentuan dan syariat Allah
      • Termasuk dalam memilih calon, dan proses menuju jenjang pernikahan seperti bersih dari pacaran, berdua-duaan dan mengumbar hawa nafsu
      • Sudah seakan-akan biasa pernikahan pada masa ini pesta-pora yang wah, mahar yang tinggi, berharap pemberian dari tamu. Bukanya penuh tawadhu’, sesuai kemampuan yang dimiliki dan kitalah yang seharusnya memberi shadaqah

Hadits Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas radliallahu `anhu  Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf:
“Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)
Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih (sesuai dengan taraf ekonomi kita)
Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih menunjukkan dibolehkan pula mengadakan walimah tanpa daging

Perkawinan yg dibangun atas dasar AQIDAH

Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, seorang suami hendak menceraikan isterinya.Pesona kecantikan isterinya telah meredup sehingga gairah cinta kepadanya pun mulai memudar.

Umar memberikan nasehat, “Sungguh jelek niatmu. Apakah sebuah rumah tangga hanya dapat terbina dengan cinta? Di mana takwa dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai pasangan suami isteri, telah saling bercampur dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil perjanjian yang kuat?”

Nasehat Umar bin Khattab di atas menegaskan suatu fondasi yang harus dibangun dalam bangunan pernikahan, yaitu cinta kepada Allah bukan cinta kepada hawa nafsu. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan takwa, yang menjadikannya hati-hati mengarungi samudera kehidupan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Cinta kepada Allah melahirkan rasa malu, yaitu malu berbuat maksiat kepada Allah dan malu akan keegoan diri. Dan cinta kepada Allah menjadikan seseorang selalu teringat dan terikat untuk memenuhi janjinya kepada Allah, salah satunya yaitu memperlakukan isteri sesuai dengan hukum Allah sebagai konsekuensi diperbolehkan mencampurinya secara halal.

Sedangkan cinta kepada hawa nafsu akan menghilangkan ruh dari bangunan pernikahan. Kenikmatan pernikahan hanya akan tercipta sepanjang terpenuhinya kebutuhan hawa nafsu, yang secara sunatullah, akan mengalami puncak pemenuhannya kemudian berangsur menurun dan menurun hingga ke titik nadhir dan mengalami kebosanan. Jika hawa nafsu tidak menemukan pemenuhannya, maka ia akan mencari “jalan lain” dengan perselingkuhan. Atau cerai dan nikah lagi, demikian seterusnya. Dan selamanya, tuntutan hawa nafsu itu tidak akan terpuaskan hingga ia berpisah dari jasadnya.

Cinta kepada Allah-lah yang menjaga rumah tangga menjadi rumah tangga yang produktif. Ibarat pohon, ia adalah pohon dengan akar yang kokoh menghujam, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya lezat dan terus berbuah sepanjang musim. Dikatakan bahwa bangunan pernikahan itu adalah setengah dien, sebab dengan membangun rumah tangga maka produktifitas amal kebaikan bisa ditumbuh-suburkan dan ditingkatkan. Rumah tangga adalah sarana untuk menyempurnakan keimanan kepada Allah dan jalan untuk menanam kebaikan di dunia dan mendulang pahala untuk kehidupan akhirat.

Dengan dasar cinta kepada Allah, maka jalan keluar atas permasalahan yang melilit pun diurai dalam bingkai keimanan. Ia tidak menjadi masalah yang ruwet karena dengan keimanan jiwa-jiwa akan menjadi lapang dan tidak terjebak oleh dorongan hawa nafsu yang selalu memprovokasi kepada keretakan rumah tangga.

Ada kisah menarik yang menjadi cerminan saya. Saya mendapatkan pelajaran berharga dari kisah ini.
Seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan perangai buruk isterinya. Sesampai di pintu rumahnya, ia mendengar isteri Umar mengomeli Umar sang khalifah itu, sementara Umar sendiri hanya berdiam saja tanpa memberikan reaksi apa-apa. Di depan pintu rumah Umar itu, ia bergumam, “Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan aku?” Ia pun beranjak pergi. Namun bersamaan dengan itu Umar keluar. Umar pun memanggilnya, “Ada keperluan penting?”

Ia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal isteriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu mendengar isterimu sendiri berbuat seperti itu, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata, “Saudaraku, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari isteriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Ia selalu bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencuci pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan isteriku, karena itu aku menerima sekalipun dimarahi.”

Orang itu berkata, “Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap isteriku?” Jawab Umar, “Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan isterimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.”

Kita sangat patut bercermin kepada Sahabat Umar -termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga-dalam menyikapi kehidupan berumah tangga.

Kini, betapa sering kita menyaksikan bangunan pernikahan yang retak hanya karena masing-masing merasa tidak dihargai, dibenci, dan dimarah-marahi. Terlebih jika seorang suami yang dimarah-marahi, pasti ia akan merasa harga dirinya menjadi rendah, malu, dan kemudian terdorong hatinya untuk pindah ke lain hati. Bukankah tidak sulit seorang laki-laki untuk melakukan hal itu?

Tetapi yang dilakukan Umar, seorang Amirul Mukminin kuat, keras pendirian, dan banyak ditakuti oleh musuh (termasuk oleh syaitan) itu -tidaklah demikian. Beliau sangat memahami konsekuensi dari perjanjian yang kuat (mistsaqan ghalidzan) itu. Beliau pun menyadari akan kebaikan-kebaikan yang dilakukan isterinya dan mengedepankan kebaikan-kebaikan itu di atas kelemahan-kelemahan yang beliau miliki.

Alangkah baiknya, demi melanggengkan bahtera pernikahan, seorang suami selalu mengingati kebaikan-kebaikan isterinya. Tanpa kebaikan seorang isteri, bisa jadi nafkah yang diberikan setiap bulan oleh seorang suami rasanya tidak akan pernah cukup. Seorang suami harus menggaji orang untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga anak-anak, dan pekerjaan lainnya. Seorang suami juga harus menyediakan fasilitas rumah, pakaian, makanan, dan kebutuhan lain dari isteri secara layak dan memadai. Pendek kata, tugas isteri adalah berhias dan melayani kita dengan sebaik-baiknya, yang lain (terutama mencari nafkah untuk optimalisasi tugas isteri tersebut) adalah tugas dan tanggungjawab suami.

Jika seorang suami merasa belum bisa mencukupi kebutuhan isteri, lebih-lebih sang isteri harus membanting tulang membantu suami mencari nafkah, maka selayaknya ia harus berkaca dari kelemahannya itu demi menumbuhkan penghargaan terhadap sang isteri.

Tentu saja, sang isteri juga harus memahami bahwa apa yang dilakukan suami dalam rangka menunaikan kewajiban dalam menafkahi keluarganya sesuai dengan kemampuan optimal suami , senantiasa mensyukuri rizki yang telah Allah berikan . Ia tetap dianjurkan taat kepada suami demi mendapatkan keridhaan-Nya.

Semoga stp suami dan istri dapat mengoptimalkan perannya di hadapan Allah semata…

Akankah Kita Akan Mengamalkannya?

Oleh: Abu Faiz Makarim Al-Faruq

Nikah merupakan Sunnah para Nabi pada umumnya dan merupakan Sunnah Muthoharoh (yang suci dan mensucikan) yang dianjurkan dan dipraktekkan juga oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Selain itu Nikah juga merupakan jalan yang penting dan utama untuk mencapai kesucian diri, karena padanya ada benteng yang mampu membendung perkara-perkara yang diharamkan Alloh. Sehingga bagi seorang muslim dan muslimah proses dari awal sampai akhirnya pun haruslah sejalan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Oleh Karena itu hendaknya laki-laki atau perempuan yang hendak menikah terlebih dahulu mempertimbangkan keadaan agama pasangannya. Dengan melihat bagaimanakah sikap beragamanya taat atau lalai atau lebih jauh lagi tidak peduli agama. Karena ini merupakan dasar yang utama yang akan sangat mempengaruhi baik tidaknya sebuah rumah tangga. Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Dinikahi wanita itu (umumnya) karena 4 perkara: yaitu karena hartanya, karena nasabnya, karena cantiknya dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang baik beragama, niscaya engkau bahagia.” (Mutafaqun ‘Alaihi)

  1. I. Tata Cara Pelaksanaan Pernikahan dan Akad Nikah

Bentuk pelaksanaan akad nikah yang sekarang ada umumnya adalah kedua calon mempelai duduk bersama didepan penghulu kemudian kepala kedua mempelai ditutup dengan kain. Lalu petugas pencatat dari KUA membimbing pengantin laki-laki sebelum mengucapkan ‘Saya terima nikahnya fulan bin fulan’ dengan bacaan-bacaan seperti ucapan istighfar, sholawat, dan syahadat.

Pertanyaannya darimana dasar dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi sebelum mengucapkan qobul ‘Saya terima nikahnya fulan bin fulan’ seorang pengantin laki-laki itu harus ber-istighfar, bersholawat dan ber-syahadat dulu? dalam kitab hadits mana Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam melakukan praktek demikian serta kepala kedua calon mempelai harus ditutup kain?

Hal ini patut ditanyakan supaya kita terbangun dari tidur kita yang panjang ini, bahwa praktek-praktek seperti itu bukan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam, bahkan menutup kepala kedua mempelai ketika menikah kalau kita rajin mebaca sejarah, ternyata hal itu merupakan ciri khasnya orang-orang YAHUDI. Mungkin sebagian kita bertanya bukankah ber-istighfar, bersholawat dan ber-syahadat itu baik? kita katakan benar, akan tetapi menempatkan bacaan-bacaan tersebut pada waktu-waktu tersebut bukanlah kebaikan buktinya Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salami dan para shahabatnya tidak melakukannya, lalu apakah berani kita mengatakan bahwa Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya tidak tahu bahwa membaca bacaan-bacaan itu adalah suatu kebaikan jika dibaca sebelum ijab qobul?! Yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam cukuplah sang pengantin pria sendiri mengucapkan qobul dihadapan walinya dan saksinya walaupun tanpa keikutsertaan mempelai wanita karena pada saat itu kedua calon mempelai belum boleh bersentuhan apapun karena mereka masih bukan mahromnya. Oleh karena itu salah besar kalau mempelai wanita di dudukan bersama berdampingan dengan pengantin laki-lakinya karena pada saat itu mereka belum sah untuk saling bersentuhan, kecuali setelah beres ijab qobulnya. Maka bagi siapa saja yang ingin benar-benar mengikuti Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam hendaknya menjauhi hal itu. Termasuk kepada para petugas pencatat hendaknya mereka juga kembali membuka lembaran-lembaran sejarah bagaimana Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya melakukan proses yang skaral ini agar kita tidak melenceng dari cara-cara yang telah diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam, karena segala amalan yang keluar dari jalur yang telah dicontohkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam adalah amalan sia-sia saja. (HR. Muslim). Maukah acara sacral kita menjadi sia-sia dihadapan Alloh subhanahu wa Ta’ala?

  1. II. Tata Cara Walimatul Urusy/ Resepsi Pernikahan Dalam Ajaran Islam.

Walimah dianjurkan sekali meskipun dilaksanakan dengan sangat sederhana. Disebutkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam:

‘Adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing’. (Shahih Sunan Abu Daud no 1854)

  1. III. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan walimah/resepsi:
  2. 1. Para undangan pria dan wanita tidak bercampur baur

Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya, beliau tidak pernah mengumpulkan laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya dalam satu ruangan untuk saling bertatap muka dan bercengkerama. Bentuk pelaksanaannya bisa didua ruangankan atau ditempat yang besar lalu diberi pembatas dengan kain pembatas.

  1. 2. Tidak diperbolehkan adanya tarian-tarian yang diiringi alat-alat musik

Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam pernah berkata kepada ‘Aisyah ketika ‘Aisyah mengarak pengantin wanita untuk menemui pengantin laki-lakinya beliau berkata “Wahai ‘Aisyah kenapa kamu tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshor senang dengan hiburan. (HR. Bukhari 9/184-185, Al-Hakim 2/184, Baihaqi 7/288). Yaitu hiburan berupa nyanyian yang berisi nasihat yang baik tanpa disertai instrument musik orang-orang kafir (seperti biola, piano dsb). Yaitu nyanyian yang sederhana, yang hanya menggunakan tabuhan gendang dari kulit. Ini dilakukan untuk membedakan walimah dengan acara berkabung. Karena dalam acara berkabung tidak ada makan-makan dan lagu-lagu walaupun orang-orang sama-sama berkumpul.

  1. 3. Tidak ada contohnya mengadakan walimah lebih dari 3 hari

Ketika Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam menikahi Shofiyah, beliau mengadakan walimah selama 3 hari. (HR. Abu Ya’la hadis semakna terdapat juga dalam shahih Bukhari 7/387) hal ini pelaksanaannya tergantung kepada kesiapan finansial yang ada.

  1. 4. Hendaklah mengundang orang-orang yang shaleh, baik miskin ataupun kaya.

Sebagaimana wasiat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam

“Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali orang yang bertakwa”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam juga bersabda: “Makanan yang paling buruk adalah makanan dimana orang-orang kaya diundang makan sedangkan orang-orang miskin tidak diundang” (HR. Muslim)

  1. IV. Tuntunan Islam untuk para tamu undangan
  2. 1. Hendaknya para undangan mengetahui bahwa menghadiri undangan seseorang apapun bentuknya adalah WAJIB kecuali undangannya orang-orang kafir.

Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan walimah atau lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti dia telah bermaksiat kepada Alloh dan RosulNya”. (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, Ahmad 6337, Baihaqi 7/262)

Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat kemungkaran dan kemaksiatan seperti campur baurnya laki-laki dan perempuan yang notabenenya berpakaian membuka auratnya. Musik-musik yang diiringi tarian-tarian laki-laki dan perempuan, sanding party dsb. Diceritakan pada suatu kesempatan Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam diundang oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu Anhu beliau sempat masuk kedalam rumah, tetapi ketika dalam rumah terdapat tirai yang bergambar (makhluk bernyawa) maka beliau keluar dan bersabda:

“Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke suatu rumah yang didalamnya ada gambar”. (HR. Nasa’i, dan Ibnu Majah shahih lihat jami’us shahih mimma laisa fis shahihain syaikh Muqbil)

  1. 2. Memberikan hadiah kepada pengantin

Memberi hadiah sangat dianjurkan sekali oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam. Disebutkan dalam tarikh bahwa itu termasuk kebiasaan para shahabat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam. Yang diantara faidahnya adalah semakin menambah ‘kecintaan’ antar sesama.

  1. 3. Mendoakan pengantin

Abu Hurairah Radhiyallohu Anhu menyebutkan bahwa Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam jika mengucapkan selamat kepada mempelai beliau mengucapkan doa:

Baarakalloohu laka wa barokalloohu ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiir”.

Semoga keberkahan Alloh berikan kepadamu dan senantiasa tercurah atasmu, dan semoga Alloh mempersekutukan kalian berdua dalam kebaikan. (HR. Abu Daud 1/332 Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya)

Adapun ucapan “Semoga mempelai banyak rizki dan banyak anak” adalah ucapan yang dilarang dalam Islam, karena disebutkan dalam tarikh itu adalah ucapan orang-orang jahiliyyah zaman dulu.

Demikianlah tata cara pernikahan yang disyari’atkan oleh Alloh dan RosulNya, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelapangan bagi orang-orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dengan segala sesuatunya. Dan mudah-mudahan digolongkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kedalam firmanNya:

Yaitu orang-orang yagn berdoa: “Ya Robbi, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqon: 74)

  1. V. Dibawah ini adalah hal-hal yang bukan dari ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam:

  1. 1. Pacaran

Disinilah tempatnya setan melancarkan berbagai macam godaannya, mulai dari saling menatap, berpegangan sampai pada tingkat berzina, sehingga tak sedikit mereka yang membudidayakan produk setan ini, hamil diluar nikah. Naudzubillah semoga Alloh melindungi keluarga kita dari jeratan iblis ini.

  1. 2. Tunangan

Pertunangan biasanya dikenal dengan acara tukar cincin, dalam Islam ada istilah khitbah (meminang) sebagai bentuk keseriusan seorang laki-laki terhadap seorang perempuan yang dicintainya dengan menyatakan kepada sang wali. Dalam tahap ini pertunangan yang umumnya dilakukan hampir sama. Akan tetapi dalam prakteknya ada beberapa tradisi-tradisi orang-orang kafir yang sering dipakai oleh umat Islam ini seperti tukar cicin. Sebetulnya cukuplah bagi sang peminang untuk memberikan semacam hadiah tanpa harus dengan simbol cincin. Hal lain yang juga sangat disayangkan orang tua kedua belah pihak adalah mereka beranggapan bahwa, setelah dilamar kedua calon mempelai bebas melakukan apa saja, pikir mereka kalau hamilpun sudah jelas siapa orang yang akan bertanggung jawabnya! Naudzubillah padahal mereka masih bukan mahromnya, belum halal apapun yang ada pada wanitanya kecuali setelah ijab qobul selesai dilaksanakan. Dalam Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda “Kepada seseorang itu lebih baik ditusuk jarum besi daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya.(Al-Hadits).

  1. 3. Mensyaratkan mas kawin yang tinggi

Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Sebaik-baik mas kawin itu adalah yang paling murah (bagi laki-lakinya)”. (HR. Hakim dan Ibnu Majah)

  1. 4. Menghambur-hamburkan harta atau uang (untuk hal-hal yang tidak ada kebaikannya untuk dunia dan akhirat kita)

Diantara contohnya melangsungkan walimah selama 7 hari 7 malam, mereka beranggapan bahwa pernikahan hanya sekali seumur hidup jadi harus diramaikan dengan berbagai macam acara-acara, sehingga tak sedikit uangnya didapatkan dari hutan. Ini merupakan perakara yang tidak mulia dan bisa jadi haram. Alloh dan RasulNya tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan.

  1. 5. Kemusyrikan

Dalam menetapkan hari H-nya ada yang memberikan sesajen-sesajen agar mendapat restu dan kelancaran dari dewa-dewa atau roh-roh selain Allah Naudzubillah. Padahal mereka tahu bahwa melakukan kemusyrikan adalah dosa terbesar yang tidak ada ampun apabila meninggal sebelum bertobat. Dalam suasana yang sacral seperti ini (walimatul Ursy) biasanya para malaikat ikut hadir untuk meng-amin-kan doa-doa dan waktu itu pula termasuk waktu maqbulnya doa, namun dalam acara itu jika banyak penyimpangan dan hal-hal yang melanggar syari’at bagaimana mungkin malaikat rahmat akan hadir disana? Dan bagaimana doanya bisa dikabul? Apa jadinya rumah tangga yang akan dijalani kelak oleh pengantin tadi jika tidak adanya iringan doa-doa dan orang-orang yang hadir pada saat itu.

Inilah sebagian fenomena yang umumnya dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Apa-apa yang dijelaskan diatas bukanlah ajaran dari kelompok tertentu, tetapi demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya.

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin

Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan pahala kebaikan yang banyak (Q.S. An-Nisa’: 19)

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S. Ar-Ruum: 21)

Wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Alloh telah memelihara (mereka) (Q.S. An-Nisa’: 34)

Sejenak bersama wasiat-wasiat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam

Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya (HR. Tirmidzi)

Termasuk kebaikan dari wanita adalah, mudah melamarnya, ringan maharnya, dan subur kandungannya (HR. Ahmad dan yang lainnya)

Apabila datang kepadamu seorang pemuda yang engkau senangi akhlaq dan agamanya, maka kawinkanlah (dengan putrimu), jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Pesan nabi untuk para suami

Kamu beri makan bila kamu makan dan kamu beri pakaian bila kamu berpakaian –atau bila kamu memperolehnya- dan janganlah kamu memukul wajah, jangan kamu mejelek-jelekan…..(HR. Abu Daud)

Allah yg memilihkan dirimu untukku

egitulah Rasulullah Saw. Mengajarkan kepada umatnya ketika hendak mengambil keputusan untuk memilih sesuatu. Tidaklah akan merugi orang yang bermusyawarah dengan Allah dalam setiap urusannya. Pernikahan bukanlah sebuah permainan, sehingga pemilihan pendamping hidup tidak bisa dilakukan asal-asalan.

Sungguh indah rasanya jika Allah yang menentukan pilihan bagi kita dan menetapkan hati kita untuk memilihnya. Hati ini akan diselimuti ketentraman dan kemantapan, jauh dari keragu-raguan. Tapi sungguh tidak mudah juga ketika kita harus beristikharah, meminta kepada Allah memilihkan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita, dengan punuh kepasrahan dan mengikis subjektifitas pribadi. Manusia… sering hatinya terlalu keras untuk pasrah, dan dengan penuh keegoisan terpancing untuk memaksa Allah dengan sebuah permintaan, “Ya Allah, sungguh diri ini mencintainya dan berharap ia yang kau tetapkan bagiku.”

Maha kuasa Allah atas segala sesuatu, kehendak-Nya tidak dapat digagalkan oleh siapapun. Kekaguman luar biasa menghampiri diri ini ketika merenungkan hasil istikharah, yang mudah-mudahan dilakukan dengan penuh kepasrahan. Meski tidak melalui mimpi, diri ini yakin sepenuh hati bahwa kejadian-kejadian tak terduga yang Allah hadapkan merupakan hasilnya. Allah jauhkan yang satu, dan didekatkan-Nya yang lain, Allahu Akbar. Hingga akhirnya keputusan besarpun ditetapkan, untuk memilih pasangan jiwa…

Ya Rabbi, mudah-mudahan benar Engkau yang menetapkan hati ini untuk memilih dirinya…
Hingga jika ia bertanya “Mengapa engkau memilih ku?”, diri ini berani menjawab “Bukan aku yang memilih mu, tapi Allah yang memilihkan dirimu untuk ku.”

Pentingnya menyamakan visi dan misi sblm menikah

Sungguh tulisan ini dibuat diantara sayap-sayap kesadaran dan pengharapan.
Kesadaran bahwa akan ada sisi yang kurang menyenangkan dalam sebuah rumah tangga, seperti pertengkaran, salah pengertian dan berbagai konflik lainnya. Tapi pula ada pengharapan yang pula dirangkai dalam tiap doa agar impian ideal sebuah rumah tangga juga tetap terjaga, dan tak kemudian tunduk dalam sikap menyerah di tengah jalan.

Adalah sebuah kebahagiaan tentunya, memperoleh seorang pasangan yang tidak saja tampan secara lahiriah, tetapi juga tampan secara batiniah. Di saat-saat inilah mimpi-mimpi itu disusun. Tapi bukan mimpi yang hanya merupakan bunga tidur, yang kemudian hilang disaat terbangun. Mimpi yang dimaksudkan tentu saja mimpi yang melahirkan tekad kuat untuk terus bekerja keras mewujudkannya.

Dialog-dialog di masa ta’aruf seusai khitbah inilah yang ingin dimanfaatkan untuk memulai sebuah rancangan bersama tentang bentuk keluarga yang ingin diwujudkan di masa mendatang. Komitmen hingga Memorandum of Understanding antara kedua pasangan dibuat diatas sebuah kesadaran bahwa akan ada kondisi-kondisi yang membutuhkan kesabaran lebih dari keduanya untuk mampu dilewati, disamping tentu saja ada masa-masa romantis yang dapat dinikmati sebagai sebuah berkah dan anugerah dari Allah Azza wa Jalla.

Sebuah biduk yang telah ditetapkan waktu berlayarnya, haruslah mulai mempersiapkan peta dan bekal hingga bisa sampai di tujuan. Sebagaimana layaknya sebuah perjalanan, tak selamanya gelombang samudera yang diarungi tenang bersahabat. Akan ada pula badai, yang mungkin dahsyat dan terkadang di luar kemampuan akal untuk menembusnya. Tapi sebagaimana pula badai, ia pasti akan berlalu bersama dengan variabel waktu yang menyertainya.

Nahkoda dan awaknya yang kemudian menjadi penentu apakah biduk ini akan pecah belah terhempas gelombang dahsyat, atau ia akan bertemu pulau nan indah di akhir perjalanannya, disamping tentu saja, penyerahan diri secara utuh kepada Sang Penguasa Diri dan Badai

Visi keluarga bukanlah sesuatu yang bisa diciptakan serta merta. Tapi bukan pula sesuatu yang tidak pernah ada blue print-nya.

Begitu sarat dan kaya sudah Rasulullah saw dan para istrinya memberikan teladan. Tinggal bagaimana kita mengambil saripati-saripatinya dan memasukkannya ke dalam mangkuk-mangkuk bekal yang akan menjadi energi kita dalam mengarungi perjalanan nanti.

Ada mimpi bahwa tiap sudut rumah dan hati keluarga besar kita selalu terhiasi dengan alunan ayat suci yang menggugah karena maknanya mampu dipahami. Pemahaman ini juga mestilah dibangun dengan sebuah tradisi ilmu yang harus ada pada point penting komitmen awal rumah tangga kita.

Tentu, ada keyakinan di hati kita, bahwa keluarga yang mencintai Allah SWT saja yang akan dicintai Allah. Keyakinan lain yang harus dibangun bersama-sama dengan keyakinan ini adalah keyakinan bahwa cinta yang hadir diantara kita adalah benar-benar cinta karenaNya dan untukNya. Sehingga setiap pesan pendek “Uhibukk Fillah” itu benar-benar mampu mengingatkan kita bahwa Allah-lah yang menghadirkan cinta itu dihati kita, dan padaNya saja kita harus mensyukuri cinta itu.

Visi / kerangka hidup berkeluarga didasari oleh AQIDAH , BERSYARIAT ISLAM yg dicontohkan oleh ROSULULLAH . Misi berkeluarga adalah menjadikan keluarga menjadi miniatur negara untuk menegakkan ad-Dien

Kutitipkan diri ini, dirimu, keluargaku dan keluargamu pada Allah semata. Semoga Dia mempermudah langkah kita menjadikan keluarga ini menjadi pemimpin dan teladan bagi orang-orang shaleh, sebagaimana redaksi doa yang sering kita panjatkan dalam kerinduan selama ini :

Robbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurrata a’iun, wajalna lil muttaqina imama

Khotbah nikah

Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani qs

Pernikahan adalah salah satu perintah Tuhan, dan ini merupakan jalan para anbiya, termasuk manusia pertama, Adam (as) dan wanita pertama, Hawa (ra). Mereka melangsungkan pernikahannya di Surga, oleh sebab itu Allah (swt) memberikan suatu Wewangian Surgawi kepada setiap pasangan yang melangsungkan pernikahan agar mereka bahagia. Tetapi mereka sendiri harus menjaga wewangian itu sepanjang hidupnya, ini sangat penting. Dan sekarang kita memohon kepada Allah (swt) untuk melestarikan wewangian tadi bagi mereka berdua sepanjang hidupnya di dunia, dan kita berharap agar mereka akan bersatu di akhirat kelak, dalam kehidupan yang kekal. Itulah makna dari pelaksanaan upacara pernikahan bagi sepasang pengantin baru.

Kita bersyukur kepada Tuhan kita, yang menciptakan pria dan wanita, dan mengaruniai mereka dari Cinta Ilahiah-Nya. Jika Dia tidak menganugerahkan Cinta Ilahiah-Nya, tak seorang pun akan menemukan jodohnya. Dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan yang mulia, dengan menjadikan orang saling berpasangan, bukannya satu wanita untuk semua pria atau seorang pria bagi seluruh wanita.

Suatu kehormatan bagi wanita, bahwa ia hanya diperuntukkan bagi seorang pria dan sebaliknya seorang pria hanya untuk seorang wanita. Itu merupakan suatu kemuliaan bagi mereka dalam kehidupan ini. Siapapun yang melanggar aturan tersebut, Allah (swt) tidak akan menyebut mereka sebagai orang yang terhormat. Oleh sebab itu kita memegang teguh upacara yang mulia ini, dan kita memohon kepada Allah (swt) agar mereka berhasil dalam menjalani kehidupan mereka bersama.

Para wanita hanya boleh memandang suaminya. Jika kalian ditanya, “Siapakah orang yang paling tampan di dunia?” Kalian harus menjawab bahwa suami kalianlah yang paling tampan. Begitu pula dengan para pria, siapakah orang tercantik di London? Istri kalian. Jika masing-masing melihat pada pasangannya, takkan ada lagi masalah, baik di London, di Inggris, di Turki, di Siprus, di Timur dan di Barat.

Ini adalah nasihat yang paling penting bagi pasangan yang baru menikah. Saya mendengar bahwa banyak pasangan yang mendaftarkan diri melalui petugas KUA. Setelah tiga hari, tiga minggu, tiga bulan, atau tiga tahun, keduanya menjalani jalan yang berbeda, karena mereka melihat (pada orang lain), yang wanita melihat pria lain; yang pria melihat wanita lain. Kalau demikian, pernikahan mereka tidak akan berusia panjang.

Sekarang kalian tengah membangun suatu ‘gedung’ baru, melangsungkan sebuah pernikahan, dan kita memohon kepada Allah (swt) untuk membuat kalian saling mencintai satu sama lain.

==00==

Kalian harus tahu, kalian semua: Jangan menyakiti hati istri kalian, jangan menyakiti hati istri kalian! Buatlah (suasana) agar mereka senantiasa bahagia dengan kalian; kalau tidak, ketika kalian datang, mereka akan pergi. Mengerti? Jagalah agar mereka tetap bahagia. Dengan demikan mereka pun akan berusaha membuat kalian bahagia.

Bawakan dia beberapa perhiasan (emas), seperti ini, seperti itu, sehingga dia akan senang denganmu. Lakukanlah selalu; ketika istrimu marah kepadamu, bawakanlah sesuatu yang disukainya.

==00==

Wanita sangat beruntung, di dunia dan di akhirat kelak. Mengapa? Karena tidak ada pertanyaan bagi mereka.

Pada Hari Kebangkitan, setiap wanita akan datang bersama suaminya dan ketika sang suami masuk surga, istrinya pun akan masuk bersamanya. Tak ada pertanyaan bagi mereka. Tetapi kalian—para pria—akan mendapat begitu banyak pertanyaan.

Kalian mengerti? Tunjukkan paspor kalian di depan pintu surga, masuklah, dan istri kalian akan masuk bersama kalian. “Ini istrimu?” Allah ‘Azza wa Jalla akan bertanya pada kalian. Kalian akan menjawab, “Ya.” “Kamu bahagia bersamanya?” Jika kalian menjawab, “Ya”; Allah (swt) akan berkata, “Bawa dia masuk ke dalam surga.”

Tetapi jika kalian berkata, “Ya Tuhanku, Aku tidak pernah puas dengannya. Dia terlalu banyak bicara!” Lalu Allah (swt) akan berkata, “Stop! Berdiri! Mengapa kamu tidak bahagia dengannya? Dia adalah hijab antara dirimu dengan neraka. Jika dia tidak bersamamu, kamu pasti sudah tergelincir ke jurang neraka. Oleh sebab itu mereka semua lebih berharga daripada kalian.”

Ya, karena jika istri kalian tidak melayani kalian sebagai hijab, kita semua akan terjerumus ke dalam neraka, tak seorang pun yang akan mengeluarkan kita, kecuali isteri kita, tempat berlindung kita. Jadi di siang hari, ketika kalian hendak berangkat kerja, raihlah tangan istrimu (Syaikh Nazim ق menunjukkan gerakan mencium tangan), begitu pula di malam hari. Kalian harus memperlakukan istri kalian dengan lembut. Ya, hal ini adalah benar, mutlak, pasti dan bahkan sangat benar.

Oleh sebab itu kalian harus menjaga hak-hak mereka. Kalian, para pria suka melakukan kekejaman terhadap wanita dan tidak mempedulikan hak-hak mereka. Setiap orang harus menjaga hak-hak mereka (wanita). Allah (swt) akan bertanya, “Mengapa kalian tidak merasa puas terhadap istri kalian? Apa masalahnya, karena dia adalah yang menjadi hijab antara kalian dengan neraka, apakah dia tidak menjaga rumahmu? Apakah dia tidak memasak? Tidak mencuci? Tidak merawat anak-anak? Tidak bersih-bersih?” Allah (swt) akan bertanya.

Tidak ada kewajiban bagi wanita untuk melakukan suatu pekerjaan. (Menurut syariah Islam, sebenarnya pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak merupakan tugas pria atau suami. Jika istri tidak sanggup atau tidak ingin merawat anaknya, maka si suami bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi anaknya. Namun karena sudah menjadi kebiasaan, maka istrilah yang mengerjakan hal-hal tersebut. Syaikh Nazim (qs) mengatakan bahwa pria harus bersikap lebih apresiatif, arif dan menolong bukannya memanfaatkan istrinya untuk mengurus rumah dan merawat anaknya.) Kalian (pria) harus melakukannya: mencuci, bersih-bersih, dan merawat anak-anak. Dalam syariah, Allah (swt) bahkan tidak memerintahkan wanita untuk memberikan susu kepada anak-anak kalian. Itu termasuk tanggung jawab kalian, wahai pria. Kalian harus menyediakannya (susu), kalian harus membayarnya.

Kalian memberi bayaran pada wanita? Untuk setiap bayi yang dia lahirkan, kalian harus membawakan rantai emas (perhiasan) untuk istrimu. Ya, ketika dia memberikan susunya kepada si bayi, kalian harus membayarnya, bukannya mengatakan, “Kamu dapat melakukannya, kamu bisa menemukan seseorang untuk memberi susu kepada bayimu.”

Jangan menyuruhnya untuk bekerja! Dia hanyalah sebagai hijab antara kamu dengan hal-hal yang haram, itulah tugasnya. Segalanya berada di pundak pria, tetapi mereka (wanita) mau melakukannya… karena mereka bersyukur kepada kita, mereka melakukannya dengan sukarela. Apakah kamu sekali-sekali pernah mencuci?

Sumber: Mercy Oceans Towards the Divine Presence

Aku tetap mencintaimu meskipun…

July 15, 2009 by nitafitria

love

Kebanyakan suami, di seluruh dunia manapun, tidak pernah merasa benar-benar puas dengan pasangan hidupnya. Ketika mendapati beberapa kekurangan pada istrinya, seringkali suami mengangankan untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik. Sudah sunatullah bahwa tidak ada satu mahkluk pun di dunia ini yang sempurna.

Sekalipun kriteria seorang istri sudah memuaskan, pasti ada orang lain yang lebih baik darinya pada beberapa hal tertentu. Oleh karenanya, Allah melarang kita bersikap tidak pernah puas dan memandang pasangan orang lain. Allah berfirman :

“Janganlah sekali-kali kamu mengarahkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir) dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (Al Hijr : 88)

Ketidakpuasan terhadap pasangan hidup adalah penyebab utama munculnya problematika rumah tangga. Kebahagiaan suami istri semakin menipis seiring semakin minimnya rasa puas terhadap pasangan hidupnya. Bahkan, boleh jadi hal itu menyebabkan kesengsaraan, perceraian, dan perlakuan buruk.

Selain manusia memiliki perbedaan dalam hal bentuk, tinggi, berat, akal, harta, keindahan dan wawasan, setiap pasangan memiliki sifat-sifat positif dan sejumlah sisi negatif lainnya.

Meskipun pasangan hidup memiliki sifat-sifat yang memuaskan, seiring berjalannya waktu, hal itu akan menjadi biasa-biasa saja atau tidak menarik lagi. Lantas, suami akan mengangankan, andai saja istrinya memiliki sifat positip yang dimiliki orang lain dan tidak ia lihat pada istrinya. Dari sinilah kesengsaraan dan permasalahan rumah tangga bermula.

Andai manusia puas dengan pasangan yang diberikan Allah, setelah ia berusaha keras, mulai dari istikharah, meminta pandangan orang lain, cermat memilih, memperjelas tujuan, waspada dan tidak tergesa-gesa, tentunya ia akan hidup lebih bahagia dan menyelamatkan dirinya dan orang lain dari kesusahan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezki, dan diberi rasa puas dengan apa yang diberikan Allah.” (HR. Muslim).

Keislaman, rezki yang cukup, dan rasa qana’ah adalah sarana mencapai kebahagiaan, keberuntungan dan keselamatan.

Umar bin Khaththab ra pernah mencela seseorang yang ingin menceraikan istrinya karena sudah tidak mencintainya lagi.

“Celakalah kamu! Apakah semua rumah tangga dibangun atas dasar cinta semata? Ke mana rasa sungkan, malu, dan perlindunganmu terhadap pasangan hidupmu?”

Semakin puas seseorang terhadap pasangan hidupnya, semakin besar kebahagiaan mereka dan semakin sedikit problem rumah tangga mereka. Faktor utama yang dapat menyebabkan penerimaan terhadap pasangan hidupnya adalah saling melihat pasangan hidup sebelum melangsungkan pernikahan dan memilih pasangan hidupnya tanpa ada paksaan dari orang lain.

Buka mata anda lebar-lebar sebelum menikah dan bukalah sedikit saja setelahnya. Karena aku masih tetap mencintaimu bukan karena ….., tetapi aku masih tetap mencintaimu meskipun……….

Proses Syar’i Sebuah Pernikahan

posted in Munakahat & Keluarga |

Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah “membeli kucing dalam karung” sebagaimana sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab. Bukan “coba dulu baru beli” kemudian “habis manis sepah dibuang”, sebagaimana jamaknya pacaran kawula muda di masa sekarang.

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Berikut ini kami bawakan perinciannya:

1. Mengenal calon pasangan hidup

Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, tentunya ia harus mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si wanita tahu siapa lelaki yang berhasrat menikahinya. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak seperti yang dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga mereka menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan pertunangan haram hukumnya tanpa kita sangsikan.

Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.

Yang perlu menjadi perhatian, hendaknya hal-hal yang bisa menjatuhkan kepada fitnah (godaan setan) dihindari kedua belah pihak seperti bermudah-mudahan melakukan hubungan telepon, sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin ta’aruf (kenal-mengenal) dengan calon suami/istri. Jangankan baru ta’aruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari fitnah. Karenanya, ketika Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang pembicaraan melalui telepon antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah dipinangnya, beliau menjawab, “Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah diterima dan pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara wali si wanita maka lebih baik lagi dan lebih jauh dari keraguan/fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung pelamaran di antara mereka, namun tujuannya untuk saling mengenal, sebagaimana yang mereka istilahkan, maka ini mungkar, haram, bisa mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan ucapkanlah ucapan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab: 32)

Seorang wanita tidak sepantasnya berbicara dengan laki-laki ajnabi kecuali bila ada kebutuhan dengan mengucapkan perkataan yang ma’ruf, tidak ada fitnah di dalamnya dan tidak ada keraguan (yang membuatnya dituduh macam-macam).” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan 3/163-164)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan

Ada beberapa hal yang disenangi bagi laki-laki untuk memerhatikannya:

Wanita itu shalihah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada, pent.) dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Wanita itu subur rahimnya. Tentunya bisa diketahui dengan melihat ibu atau saudara perempuannya yang telah menikah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ

“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain pada kiamat dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. An-Nasa`i no. 3227, Abu Dawud no. 1789, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 1784)

Wanita tersebut masih gadis1, yang dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ketika memberitakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia telah menikah dengan seorang janda, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَهَلاَّ جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ؟

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa mengajaknya bermain dan dia bisa mengajakmu bermain?!”

Namun ketika Jabir mengemukakan alasannya, bahwa ia memiliki banyak saudara perempuan yang masih belia, sehingga ia enggan mendatangkan di tengah mereka perempuan yang sama mudanya dengan mereka sehingga tak bisa mengurusi mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya, “Benar apa yang engkau lakukan.” (HR. Al-Bukhari no. 5080, 4052 dan Muslim no. 3622, 3624)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيْرِ

“Hendaklah kalian menikah dengan para gadis karena mereka lebih segar mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 623)

2. Nazhar (melihat calon pasangan hidup)

Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghibahkan dirinya. Si wanita berkata:

ياَ رَسُوْلَ اللهِ، جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي. فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ النَّظَرَ فِيْهَا وَصَوَّبَهُ، ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رًأْسَهُ

“Wahai Rasulullah! Aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat ke arah wanita tersebut. Beliau mengangkat dan menurunkan pandangannya kepada si wanita. Kemudian beliau menundukkan kepalanya. (HR. Al-Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472)

Hadits ini menunjukkan bila seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita maka dituntunkan baginya untuk terlebih dahulu melihat calonnya tersebut dan mengamatinya. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/215-216)

Oleh karena itu, ketika seorang sahabat ingin menikahi wanita Anshar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatinya:

انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ الْأَنْصَارِ شَيْئًا، يَعْنِي الصِّغَرَ

“Lihatlah wanita tersebut, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu.” Yang beliau maksudkan adalah mata mereka kecil. (HR. Muslim no. 3470 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu meminang seorang wanita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” “Belum,” jawab Al-Mughirah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

“Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua (kelak).” (HR. An-Nasa`i no. 3235, At-Tirmidzi no.1087. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 96)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata, “Dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu: “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” ada dalil bahwa sunnah hukumnya ia melihat si wanita sebelum khitbah (pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia membatalkan khitbahnya karena setelah nazhar ternyata ia tidak menyenangi si wanita.” (Syarhus Sunnah 9/18)

Bila nazhar dilakukan setelah khitbah, bisa jadi dengan khitbah tersebut si wanita merasa si lelaki pasti akan menikahinya. Padahal mungkin ketika si lelaki melihatnya ternyata tidak menarik hatinya lalu membatalkan lamarannya, hingga akhirnya si wanita kecewa dan sakit hati. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214)

Sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku meminang seorang wanita, maka aku bersembunyi untuk mengintainya hingga aku dapat melihatnya di sebuah pohon kurmanya.” Maka ada yang bertanya kepada Muhammad, “Apakah engkau melakukan hal seperti ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Kata Muhammad, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَلْقَى اللهُ فيِ قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ، فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا

“Apabila Allah melemparkan di hati seorang lelaki (niat) untuk meminang seorang wanita maka tidak apa-apa baginya melihat wanita tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 1864, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibni Majah dan Ash-Shahihah no. 98)

Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, “Boleh melihat wanita yang ingin dinikahi walaupun si wanita tidak mengetahuinya ataupun tidak menyadarinya.” Dalil dari hal ini sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً، فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ لاَ تَعْلَمُ

‘Apabila seorang dari kalian ingin meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa baginya melihat si wanita apabila memang tujuan melihatnya untuk meminangnya, walaupun si wanita tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat).” (HR. Ath-Thahawi, Ahmad 5/424 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/52/1/898, dengan sanad yang shahih, lihat Ash-Shahihah 1/200)

Pembolehan melihat wanita yang hendak dilamar walaupun tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinnya ini merupakan pendapat yang dipegangi jumhur ulama.

Adapun Al-Imam Malik rahimahullahu dalam satu riwayat darinya menyatakan, “Aku tidak menyukai bila si wanita dilihat dalam keadaan ia tidak tahu karena khawatir pandangan kepada si wanita terarah kepada aurat.” Dan dinukilkan dari sekelompok ahlul ilmi bahwasanya tidak boleh melihat wanita yang dipinang sebelum dilangsungkannya akad karena si wanita masih belum jadi istrinya. (Al-Hawil Kabir 9/35, Syarhul Ma’anil Atsar 2/372, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 9/214, Fathul Bari 9/158)

Haramnya berduaan dan bersepi-sepi tanpa mahram ketika nazhar

Sebagai catatan yang harus menjadi perhatian bahwa ketika nazhar tidak boleh lelaki tersebut berduaan saja dan bersepi-sepi tanpa mahram (berkhalwat) dengan si wanita. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)

Karenanya si wanita harus ditemani oleh salah seorang mahramnya, baik saudara laki-laki atau ayahnya. (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)

Bila sekiranya tidak memungkinkan baginya melihat wanita yang ingin dipinang, boleh ia mengutus seorang wanita yang tepercaya guna melihat/mengamati wanita yang ingin dipinang untuk kemudian disampaikan kepadanya. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar, Ibnul Qaththan Al-Fasi hal. 394, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/280)

Batasan yang boleh dilihat dari seorang wanita

Ketika nazhar, boleh melihat si wanita pada bagian tubuh yang biasa tampak di depan mahramnya. Bagian ini biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya, seperti wajah, dua telapak tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki dan semisalnya. Karena adanya hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَي مَا يَدْعُوهُ إِلىَ نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Bila seorang dari kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat dari si wanita apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud no. 2082 dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 99)

Di samping itu, dilihat dari adat kebiasaan masyarakat, melihat bagian-bagian itu bukanlah sesuatu yang dianggap memberatkan atau aib. Juga dilihat dari pengamalan yang ada pada para sahabat. Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ketika melamar seorang perempuan, ia pun bersembunyi untuk melihatnya hingga ia dapat melihat apa yang mendorongnya untuk menikahi si gadis, karena mengamalkan hadits tersebut. Demikian juga Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana telah disinggung di atas. Sehingga cukuplah hadits-hadits ini dan pemahaman sahabat sebagai hujjah untuk membolehkan seorang lelaki untuk melihat lebih dari sekadar wajah dan dua telapak tangan2.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, “Sisi kebolehan melihat bagian tubuh si wanita yang biasa tampak adalah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan melihat wanita yang hendak dipinang dengan tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian diketahui bahwa beliau mengizinkan melihat bagian tubuh si wanita yang memang biasa terlihat karena tidak mungkin yang dibolehkan hanya melihat wajah saja padahal ketika itu tampak pula bagian tubuhnya yang lain, tidak hanya wajahnya. Karena bagian tubuh tersebut memang biasa terlihat. Dengan demikian dibolehkan melihatnya sebagaimana dibolehkan melihat wajah. Dan juga karena si wanita boleh dilihat dengan perintah penetap syariat berarti dibolehkan melihat bagian tubuhnya sebagaimana yang dibolehkan kepada mahram-mahram si wanita.” (Al-Mughni, fashl Ibahatun Nazhar Ila Wajhil Makhthubah)

Memang dalam masalah batasan yang boleh dilihat ketika nazhar ini didapatkan adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama3.

3. Khithbah (peminangan)

Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya.

Apabila seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah terlebih dahulu dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram baginya meminang wanita tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَنْكِحَ أَوْ يَتْرُكَ

“Tidak boleh seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya itu menikahi si wanita atau meninggalkannya (membatalkan pinangannya).” (HR. Al-Bukhari no. 5144)

Dalam riwayat Muslim (no. 3449) disebutkan:

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، فَلاَ يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلاَ يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَذَرَ

“Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Maka tidaklah halal baginya menawar barang yang telah dibeli oleh saudaranya dan tidak halal pula baginya meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya meninggalkan pinangannya (membatalkan).”

Perkara ini merugikan peminang yang pertama, di mana bisa jadi pihak wanita meminta pembatalan pinangannya disebabkan si wanita lebih menyukai peminang kedua. Akibatnya, terjadi permusuhan di antara sesama muslim dan pelanggaran hak. Bila peminang pertama ternyata ditolak atau peminang pertama mengizinkan peminang kedua untuk melamar si wanita, atau peminang pertama membatalkan pinangannya maka boleh bagi peminang kedua untuk maju. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/282)

Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)

Jangankan duduk bicara berduaan, bahkan ditemani mahram si wanita pun masih dapat mendatangkan fitnah. Karenanya, ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai fatwa tentang seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita, kemudian di hari-hari setelah peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya dengan didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syar’i. Berbincanglah si lelaki dengan si wanita. Namun pembicaraan mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-Qur`an. Lalu apa jawaban Syaikh rahimahullahu? Beliau ternyata berfatwa, “Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena, perasaan pria bahwa wanita yang duduk bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat. Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah haram. Sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, hukumnya haram pula.” (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)

Yang perlu diperhatikan oleh wali

Ketika wali si wanita didatangi oleh lelaki yang hendak meminang si wanita atau ia hendak menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, seharusnya ia memerhatikan perkara berikut ini:

Memilihkan suami yang shalih dan bertakwa. Bila yang datang kepadanya lelaki yang demikian dan si wanita yang di bawah perwaliannya juga menyetujui maka hendaknya ia menikahkannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak boleh memaksanya.

Persetujuan seorang gadis adalah dengan diamnya karena biasanya ia malu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana izinnya seorang gadis?” “Izinnya dengan ia diam,” jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458)

4. Akad nikah

Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.

Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: “Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”

Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: “Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”

Sebelum dilangsungkannya akad nikah, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah yang dikenal dengan khutbatun nikah atau khutbatul hajah. Lafadznya sebagai berikut:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: ١٠٢)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. (النساء: ١)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. (الأحزاب: ٧٠-٧١)

5. Walimatul ‘urs

Melangsungkan walimah ‘urs hukumnya sunnah menurut sebagian besar ahlul ilmi, menyelisihi pendapat sebagian mereka yang mengatakan wajib, karena adanya perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu ketika mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya telah menikah:

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Selenggarakanlah walimah walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing4.” (HR. Al-Bukhari no. 5167 dan Muslim no. 3475)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya seperti dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

مَا أَوْلَمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلىَ شَيْءٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلىَ زَيْنَبَ، أَوْلَمَ بِشَاةٍ

“Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan Zainab. Beliau menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab.” (HR. Al-Bukhari no. 5168 dan Muslim no. 3489)

Walimah bisa dilakukan kapan saja. Bisa setelah dilangsungkannya akad nikah dan bisa pula ditunda beberapa waktu sampai berakhirnya hari-hari pengantin baru. Namun disenangi tiga hari setelah dukhul, karena demikian yang dinukilkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha dan beliau jadikan kemerdekaan Shafiyyah sebagai maharnya. Beliau mengadakan walimah tiga hari kemudian.” (Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 74: “Diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Fathul Bari (9/199) dan ada dalam Shahih Al-Bukhari secara makna.”)

Hendaklah yang diundang dalam acara walimah tersebut orang-orang yang shalih, tanpa memandang dia orang kaya atau orang miskin. Karena kalau yang dipentingkan hanya orang kaya sementara orang miskinnya tidak diundang, maka makanan walimah tersebut teranggap sejelek-jelek makanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ، يُدْعَى إِلَيْهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِيْنُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana yang diundang dalam walimah tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Al-Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507)

Pada hari pernikahan ini disunnahkan menabuh duff (sejenis rebana kecil, tanpa keping logam di sekelilingnya -yang menimbulkan suara gemerincing-, ed.) dalam rangka mengumumkan kepada khalayak akan adanya pernikahan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ

“Pemisah antara apa yang halal dan yang haram adalah duff dan shaut (suara) dalam pernikahan.” (HR. An-Nasa`i no. 3369, Ibnu Majah no. 1896. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1994)

Adapun makna shaut di sini adalah pengumuman pernikahan, lantangnya suara dan penyebutan/pembicaraan tentang pernikahan tersebut di tengah manusia. (Syarhus Sunnah 9/47,48)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menyebutkan satu bab dalam Shahih-nya, “Menabuh duff dalam acara pernikahan dan walimah” dan membawakan hadits Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha yang mengisahkan kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pernikahannya. Ketika itu anak-anak perempuan memukul duff sembari merangkai kata-kata menyenandungkan pujian untuk bapak-bapak mereka yang terbunuh dalam perang Badr, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya. (HR. Al-Bukhari no. 5148)

Dalam acara pernikahan ini tidak boleh memutar nyanyian-nyanyian atau memainkan alat-alat musik, karena semua itu hukumnya haram.

Disunnahkan bagi yang menghadiri sebuah pernikahan untuk mendoakan kedua mempelai dengan dalil hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّّ صلى الله عليه وسلم كاَنَ إِذَا رَفَّأَ اْلإِنْسَاَن، إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendoakan seseorang yang menikah, beliau mengatakan: ‘Semoga Allah memberkahi untukmu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1091, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

6. Setelah akad

Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita, lalu ia ingin masuk menemui istrinya maka disenangi baginya untuk melakukan beberapa perkara berikut ini:

Pertama: Bersiwak terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya karena dikhawatirkan tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya. Demikian pula si istri, hendaknya melakukan yang sama. Hal ini lebih mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersiwak bila hendak masuk rumah menemui istrinya, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Muslim no. 590).

Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya sebagaimana akan disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal memberinya segelas minuman ataupun yang semisalnya berdasarkan hadits Asma` bintu Yazid bin As-Sakan radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendandani Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dipertemukan dengan suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah selesai aku memanggil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di samping Aisyah. Lalu didatangkan kepada beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian memberikannya kepada Aisyah yang menunduk malu.” Asma` pun menegur Aisyah, “Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah pun mengambilnya dan meminum sedikit dari susu tersebut.” (HR. Ahmad, 6/438, 452, 458 secara panjang dan secara ringkas dengan dua sanad yang saling menguatkan, lihat Adabuz Zafaf, hal. 20)

Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya) sembari mendoakannya, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيُسَمِّ اللهَ عز وجل وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ وَلْيَقُلْ: اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendoakan keberkahan dan mengatakan: ‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya’.” (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Kelima: Ahlul ‘ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan mendoakan istrinya disenangi baginya untuk shalat dua rakaat bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Sa’id maula Abu Usaid Malik bin Rabi’ah Al-Anshari. Ia berkata: “Aku menikah dalam keadaan aku berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara mereka ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum. Lalu ditegakkan shalat, majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju. Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang seharusnya demikian. Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan mengatakan, “Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya. Seterusnya, urusanmu dengan istrimu.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal. 23, “Sanadnya shahih sampai ke Abu Sa’id”).

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Footnote:

1 Namun bukan berarti janda terlarang baginya, karena dari keterangan di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperkenankan Jabir radhiyallahu ‘anhu memperistri seorang janda. Juga, semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dinikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.

2 Faedah: Kisah Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menyingkap dua betis Ummu Kultsum bintu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang hendak dinikahinya, adalah kisah yang dhaif (lemah), pada sanadnya ada irsal dan inqitha’. (Adh-Dha’ifah, ketika membahas hadits no. 1273)

3 Bahkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu sampai memiliki beberapa riwayat dalam masalah ini, di antaranya:

Pertama: Yang boleh dilihat hanya wajah si wanita saja.

Kedua: Wajah dan dua telapak tangan. Sebagaimana pendapat ini juga dipegangi oleh Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah.

Ketiga: Boleh dilihat bagian tubuhnya yang biasa tampak di depan mahramnya dan bagian ini biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya seperti wajah, dua telapak tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki, dan semisalnya. Tidak boleh dilihat bagian tubuhnya yang biasanya tertutup seperti bagian dada, punggung, dan semisal keduanya.

Keempat: Seluruh tubuhnya boleh dilihat, selain dua kemaluannya. Dinukilkan pendapat ini dari Dawud Azh-Zhahiri.

Kelima: Boleh melihat seluruh tubuhnya tanpa pengecualian. Pendapat ini dipegangi pula oleh Ibnu Hazm dan dicondongi oleh Ibnu Baththal serta dinukilkan juga dari Dawud Azh-Zhahiri.

PERHATIAN: Tentang pendapat Dawud Azh-Zhahiri di atas, Al-Imam An-Nawawi berkata bahwa pendapat tersebut adalah suatu kesalahan yang nyata, yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah. Ibnul Qaththan menyatakan: “Ada pun sau`atan (yakni qubul dan dubur) tidak perlu dikaji lagi bahwa keduanya tidak boleh dilihat. Apa yang disebutkan bahwa Dawud membolehkan melihat kemaluan, saya sendiri tidak pernah melihat pendapatnya secara langsung dalam buku murid-muridnya. Itu hanya sekedar nukilan dari Abu Hamid Al-Isfirayini. Dan telah saya kemukakan dalil-dalil yang melarang melihat aurat.”

Sulaiman At-Taimi berkata: “Bila engkau mengambil rukhshah (pendapat yang ringan) dari setiap orang alim, akan terkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.”

Ibnu Abdilbarr berkata mengomentari ucapan Sulaiman At-Taimi di atas: “Ini adalah ijma’ (kesepakatan ulama), aku tidak mengetahui adanya perbedaan dalam hal ini.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 359)

Selain itu ada pula pendapat berikutnya yang bukan merupakan pendapat Al-Imam Ahmad:

Keenam: Boleh melihat wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kaki si wanita, demikian pendapat Abu Hanifah dalam satu riwayat darinya.

Ketujuh: Boleh dilihat dari si wanita sampai ke tempat-tempat daging pada tubuhnya, demikian kata Al-Auza’i. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar hal. 392,393, Fiqhun Nazhar hal. 77,78)

Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyatakan bahwa riwayat yang ketiga lebih mendekati zahir hadits dan mencocoki apa yang dilakukan oleh para sahabat. (Ash-Shahihah, membahas hadits no. 99)

4 Bagi orang yang punya kelapangan tentunya, sehingga jangan dipahami bahwa walimah harus dengan memotong kambing. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. (Syarhus Sunnah 9/135)

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walimah atas pernikahannya dengan Shafiyyah, yang terhidang hanyalah makanan yang terbuat dari tepung dicampur dengan minyak samin dan keju (HR. Al-Bukhari no. 5169).

Sehingga hal ini menunjukkan boleh walimah tanpa memotong sembelihan. Wallahu ‘alam bish-shawab.

(Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. IV/No. 39/1429H/2008, kategori: Kajian Utama, hal. 15-22, 27. Dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=632)

// <![CDATA[//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: